Kebetulan di Sekitar Kita
Wednesday, February 03, 2016


Kebetulan…
Kata yang amat sering kita dengar, ucapkan bahka dialami. Saya termasuk orang yang percaya dengan kebetulan.. beberapa momen penting saya sangat dekat sekali dengan namanya kebetulan. Saya dari dulu punya pendapat, jalan hidup kita dibentuk dari berbagai momen yang kita sebut sebagai kebetulan-kebetulan kecil. Ada yang menyebutnya sebagai takdir ada yang menyebutnya sebagai kebetulan belaka.
Fragmen-fragmen dalam kehidupan kita membentuk kita menjalani sebuah kehidupan yang kita jalani tiap harinya. Saya mengkategorikan kebetulan itu ada tiga
  1. Kebetulan yang diatur oleh alam yang saya sendiri tidak bisa jelaskan darimana asalnya
  2.  Kebetulan yang diasumsikan. Kita yang mengalaminya menganggapnya terlalu melo-dramatic sehinga tercetus “ih kebetulan banget ya baju kita warnanya senada, kamu merah muda saya hijau muda”..mengasumsikan kebetulan itu kadang dilatarbelakangi perasaan emosional yang berlebihan baik senang, takut ataupun marah.
  3. Kebetulan yang muncul by design. Jadi kebetulan yang lahir dari apa yang kita laksanakan di masa lampau. Jadi sebuah kebetulan yang sifatya reward ataupun punishment dari upaya dan kerja keras. Consider it bonus

Banyak film yang bicara soal kebetulan. Salah satunya Serendipity yang dimainkan sama john cussack ya.. tapi menurut saya itu sih lebay. Gak mungkin muncul di dunia nyata. Hal yang sama yang saya yakini bahwa kenalan di tempat umum, jadian, sampai nikah.. itu cuma FTV aja..

Kembali ke kebetulan. Menurut saya kebetulan adalah cara alam bicara kepada kita mengenai takdir, jalan hidup, pilihan dan lain sebagainya. Banyak kebetulan yang apabila kita maknai dengan baik maka bisa membuat kita menghargai kehidupan yang telah kita jalani atau akan kita lalui.

Saya hadir sampai saat ini disebabkan oleh banyak kebetulan yang terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Kebetulan yang kadang kita gak tau artinya apa, sampai kemudian kita cukup punya waktu untuk bisa memahami apa yang ingin disampaikan alam semesta ke kita..

Really random…


-catur-
Comments:
    Tahun Aneh... Tahunnya Charlie Brown..
    Saturday, December 26, 2015
    Tahun 2015.. tahun ini merupakan tahun pertengahan pada dekade kedua di abad 21. Sebuah tahun yang menurut saya sebagaimana saya tuliskan diatas sebagai tahun yang aneh. Banyak perisitwa di tingkat nasional maupun personal yang menyebabkan saya mengambil kesimpulan demikian. Apabila ada yang tahun ini berjalan dengan baik dan tidak merasa ini tahun yang aneh, maka sudah selayaknya anda bersyukur dan meneruskan kegembiraan anda kepada orang yang peduli dan mengasihi anda. tulisan ini tentunya bukan sebuah kaleidoskop sebagaimana pernah saya susun sekitar 10 tahun yang lalu di blog ini. Karena ya, saya sudah berumur diatas 30 tahun maka tulisan ini harusnya sih tidak menjadi cheesy dan garing serta mudah-mudahan bisa tetap penuh humor.

