Kematian 7-11 dan Ruang Kota di Jakarta
Friday, June 30, 2017

Photo by Ardi Wirdana di  http://asia.nikkei.com

Masih segar di ingatan kita celotehan anak muda di pojok gerai 7-11 (seven eleven), sisa minuman slurpee yang cukup fenomenal, dan sensasi minum kopi dari gelas kertas ala kafe dengan harga miring. Itu adalah kenangan yang masih segar diingatan kita sekitar 5-6 tahun lalu saat gerai 7-11 mulai memasuki wilayah Indonesia. Penampakan yang berbeda saat kita ke gerai 7-11 yang sama di Singapura, Thailand dan beberapa negara lainnya. Konsep gerai 7-11 berjalan serupa dengan model convenience store lain  seperti lainnya di Indonesia.
Kehadiran 7-11 saat itu membawa nuansa baru bagi kehidupan perkotaan, terutama di wilayah Jakarta. Dimana ruang-ruang komunitas, terutama anak muda kelas menengah, berpindah bentuk dari perkumpulan di ruang terbuka atau ruang tradisional lainnya ke dalam ruang formil ala kafe wilayah perkotaan. Bagi pelaku usaha convenience store lainnya, model bisnis 7-11 menyebabkan  di replikasinya ruang usaha serupa dengan bentuk yang berbeda.
Pertanyaan paling klasik yang ada di kepala saya saat itu adalah "mengapa begitu cepat di respon masyarakat?". Hal ini mungkin tidak relevan di tanyakan saat ini megingat ditutupnya gerai 7-11 secara massal per akhir bulan Juni 2017 sebagai bentuk "lempar handuk" oleh manajemen atas meruginya  seluruh gerai yang ada.
Saya memaknai 7-11 sebagai pertemuan dua nilai budaya yang berkembang akibat tidak optimalnya penyediaan ruang terbuka publik terutama untuk generasi muda. Budaya pertama adalah konsumerism dan globalisasi. Knsumerisme merupakan paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan dan menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang – barang hasil produksi secara berlebihan. Konsumerisme dianggap lahir sebagai anak kandung dari kapitalisme sebagai akibat lain dari globalisasi. Globalisasi menyebabkan produk merk tidak lagi dibatasi oleh batas-batas negara. Merk 7-11 yang sudah cukup dikenal awalnya sebagai kelompok usaha dari luar negeri menjadi "hits" saat pertama kali masuk ke Indonesia. Reputasinya datang lebih dahulu dibandingkan fisik tokonya.
Saya masih ingat pada masa itu obrolan dua anak SMP di 7-11 bilangan mayestik.
anak 1: kamu jajan apa di Sevel??
Anak 2: aku beli teh botol sama aqua..
Anak 1: ah gak keren. gue dong beli slurpee..
mengamati dialog lucu itu, kita bisa melihat bagaimana merk dan kemasan menjadi pembeda status sosial dari sejak dini. Konsumsi atas merk menjadi yang utama dibandingkan apa yang dikonsumsi. Hang out di seven eleven menjadi pembeda antar satu kelompok dengan yang lain. gerai 7-11 menghadirkan sensasi hang out ala cafe dengan harga produk yang tidak semahal apabila bergaul di kafe konvensional. Istilah yang muncul pada saat itu "Lo anak sevel mana?". ungkapan yang menunjukkan menjamurnya gerai 7-11 dan manifestasi dari konsumerisme di pemuda jakarta pada masa itu.