    So mari kita bedah tahun ini dengan baik.
    Tahun 2015 meninggalkan sebuah sisa pertarungan penuh darah, keringat dan menghabiskan banyak dana dari apa yang kita sebut sebagai pemilu presiden 2014. Pemilu presiden ini merupakan pemilihan umum yang mengedepankan dua sosok yang berbeda, secara look,  latar belakang keluarga, trah politik dan tentunya dukungan modal. Saya tadinya berpikir bahwasanya ini akan berakhir di taun 2014, saat kabinet baru terbentuk, DPR menjalankan tugas dengan posisi pimpinan yang terbagi merata dan secara stamina semua orang sudah kecapean untuk sekedar beradu argumen. Pilpres kemarin memang fenomenal dibanding 2004 dan 2009 dimana banyak pertemanan dan hubungan keluarga menjadi terbelah antara pilihan seorang Prabowo dan Jokowi. Tapi ya itu tadi, sebagai seorang pecinta demokrasi saya punya harapan besar konsolidasi akan tercapai dan semua akan ditinggalkan dengan semangat yang baru.

    Tapi ya namanya harapan, ternyata tidak semua seindah yang saya harapkan. Sisa-sisa pertarungan pilpres ternyata masih lanjut dan tahun ini merupakan tahun penuh drama dari kepemimpinan politik Indonesia. Untuk pertama kalinya ada calon kapolri yang dijadikan tersangka KPK di injury time, ada KPK cicak buaya jilid 2,untuk pertama kalinya ada Ketua DPR yang mengundurkan diri karena kasus besar, dan banyak hal-hal aneh lainnya. akhirnya yang terjadi adalah kegaduhan politik yang berdampak pada keeenganan investor untuk menanamkan modal di Indonesia ditambah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Ok.. stop sudah mulai melantur terlalu serius.
    tapi ya itu tadi, tahun ini adalah tahun yang aneh. berbagai peristiwa ajaib ditambah beberapa kejadian antik lainnya membuat para  pengusaha media senang karena tentu banyak berita, banyak klik media online, banyak iklan dan akhirnya banyak uang... kondisi ini yang kemudian menimbulkan asumsi di saya, jangan-jangan semua drama ini memang terjadi dirancang dan diorkestrasi dengan baik oleh kelompok yang lebih besar dari sekedar partai politik. ok mulai melantur lagi...

    Lalu apa sih arti tahun yang aneh ini bagi bangsa ini.. widih ngeri banget sih pake ngomongin negara..

    Minggu lalu saya menonton film Charlie Brown.. kisah seorang anak kikuk yang insecure dan cenderung dikatakan aneh oleh teman-temannya. di akhir filmnya (maaf spoiler buat yang belum menonton), seseorang menemukan banyak kualitas dari seseorang Charlie Brown yang aneh daripada sisi buruknya yang ditonjolkan dia. berkaca pada charlie brown, maka mungkin kita sebagai sebuah bangsa perlu melihat sisi lain dari seluruh keanehan ini. saya berpikir dari seluruh keanehan akan muncul keanehan lain yang akhirnya akan membentuk kualitas kita sebagai sebuah masyarakat, bangsa, dan negara menjadi sosok yang berkualitas ditutupi kekikukkan dalam bersikap mengatasi persoalan.

    Bicara soal charlie brown, saya seperti melihat diri saya sendiri. dan saya yakin sebagian besar dari  orang pada umumnya. tidak seperti beberapa kawan saya yang memiliki masa kecil yang penuh semangat dan permainan, saya seperti Charlie Brown. Anak yang tidak percaya diri dan kikuk terutama menghadapi kelompok besar dan penghakiman orang. Ya itu lah saya, seorang Chalie Brown di tengah kehidupan anak pinggiran kota Jakarta. Kehidupan yang kejammm dan kerasssss. saya gak mau cerita pada akhirnya aoa yang terjadi sampai muncul menjadi saya seperti saat ini karena saya yakin semua orang punya momennya sendiri untuk keluar dari Cangkang "charlie Brown" nya sehingga menjadi sosok yang lebih percaya diri dan lebih baik dari sosok masa kecilnya.