Baudrillard (1970)  memperlihatkan bahwa masyarakat tidak lagi hidup berdasarkan pada pertukaran barang dengan nilai guna, melainkan pada komoditas sebagai nilai tanda dan simbol yang penggunaannya bersifat sewenangwenang. Menurutnya, dalam masyarakat konsumtif, orang-orang mudah memperoleh kenikmatan atau kesenangan dengan cara membeli atau mengonsumsi sistem tanda yang dimiliki bersama
Budaya yang kedua adalah budaya nongkrong. Frasa paling terkenal di Indonesia adalah ""Apapun kondisinya, makan atau nggak yang penting ngumpul dulu"". Analisa hasil riset sindikasi terhadap hampir 800 responden anak muda di 6 kota besar di Indonesia yang dilakukan bulan Februari-Maret 2010 oleh MarkPlus Insight menemukan bahwa anak muda dan nongkrong adalah dua hal yang sudah melekat. Hasil riset tersebut menunjukkan adanya kebutuhan bagi anak muda, karena nongkrong memberikan perasaan adanya kedekatan afeksi dengan teman-teman peer group sedangkan faktor lainnya jadi pendukung. salah satu surat kabar internasional yaitu New York Times pernah membuat artiket tentang fenomena budaya nongkrong di Indonesia ini yang menyebutkan bahwa “ Nongkrong is Talking, Eating, Siting and doing nothing.” 
Budaya nongkrong yang telah menjadi identitas di Indonesia menjadi salah satu penyebab diterimanya model bisnis 7-11 pada saat itu. Masih segar diingatan saya 15 tahun lalu, saat Circle K menyediakan ruang parkir motor yang luas di Bandung untuk memudahkan orang untuk nongkrong pasca belanja makanan-minuman ringan. gerai 7-11 memanfaatkan potensi yang telah ada untuk ditransformasi kedalam ruang komersil dengan segala atributnya. Anak muda digiring dari ruang informal terbuka untuk masuk ke dalam wilayah 7-11 dan nongkrong.
Budaya nongkrong dan budaya konsumerisme tumbuh subur saat model gerai 7-11 menawarkan konsep tempat nongkrong yang ala cafe dengan harga makanan minuman yang miring. Fenomena membeli makanan paling murah dan nongkrong berjam-jam di gerai Sevel untuk berkumpul menjadi teramat biasa. Dalam salah satu penelitian yang saya pernah lakukan 5 tahun lalu, ditemukan juga fenomena menggunakan kemasan minuman yang ditinggalkan oleh pengunjung lain sebagai upaya menaikkan status kelas sosialnya duduk di gerai 7-11 berjam-jam. Agak aneh mungkin dibaca, tapi realita menunjukkan hal itu.
Minimnya ruang terbuka publik yang representatif pada masa itu berdampak pada digunakannya gerai 7-11 untuk berkumpul dan berkegiatan buat anak muda. Ketidakhadiran ruang publik yang menjawab kebutuhan anak muda generasi millenial akhirnya mengakibatkan budaya nongkrong pindah ke ruang-ruang gerai seven eleven. Ruang publik di hadirkan oleh pihak swasta dengan memanfaatkan fenomena konsumerisme di era globalisasi.

Kematian Sevel di Indonesia sebetulnya merupakan fenomena yang biasa di era globalisasi dan kapitalisme saat ini. Dengan sendirinya, kekosongan pasar akan diisi baik oleh pemain lama ataupun pemain baru. Implikasi globalisasi yang dengan mudah menggantikan produk satu dengan produk yang lain menjadikan kematian gerai Sevel di Indonesia bukan sesuatu yang disayangkan. Budaya nongkrong akan tetap hadir dalam format berbeda sesuai dengan  media yang ada. Komunitas akan mencari ruang-ruang publik yang baru untuk berkumpul baik yang disediakan Pemerintah (seperti RTPTRA di beberapa titik atau taman kota) atau yang disediakan Swasta (dalam bentuk pusat perbelanjaan, atau taman kota berbayar). 