    Tahun 2015 ini adalah tahun yang aneh juga buat saya terutama terkait pekerjaan saya yang banyak berurusan dengan Pemerintah. banyak penyesuaian, restrukturisasi, re-focussing, percepatan, koordinasi dan lain sebagainya. sebuah kondisi yang membuat banyak pekerjaan menjadi lambat, kebijakan terlambat diambil, respon terlambat dilakukan.. ujung-ujungnya kinerja terganggu dan pencapaian tidak sesuai dengan target.. Saya dan banyak teman-teman lainnya kemudian tahun ini harus bekerja lebih keras dengan panduan yang lebih sedikit serta kebijakan yang terus berubah. di akhir tahun, ada teman-teman yang berguguran di tengah jalan.. tapi banyak teman dan sahabat saya bertahan hingga waktu tenggatnya untuk menyelesaikan apa yang sudah ditugaskan, mengerjakan apa yang sudah diperintahkan serta berkarya meghasilkan yang terbaik buat bangsanya.

    Sama seperti ilustrasi diatas, saya pribadi berharap tahun ini bisa menjadi basis buat saya untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.. meminjam istilah teman saya soal 2015 "tahun penuh kejutan, baik yang menyenangkan atau sebaliknya". Banyak sekali hal-hal aneh yang muncul dan akhirnya mendukung pencapaian pribadi atau profesional saya. Sahabat-sahabat baru, tantangan baru, lapangan aktivitas yang baru serta pelajaran-pelajaran hidup baru.

    karena di balik anak yang aneh, akan selalu ada teman dan sahabat yang memberikan dukungan  untuk kita bisa selamat dari masa kecil kita.. sama seperti saat ini, di tahun yang aneh ini di tahun 2015, akan selalu ada sahabat yang akan bekerja di sisi kita untuk bersama-sama melalui tahun yang aneh ini..

    menurut saya tahun ini aneh, tapi gak ada yang bisa menukar apa yang saya alami tahun ini . dan saya akan tetap bilang "let's do it again"...


    menurut kalian tahun 2015 ini seperti apa???

    -Catur-


    Comments:
      What Is Your Mahameru?
      Monday, November 30, 2015
      Mahameru berikan damainya, didalam beku ‘Arcapada”
      Mahameru Sebuah Legenda Tersisa, Puncak Abadi Para dewa…
      (Mahameru, Dewa 19)