Saat ini banyak analisa menyampaikan penyebab kejatuhan Seven Eleven di Indonesia oleh para ahli
Bagi para pelangganya, 7-11 menjadi monumen untuk mengingat masa-masa terindah berkumpul dengan para sahabat dan berbagi cerita kepahlawanan

(catur)



Comments:
    Halo Indonesia...
    Thursday, December 08, 2016
    Halo Indonesia...
    Ini bukan merujuk pada negara.. ini merujuk pada anda. yang sedang membaca tulisan ini.. anda yang punya KTP dari Provinsi berbeda-beda dan berasal dari suku yang berbeda serta kepercayaan berbeda.. Tenang saja tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menasehati  atau bikin hoax di Wa Grup. Tulisan ini saya buat untuk anda, teman2 dan orang terdekat saya. Karena tulisan ini sangat personal, jadi saya sarankan untuk tidak membagi tulisan ini. Karena anda adalah orang-orang yang saya bayangkan ketika menulis tulisan (yang tidak) singkat.
    Masih ingatkah siapa kita.
     Kita adalah Indonesia. Karena dalam kacamata saya yang terbatas, Indonesia bukan hanya seperangkat institusi kelembagaan negara. Indonesia lahir dari ide tentang keberagaman, kemajemukan dan keunikan yang terangkum  dan dilembagakan hingga di proklamirkan menjadi negara Merdeka..
    Memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita kemudian menimbulkan kekhawatiran bahwa kita.. Iya kita... lupa bahwasanya kita saat ini berada di sini bukan karena semata-mata takdir kita lahir di tanah ini dan bukan di New york.  Kita (atau paling tidak kakek/ Buyut kita) memilih Indonesia karena kita percaya bahwasanya kita bisa hidup berdampingan dalam sebuah kemajemukan dan perbedaan dalam kesatuan Indonesia.
    Saya hari ini tidak berbicara soal Panggung Politik..
     Saya berbicara mengenai pesan-pesan negatif yang disampaikan dalam ruang publik secara bebas yang terekam oleh berbagai media dan menjadi sebuah catatan baik secara individu ataupun kelompok. Pesan-pesan yang membuat saya kembali berpikir mengenai Indonesia dan kemajemukannya. Saya membayangkan saat pesan ini sampai kepada anak saya, lalu apa kira-kira yang menjadi persepsi dia mengenai Indonesia dan eksistensinya.
    hari ini saya putuskan untuk menyapa anda-anda sekalian.
    Hai Indonesia...
    kita semua yang memilih dan bersyukur menjadi bagian dari sebuah bangsa yang besar walau belum menyadari kebesarannya. Bersyukur menjadi bangsa yang dihormati oleh Bangsa lain karena kemajemukannya. Bersyukur lahir di tengah masyarakat yang guyub, murah senyum walau kadang Baperan...
    Saya menyapa anda, orang terdekat saya.. untuk melihat sekitar anda.. orang2 yang tersenyum (atau cemberut) sekitar kita, menikmati hitam putihnya kulit  kawan2 kita, mensyukuri udara yang mengisi paru-paru kita dan menghargai kemajemukan yang dibangun oleh para pahlawan kita..
    Saya hari ini berkata " Saya adalah Indonesia".. mudah2an teman2 setuju

    -catur-

    NB: kalau gak setuju dengan pendapat saya , cukup dinilai dalam hati saja..
    Comments:
      me VS ME
      Tuesday, September 27, 2016
      Adalah sebuah hal yang wajar menemukan kondisi dimana pertarungan terjadi. baik dalam skala kecil dan tidak membahayakan ataupun skala besar dan menghancurkan. pertarungan terjadi manakala ada sebuah kondisi perbedaan antara dua entitas baik individu, kelompok, negara atau bahkan entitas dalam diri sendiri (misalnya antara otak dan hati kita).

      Pertarungan yang paling merusak tentunya kita semua sepakat terjadi dalam bentuk peperangan fisik skala besar ala Perang Dunia ke II atau perang Irak atau yang terkini yang terjadi di Suriah. Pertarungan lain yang merusak adalah pertarungan politik  yang mana kita semua melihat bagaimana dampaknya bagi masyarakat kita saat pilpres lalu dan nampaknya akan berlanjut di Pilgub DKI 2017

      Pertarungan lain yang menurut saya paling berat dialami seorang inidividu adalah pertarungan yang terjadi dalam diri sendiri.. saat apa yang kita lakukan sering tidak sejalan dengan yang kita yakini, saat yang kita lakukan terasa hampa tak bertujuan, saat  pertentangan terjadi antara otak, hati dan tindakan.. menurut saya itu pertarungan yang paling berat untuk seorang individu. mengapa? karena masalah datang dari kita, diselesaikan oleh kita dan seluruh resikonya kita yang tentukan...

      Pertarungan seperti ini akan menentukan masa depan dan jalan hidup seseorang tentunya bukan hanya sekeda memilih antara memakai baju warna merah atau hitam, memakan nasi padang atau nasi warteg.. tapi seringkali pertanyaan yang diajukan sesuatu yang lebih mendalam yang bahkan seorang dapat larut didalamnya...

      Pada seluruh individu yang saat ini menemui kondisi demikian, semoga dimudahkan jalannya dalam menemukan jawaban yang dapat memuaskan sanubari masing-masing
      Comments:
        Kita dan Diri Kita….
        Tuesday, May 31, 2016


        Apa yang terjadi pada masyarakat saat ini? Sejarah apa yang bisa kita sampaikan kepada generasi di masa depan mengenai kita? Seberapa rusak tatanan moral yang akan dibayangkan oleh generasi masa depan kita saat mereka membrowsing arsip berita dan ditemukan berbagai macam berita perkosaan baik di bawah umur ataupun tidak?
        Setiap hari kita membaca berita online maka kita temukan selalu berita tidak menyenangkan mengenai bagaimana anggota masyarakat di sekitar kita di berbagai daerah melakukan pelecehan sekesual terhadap orang lain Sampai pada akhirnya Presiden merasa perlu mengeluarkan kebijakan ekstrem mengebiri para pelaku pelecehan seksual terutama kepada anak dibawah umur.
        Saya selalu berpendapat bahwa apa yang terjadi pada masyarakat kita merupakan cerminan dari diri kita. Hal-hal yang dominan terjadi di sekitar kita adalah refleksi dan akumulasi dari bagaimana kita dan orang2 di sekitar kita memperlakukan satu dengan yang lain..
        Pelecehan seksual massal yang terjadi di sekiat kita saya asumsikan terjadi akibat sifat-sifat kecil kita yang terakumulasi pada perilaku massal masyarakat kita. Arus informasi yang deras, media yang semakin minim sensor, budaya kekerasan yang semakin biasa, dan banyak hal negative lainnya yang dipertontonkan di sekitar kita ahirnya membuat apa yang terjadi menjadi sebuah implikasi logis saja dan tinggal menunggu waktunya.
        Lalu apa yang kita ingin wariskan kepada generasi mendatang mengenai  diri kita??? Kita bagaimana melihat diri kita saat ini dan menilai diri kita. Seberapa terlukanya masyarakat kita manakala ini semua terjadi di sekitar kita ataukah kita menganggap semua ini baik-baik saja???
        Apakah respon Presiden dengan menerbitkan Perpres merupakan respon terbaik kita atas masalah ini? Mungkin tidak terbaik, tapi itu yang saat ini maksimal dilakukan oleh Pemimpin bangsa ini untuk menyelamatkan lebih banyak orang dari perilaku seksual yang setara dengan perkosaan massal yang terjadi di India beberapa tahun lalu.
        Lalu bagaiman dengan kita? Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana kita memperlakukan sesama kita? Akankah kemudian kita merubah diri kita dan memaksa semuanya untuk berhenti dari apa yang semua terjadi? Ataukah kita harus menunggu??