      Beberapa hari yang lalu, saya terlibat perbincangan serius dengan seorang kawan yang ternyata penggemar lama Dewa 19. Kenapa saya sebut lama? Karena referensi yang dimilikinya kebanyakan adalah lagu-lagu Dewa sebelum album Bintang Lima saat formasinya masih formasi old school sekali.
      Salah satu lagu yang kami diskusikan adalah lagu Mahameru yang berasal dari album kedua Dewa 19 bersama dengan hits lagu “Aku Milikmu”. Lagu tersebut menggunakan melodi yang cukup progresif di zamannya, diperkuat dengan kombinasi lirik yang menggabungkan kata-kata yang sederhana diselingi dengan kata-kata puitis ala Jalaludin Rumi. i. Mencermati lagu itu, kita seperti dibawa pada pengalaman yang dirasakan para anggota Band tersebut saat mendaki puncak Mahameru. Hal yang lumrah bagi band yang terbentuk di Surabaya, dimana anak muda disana pernah atau  punya cita-cita mendaki Puncak Mahameru.
      Di bagian lain, saya menjadi teringat buku 5 Cm Karya Dhony Dirgantoro. Kisah perjalanan 5 orang sahabat dalam mencari jati diri dan identitas masing-masing. Utamanya bagaimana tiap individu mendefinisikan dan mencari mimpi masing-masing melalui pendakian puncak Mahameru. Terlepas dari kisah penuturan yang cukup menarik, baik film dan bukunya pada beberapa bagian terasa amat lebay. Bukunya terselamatkan dengan memainkan romantika era 90an dimana saya rasa sebagian besar pembacanya berasal.
      Berdasarkan buku itu sebetulnya saya punya pertanyaan yang cukup menarik buat kita semua “ What is your Mahameru?”.
      Menurut saya semua orang punya Mahameru nya masing-masing. Mimpi, obsesi, ataupun cita-cita yang menjadi dasar bagi tiap orang beraktivitas baik di kehidupan professional ataupun personal. Cita-cita dapat bersifat materiil ataupun imateriil yang menjadi amunisi bagi tiap orang mengejar impiannya.
      Anak muda below 30 apalagi below 25 biasanya punya segudang cita-cita dan  obsesi yang akhirnya mendorog  segmen usia tersebut lebih dinamis, memiliki determinasi lebih serta cenderung memiliki inisiatif-inisiatif baru.
      Generasi saya di sisi lain, saat ini sedang dalam proses transisi. Transisi  menuju lebiih pragmatis saat menyadari bahwasanya ada beberapa mimpi yang harus di skip, ada beberapa yang masih di kejar dalam kurun waktu tertentu karena di umur 40 nanti adalah masa dimana kita mematangkan hidup masa tua kita nanti.
      Saya sebetulnya bukan tipe yang melankolis melakukan segmentasi usia dan lain sebagainya. Tapi mungkin tahun ini tahun yang penuh kontemplasi buat saya. Secara tidak sadar saya mulai mereview kembali checklist “mahameru” saya dan mulai melakukan prioritas mengingat sumber daya waktu yang semakin terbatas dan batasan-batasan yang cukup banyak.
      Energi yang lahir dari “mahameru” bukan sesuatu yang sebetulnya bisa diremehkan. Karena pada beberapa momen, energy itu secara sadar ataupun tidak sadar menggerakkan seluruh indra dan kemampuan kita dalam mewujudkannya. Kali ya ???
      Pernyataan yang diikuti dengan pertanyaan.. karena memang saya tidak memiliki kemampuan yang cukup sahih untuk bisa menjustifikasi pernyataan tersebut menjadi satu kesimpulan yang umum.  Akan tetapi memang begitu yang dikatakan pa Ustadz atau para motivator sekelas Mario Teguh (yang mana saya juga tidak pernah nonton acaranya).
      Jadi melalui tulisan ini sebetulnya saya ingin mengajak semua yang kebetulan sial baca tulisan ini untuk mereview kembali “mahameru” dari masing-masing kalian. Lalu saya sih mengajak kita untuk sama-sama mengejar mimpi itu. Kalaupun anda menyerah karena ada keterbatasan yang harus ditemui. Saya mengajak anda untuk bersyukur. Karena anda sudah pernah punya “mahameru”.




      Comments:
        Power of "waas"
        Sunday, November 15, 2015
        Ada sesuatu di hari minnggu ini yang membuat saya ingin mengisi blog ini.. ya biar tiap tahun ada  postingan jadi gak ditutup kali ya blog bersejarah ini..
        Sebagian besar rasa menulis ini karena  Sahabat saya awan mulai menulis juga soal topic yang menarik mengenai living legend, Mrs Dona.  Jadi gak ada salahnya dong saya untuk ikut2an menulis..

        Beberapa bulan terakhir, mungkin karena memang sudah masanya dan beberapa momentum juga di hidup saya, tiba-tiba banyak sekali kenang2an masa muda yang muncul terutama masa kuliah.

        Momentum pertama tentunya saat saya dibantu beberapa kawan men set-up reuni 15 tahun Planologi 2000. Pada persiapannya, saya ditugasi untuk membuat sebuah videografi yang kemudian memaksa saya banyak membuka foto-foto jaman baheula. Yang kemudian banyak terlintas di pikiran saya adalah pengalaman masa indah, lucu dan menyebalkan yang tentunya banyak kita alami bersama. Untungnya… ini mah untungnya.. saya ga  ada story asmara di Plano, jadi gak ada kenang2an CLBK di saat mengedit foto. Pernah terlintas beberapa kali niat untuk memasang foto2 modus kawan2, tapi atas nama menghormati para pasangan yang tentunya akan hadir saya mengurungkan niat saya. Intinya acaranya lancar, yang datang banyak dan banyak tertawa yang membuat saya dan sebagian kawan bahagia kayanya.. karena tak ada yang lebih sehat menurut saya selain mentertawakan masa muda ..

        Momentum kedua adalah ada kekonyolan kawan yang tiba2 buat WA grup yang isinya orang yang dulu pernah malang melintang di kampus.. grupnya gak terlalu heterogen saya pikir. Ah isinya masih golongan kanan semua ini mah.. ternyata setelah beberapa kali test case bikin keributan, saya cukup takjub dan kagum.. ternyata evolusi pemikiran kawan2 saya luar biasa.. yang dulunya tertutup dan sangat syar’I ternyata sekarang bisa berdiskusi banyak hal dengan egaliter. 

        Berbagai topik sering berseliweran dengan tingkat kedewasaan tertentu yang tidak mengarah kepada siapa mendukung siapa, kamu partainya apa.. salah seorang kawan yang pengurus partai bisa dengan bebas marketing partainya, tapi tidak marah kalau partainya dikritik (ya iyalah kalau marah bisa dibully habis yang mengarah ke pembunuhan karakter). Ada kawan yang tampaknya secara politik belum memiliki kedewasaan, ya tampaknya harus siap menghadapi kekejaman saya dan ada beberapa sekutu saya untuk melakukan pembunuhan karakter sampai banned dari grup WA.

        Momentum ketiga, kunjungan saya ke bandung minggu lalu yang berujung kepada pertemuan dengan the most charming bachelor di bandung, Ipin Jagal.  Pembicaraan awal seputar kehidupan mengarah ke hal yang berbau politik, romansa kota bandung dan akhirnya berujung pada sesuatu yang gak jelas. Pertemuan yang menyenangkan buat saya karena pertemuan non transaksional apalagi gak ngomongin proyek atau bisnis kadang kita butuhkan. Buat apa? Untuk meyakinkan diri kita bahwasanya masih ada kawan yang rela ngobrol hanya sekedar berbagi informasi dan romansa masa muda..  salah satu kesimpulan menarik pertemuan kali itu saya rasa disimpulkan dengan baik oleh ipin di wall FBnya
          
        Alkisah dulu jaman masih belum insyaf di 'kemahasiswaan' kampus, tersebutlah ada trio abal-abal yang kerjaannya naikin flow rapat kongres mahasiswa. Pagi ini saya reunian dengan salah satunya (salah duanya saya, salah tiganya sering ketemu), yang sudah jadi calon pejabat basah di kementrian XX . Basah karena dia kebagian ngurus bidang sanitasi dan air, aslina.
        Dari sekian obrolan yang kena sensor (karena jorok ngomongin sanitasi), yang bagian berikut ini bebas lah. Jadi...
        Jadi berdasarkan hasil diskusi 2 jam, diambil kesimpulan kalau alumni almamater XXX seumuran kami terbagi jadi 4 kelompok besar berikut, disebutkan acak tidak berdasarkan urutan mana yg lebih baik.
        1. Yang tetap idealis
        2. Yang kompromistis dengan standar
        3. Yang kompromistis
        4. Yang gak jelas. Idealis ngga, kompromis ngga, standar juga gak ada. Gak jelas. Jelasnya giliran mendadak jadi komisaris. ‪#‎Eh
        Saya kata temen saya ini masuk yang nomer 2, temen saya sendiri menyatakan masuk nomer 3, yang gak dateng kami nyatakan no 1.
        Obrol-obrol lagi, kami berdua dapet sebuah kalimat yang menarik 'Berdamai dengan hidup'. Jadi dari 4 kelompok besar ini masih bisa digeneralisir jadi 2 mahzab, no 1, 2, 3 adalah mereka yang sudah 'Berdamai dengan Hidup', sudah jelas pijakannya apa.