        Yang terdiam dari suara
        Sabar jiwaku, sabar seluruh bangsaku
        perih tangismu, perih jiwamu
        Tersisihkan oleh kawanan hitam
        Semua telah lelah menanti

                    -Raja Negeriku, Noah-
        Comments:
          Kebetulan di Sekitar Kita
          Wednesday, February 03, 2016


          Kebetulan…
          Kata yang amat sering kita dengar, ucapkan bahka dialami. Saya termasuk orang yang percaya dengan kebetulan.. beberapa momen penting saya sangat dekat sekali dengan namanya kebetulan. Saya dari dulu punya pendapat, jalan hidup kita dibentuk dari berbagai momen yang kita sebut sebagai kebetulan-kebetulan kecil. Ada yang menyebutnya sebagai takdir ada yang menyebutnya sebagai kebetulan belaka.
          Fragmen-fragmen dalam kehidupan kita membentuk kita menjalani sebuah kehidupan yang kita jalani tiap harinya. Saya mengkategorikan kebetulan itu ada tiga
          1. Kebetulan yang diatur oleh alam yang saya sendiri tidak bisa jelaskan darimana asalnya
          2.  Kebetulan yang diasumsikan. Kita yang mengalaminya menganggapnya terlalu melo-dramatic sehinga tercetus “ih kebetulan banget ya baju kita warnanya senada, kamu merah muda saya hijau muda”..mengasumsikan kebetulan itu kadang dilatarbelakangi perasaan emosional yang berlebihan baik senang, takut ataupun marah.
          3. Kebetulan yang muncul by design. Jadi kebetulan yang lahir dari apa yang kita laksanakan di masa lampau. Jadi sebuah kebetulan yang sifatya reward ataupun punishment dari upaya dan kerja keras. Consider it bonus

          Banyak film yang bicara soal kebetulan. Salah satunya Serendipity yang dimainkan sama john cussack ya.. tapi menurut saya itu sih lebay. Gak mungkin muncul di dunia nyata. Hal yang sama yang saya yakini bahwa kenalan di tempat umum, jadian, sampai nikah.. itu cuma FTV aja..

          Kembali ke kebetulan. Menurut saya kebetulan adalah cara alam bicara kepada kita mengenai takdir, jalan hidup, pilihan dan lain sebagainya. Banyak kebetulan yang apabila kita maknai dengan baik maka bisa membuat kita menghargai kehidupan yang telah kita jalani atau akan kita lalui.

          Saya hadir sampai saat ini disebabkan oleh banyak kebetulan yang terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Kebetulan yang kadang kita gak tau artinya apa, sampai kemudian kita cukup punya waktu untuk bisa memahami apa yang ingin disampaikan alam semesta ke kita..

          Really random…


          -catur-
          Comments:
            Tahun Aneh... Tahunnya Charlie Brown..
            Saturday, December 26, 2015
            Tahun 2015.. tahun ini merupakan tahun pertengahan pada dekade kedua di abad 21. Sebuah tahun yang menurut saya sebagaimana saya tuliskan diatas sebagai tahun yang aneh. Banyak perisitwa di tingkat nasional maupun personal yang menyebabkan saya mengambil kesimpulan demikian. Apabila ada yang tahun ini berjalan dengan baik dan tidak merasa ini tahun yang aneh, maka sudah selayaknya anda bersyukur dan meneruskan kegembiraan anda kepada orang yang peduli dan mengasihi anda. tulisan ini tentunya bukan sebuah kaleidoskop sebagaimana pernah saya susun sekitar 10 tahun yang lalu di blog ini. Karena ya, saya sudah berumur diatas 30 tahun maka tulisan ini harusnya sih tidak menjadi cheesy dan garing serta mudah-mudahan bisa tetap penuh humor.