        Beberapa momentum tersebut membuat saya mensyukuri hidup. Karena pada masanya saya dikelilingi oleh orang-orang hebat. Yang tidak pelit berbagi ilmu, ideology, pemikiran yang lebih besar dibanding saya. Para sahabat yang membuat kita menjadi lebih baik tentunya…

        Kemarin ada rekan kantor yang nanya  ke saya “ Kenapa tiap ada acara di bandung saya selalu semangat?”. Dengan enaknya saya menjawab “karena disanalah saya menemukan the power of ‘waas’?..  karena kemarin jawabnya sekenanya, akhir belakangan baru mikir.. apa sih maksud saya

        Dari hasil googling ditemukan
        menurut kamus Sunda-Inggris paling tua, A Dictionary of the Sunda Language of Java (Jonathan Rigg, 1862), waas dijelaskan sebagai said when a pleasurable feeling is caused by seeing someone or something which reminds us of what we ourselves possess, but which, for the moment, is out of our reach. A happy or pleasing remembrance or emotion regarding something which we do not at the moment see (as see a woman's gown causes sentimental emotions).

        Jadi ingatan mengenai masa2 kuliah yang kerap kali saya sebut “masa terbaik dalam hidup saya” diperlukan untuk saya me recharge diri sendiri.. Untuk itulah ruang-ruang komunikasi antar teman diperlukan, untuk tidak semata-mata bicara mengenai sesuatu yang bernilai materialistis saja, tapi bisa juga sekedar basa basi tidak jelas yang mampu membangkitkan semangat kita untuk beraktivitas kembali.. Rasa ‘waas’ yang kemudian memantik semangat dan pikiran-pikiran positif untuk kemudian kita bicara pada diri sendiri “yuk berkarya lagi”.

        Sebuah rasa lebih dari sekedar iri melihat karya teman-teman. Sebuah rasa yang menghantarkan kita untuk berkarya lebih karena tahu ada perasaan yang sama untuk berkarya lebih besar dari kawan masa lalu kita…

        Tulisan ini sebetulnya sebuah pembelaan sederhana buat saya “kenapa belakangan ini saya senang dengan Bandung dan lebih spesifik daerah sekitar masa lalu saya”

        -Catur-




        Comments:
        Membangun Bogor Tidak Bisa Sembarangan!
        Sunday, April 05, 2015
        Membangun Bogor Tidak Bisa Sembarangan!

        Penulis : Arimbi Ramadhiani | Kamis, 2 April 2015 | 19:00 WIB
        BOGOR, KOMPAS.com - Pembangunan properti besar-besaran yang sudah masif terjadi di kota-kota pinggiran macam Depok, Bogor, Tangerang, menimbulkan kekhawatiran. Di Bogor khususnya, masalah pembangunan cukup dilematis karena dahulu kota ini didesain oleh Belanda untuk menjadi kota hutan atau taman.

        Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Urbanisme dan Liveable City Ikatan Ahli Perencanaan Indoensia (IAP), Elkana Catur, pembangunan di Bogor tidak bisa dihindari, tetapi harus tetap menonjolkan integrasi hutan atau taman. 

        "Topografi wilayah yang ada di Bogor, sudah begitu adanya, kemiringannya sulit untuk diubah," ujar Catur kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2015).

        Selama ini, kata Catur, untuk membangun sejumlah gedung di Bogor terlihat adanya upaya untuk perubahan fungsi atau guna lahan. Cepatnya perkembangan pembangunan juga dinilai tidak memperhatikan bagaimana tata kota yang sesungguhnya, dan bagaimana fungsi lahan di daerah-daerah tertentu.

        Ia melanjutkan, salah satu pembangunan yang perlu perhatian khusus adalah Hotel Amaroossa yang letaknya persis di samping Tugu Kujang. Hotel ini sempat ditolak oleh beberapa pihak khususnya warga asli Bogor karena mengganggu keindahan tugu, mulai dari desain hotel yang mencolok hingga tinggi bangunan yang melebihi Tugu Kujang.

        "Kota ini didesain agar mempunyai identitas spesifik sebagai tengara. Jangan sampai atas nama investasi, karakter inti dan ciri khasnya justru menghilang," jelas Catur.

        Selain memiliki identitas, tambah dia, Kota Bogor juga memiliki dataran atau topografi yang khas yaitu lereng curam dan pegunungan. Dengan demikian, pembangunan gedung apa pun harus memikirkan aspek topografi ini.

        Menurut Catur, Bogor memiliki karakter geografis yang mau tidak mau membatasi pembangunan gedung. Berbeda bengan Jakarta yang cenderung datar.

        "Bogor tidak bisa sembarangan dibangun gedung. Jangan sampai dipaksakan, karena ada kemiringan tertentu," kata Catur.

        Ia menyarankan, jika memang pemerintah kota membutuhkan pemasukan dari investasi, jangan sampai malah merusak kawasan tersebut. Pengembang dan pemerintah harus berdiskusi, bangunan seperti apa yang sejalan dengan identitas Bogor sebagai penyangga Jakarta. 

        "Pembangun juga harus mempertimbangkan batasan-batasan, misalnya koefisien dasar bangunan sebelum mendesain gedung-gedung tinggi," tandas Elkana

        .
        Comments:
          Ini Penyebab Bogor Dijuluki "Kota Sejuta Angkot"
          KAWASAN
          Penulis : Arimbi Ramadhiani | Sabtu, 4 April 2015 | 09:22 WIB
          Dibaca: 11738
          |
          Share:
          KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
          Suasana pembongkaran kiios di Kota Bogor.
          BOGOR, KOMPAS.com - Sudah menjadi rahasia publik, Bogor dijuluki "Kota Sejuta Angkot". Kemacetan terjadi setiap hari, tidak hanya pada jam-jam sibuk, dan di lokasi strategis, melainkan setiap jam dan di seluruh sudut kota. 

          Jika Anda melintasi Jl Pulo 
          Empang menuju Jl Ir H Juanda untuk kemudian meneruskan rute ke Jl Kapten Muslihat, dan Jl Merdeka, atau pun terus lurus ke Jl Jalak Harupat, dan Jl Jend Sudirman, maka waktu yang bisa ditempuh bisa mencapai 45 menit hingga 1 jam. Padahal, jaraknya tak lebih dari lima kilometer hingga tujuh kilometer. 

          Demikian halnya dengan
           kawasan pusat bisnis baru di Jl Pajajaran hingga Jl Siliwangi, dan Jl Suryakencana, kecepatan kendaraan hanya bisa mencapai 10 kilometer per jam pada jam-jam sibuk dan akhir pekan. 

          Apa penyebab kemacetan? 
          Selain jumlah angkot yang sudah mencapai 3.412 unit, kapasitas jalan tidak memadai, juga perilaku tidak disiplin dalam berkendara. Banyak supir angkot yang kerap kali "ngetem" di tepi jalan utama, dan tata kota yang buruk. 

          Tata kot
          a yang buruk bisa dilihat dari terjadinya konversi fungsi kawasan dari sebelumnya hunian menjadi pusat komersial. Setelah Jl Padjadjaran yang kemudian "terpaksa" dijadikan sebagai pusat bisnis, gejala konversi besar-besaran kini merambah Jl Ahmad Yani, Jl Taman Kencana, Jl Taman Malabar, Jl Lodaya, dan sekitarnya. 

          Wakil Sekretaris Jenderal 
          Urbanisme dan Liveable City Ikatan Ahli Perencanaan Elkana Catur mengatakan, masalah kemacetan, pedagang kaki lima (PKL), dan pasar tumpah, di Kota Bogor ini merupakan tantangan pemerintah kota untuk lebih menata kawasan secara komprehensif. 