            So mari kita bedah tahun ini dengan baik.
            Tahun 2015 meninggalkan sebuah sisa pertarungan penuh darah, keringat dan menghabiskan banyak dana dari apa yang kita sebut sebagai pemilu presiden 2014. Pemilu presiden ini merupakan pemilihan umum yang mengedepankan dua sosok yang berbeda, secara look,  latar belakang keluarga, trah politik dan tentunya dukungan modal. Saya tadinya berpikir bahwasanya ini akan berakhir di taun 2014, saat kabinet baru terbentuk, DPR menjalankan tugas dengan posisi pimpinan yang terbagi merata dan secara stamina semua orang sudah kecapean untuk sekedar beradu argumen. Pilpres kemarin memang fenomenal dibanding 2004 dan 2009 dimana banyak pertemanan dan hubungan keluarga menjadi terbelah antara pilihan seorang Prabowo dan Jokowi. Tapi ya itu tadi, sebagai seorang pecinta demokrasi saya punya harapan besar konsolidasi akan tercapai dan semua akan ditinggalkan dengan semangat yang baru.

            Tapi ya namanya harapan, ternyata tidak semua seindah yang saya harapkan. Sisa-sisa pertarungan pilpres ternyata masih lanjut dan tahun ini merupakan tahun penuh drama dari kepemimpinan politik Indonesia. Untuk pertama kalinya ada calon kapolri yang dijadikan tersangka KPK di injury time, ada KPK cicak buaya jilid 2,untuk pertama kalinya ada Ketua DPR yang mengundurkan diri karena kasus besar, dan banyak hal-hal aneh lainnya. akhirnya yang terjadi adalah kegaduhan politik yang berdampak pada keeenganan investor untuk menanamkan modal di Indonesia ditambah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Ok.. stop sudah mulai melantur terlalu serius.
            tapi ya itu tadi, tahun ini adalah tahun yang aneh. berbagai peristiwa ajaib ditambah beberapa kejadian antik lainnya membuat para  pengusaha media senang karena tentu banyak berita, banyak klik media online, banyak iklan dan akhirnya banyak uang... kondisi ini yang kemudian menimbulkan asumsi di saya, jangan-jangan semua drama ini memang terjadi dirancang dan diorkestrasi dengan baik oleh kelompok yang lebih besar dari sekedar partai politik. ok mulai melantur lagi...

            Lalu apa sih arti tahun yang aneh ini bagi bangsa ini.. widih ngeri banget sih pake ngomongin negara..

            Minggu lalu saya menonton film Charlie Brown.. kisah seorang anak kikuk yang insecure dan cenderung dikatakan aneh oleh teman-temannya. di akhir filmnya (maaf spoiler buat yang belum menonton), seseorang menemukan banyak kualitas dari seseorang Charlie Brown yang aneh daripada sisi buruknya yang ditonjolkan dia. berkaca pada charlie brown, maka mungkin kita sebagai sebuah bangsa perlu melihat sisi lain dari seluruh keanehan ini. saya berpikir dari seluruh keanehan akan muncul keanehan lain yang akhirnya akan membentuk kualitas kita sebagai sebuah masyarakat, bangsa, dan negara menjadi sosok yang berkualitas ditutupi kekikukkan dalam bersikap mengatasi persoalan.

            Bicara soal charlie brown, saya seperti melihat diri saya sendiri. dan saya yakin sebagian besar dari  orang pada umumnya. tidak seperti beberapa kawan saya yang memiliki masa kecil yang penuh semangat dan permainan, saya seperti Charlie Brown. Anak yang tidak percaya diri dan kikuk terutama menghadapi kelompok besar dan penghakiman orang. Ya itu lah saya, seorang Chalie Brown di tengah kehidupan anak pinggiran kota Jakarta. Kehidupan yang kejammm dan kerasssss. saya gak mau cerita pada akhirnya aoa yang terjadi sampai muncul menjadi saya seperti saat ini karena saya yakin semua orang punya momennya sendiri untuk keluar dari Cangkang "charlie Brown" nya sehingga menjadi sosok yang lebih percaya diri dan lebih baik dari sosok masa kecilnya.