          "Ini tentang bagaimana 
          pemerintah kota mengatur flow atau aliran kota. Sebenarnya, angkot itu bisa diatur alirannya," ujar Catur kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2015). 

          Ia melanjutkan 
          mengatur aliran kota bisa dengan cara memastikan agar pasar tidak tumpah. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor harus mampu juga untuk mengatur PKL. Pasalnya, pasar tumpah, dan PKL inilah yang menyebabkan supir angkot berhenti dan mencari penumpang sembarangan. 

          Sopir angkot,
           menurut Catur, selalu berusaha mencari celah saat melihat adanya keramaian seperti pasar tumpah tersebut. Setelah pasar sudah teratur, tambah Catur, baru pemerintah secara fungsional mengatur angkot. 

          Artinya,
           pemkot harus membuat peraturan untuk angkot di mana boleh berhenti untuk mencari pnumpang. Kalau pemda bisa mengatur aliran, otomatis kota bergerak dengan sendirinya. 

          Selain 
          mengatur pasar, Catur menambahkan, Bogor juga dihadapkan pada kebutuhan jalan layang. Meski begitu, membangun jalan layang di kota ini perlu pertimbangan khusus mengingat kondisi topografi, dan geografinya yang cukup menantang. 

          "Untuk
           membangun jalan layang, ada batasan-batasan geografis sehingga tidak bisa fleksibel," kata Catur.

          Aliran kendaraan 
          Catur menjelaskan,
           kemacetan di Bogor bisa diatasi dengan menciptakan sarana transportasi yang terintegrasi. Dari segi akses kereta, Bogor memiliki dua stasiun yaitu Stasiun Bogor dan Cilebut. 

          "Saya melihat
           Stasiun Bogor, khususnya, sebagai potensi modal pemkot untuk membangun sistem terintegrasi antara kendaraan pribadi, angkot, dan kereta," sebut Catur.

          Pemkot 
          tambah dia, harus memastikan aliran kereta antar-stasiun berjalan dengan lancar. Stasiun kereta, harus bisa disatukan dalam satu fungsi kawasan yang utuh. Satu fungsi kawasan yang utuh adalah saat orang-orang beralih dari menggunakan kereta ataucommuter ke kendaraan pribadi atau umum.

          Jika aliran
           tidak diperhatikan, maka sudah pasti para supir angkot memanfaatkan kesempatan berhenti sembarangan di dekat pintu masuk dan keluar stasiun. 

          "Wali Kota
           (Bogor) yang baru, saya nilai cukup progresif, ide-idenya bagus. Kami berharap mudah-mudahan beliau bisa membangun Kota Bogor tanpa harus melupakan fungsi sekitar," tandas Catur. 

          Pantauan
           Kompas.com, kawasan Stasiun Bogor sendiri, kini sudah jauh lebih rapi dan teratur dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Pemkot membangun jembatan penyeberangan yang juga merupakan akses bagi pengguna kereta saat memasuki stasiun atau pun sebaliknya. 

          Selain itu
          , pintu stasiun lainnya, yang berada di Jalan Mayor Oking, bukan di jalan utama yaitu Jalan Kapten Muslihat. Hal ini bertujuan agar angkot tidak berhenti di pinggir jalan utama. Sementara di Stasiun Cilebut, keadaannya belum sebaik di Stasiun Bogor. 

          Pintu gerbang
           stasiun terletak hanya beberapa meter dari persimpangan jalan yang lebarnya tidak seberapa. Dengan demikian, hampir setiap waktu, jalan di sekitar Stasiun Cilebut macet dikarenakan angkot yang berhenti sembarang dan menghalangi kendaraan yang lalu lalang di persimpangan jalan.
          Comments:
            Copyright © 2007 Catur