            Tahun 2015 ini adalah tahun yang aneh juga buat saya terutama terkait pekerjaan saya yang banyak berurusan dengan Pemerintah. banyak penyesuaian, restrukturisasi, re-focussing, percepatan, koordinasi dan lain sebagainya. sebuah kondisi yang membuat banyak pekerjaan menjadi lambat, kebijakan terlambat diambil, respon terlambat dilakukan.. ujung-ujungnya kinerja terganggu dan pencapaian tidak sesuai dengan target.. Saya dan banyak teman-teman lainnya kemudian tahun ini harus bekerja lebih keras dengan panduan yang lebih sedikit serta kebijakan yang terus berubah. di akhir tahun, ada teman-teman yang berguguran di tengah jalan.. tapi banyak teman dan sahabat saya bertahan hingga waktu tenggatnya untuk menyelesaikan apa yang sudah ditugaskan, mengerjakan apa yang sudah diperintahkan serta berkarya meghasilkan yang terbaik buat bangsanya.

            Sama seperti ilustrasi diatas, saya pribadi berharap tahun ini bisa menjadi basis buat saya untuk menjadi sosok yang lebih baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.. meminjam istilah teman saya soal 2015 "tahun penuh kejutan, baik yang menyenangkan atau sebaliknya". Banyak sekali hal-hal aneh yang muncul dan akhirnya mendukung pencapaian pribadi atau profesional saya. Sahabat-sahabat baru, tantangan baru, lapangan aktivitas yang baru serta pelajaran-pelajaran hidup baru.

            karena di balik anak yang aneh, akan selalu ada teman dan sahabat yang memberikan dukungan  untuk kita bisa selamat dari masa kecil kita.. sama seperti saat ini, di tahun yang aneh ini di tahun 2015, akan selalu ada sahabat yang akan bekerja di sisi kita untuk bersama-sama melalui tahun yang aneh ini..

            menurut saya tahun ini aneh, tapi gak ada yang bisa menukar apa yang saya alami tahun ini . dan saya akan tetap bilang "let's do it again"...


            menurut kalian tahun 2015 ini seperti apa???

            -Catur-


            Comments:
              What Is Your Mahameru?
              Monday, November 30, 2015
              Mahameru berikan damainya, didalam beku ‘Arcapada”
              Mahameru Sebuah Legenda Tersisa, Puncak Abadi Para dewa…
              (Mahameru, Dewa 19)

              Beberapa hari yang lalu, saya terlibat perbincangan serius dengan seorang kawan yang ternyata penggemar lama Dewa 19. Kenapa saya sebut lama? Karena referensi yang dimilikinya kebanyakan adalah lagu-lagu Dewa sebelum album Bintang Lima saat formasinya masih formasi old school sekali.
              Salah satu lagu yang kami diskusikan adalah lagu Mahameru yang berasal dari album kedua Dewa 19 bersama dengan hits lagu “Aku Milikmu”. Lagu tersebut menggunakan melodi yang cukup progresif di zamannya, diperkuat dengan kombinasi lirik yang menggabungkan kata-kata yang sederhana diselingi dengan kata-kata puitis ala Jalaludin Rumi. i. Mencermati lagu itu, kita seperti dibawa pada pengalaman yang dirasakan para anggota Band tersebut saat mendaki puncak Mahameru. Hal yang lumrah bagi band yang terbentuk di Surabaya, dimana anak muda disana pernah atau  punya cita-cita mendaki Puncak Mahameru.
              Di bagian lain, saya menjadi teringat buku 5 Cm Karya Dhony Dirgantoro. Kisah perjalanan 5 orang sahabat dalam mencari jati diri dan identitas masing-masing. Utamanya bagaimana tiap individu mendefinisikan dan mencari mimpi masing-masing melalui pendakian puncak Mahameru. Terlepas dari kisah penuturan yang cukup menarik, baik film dan bukunya pada beberapa bagian terasa amat lebay. Bukunya terselamatkan dengan memainkan romantika era 90an dimana saya rasa sebagian besar pembacanya berasal.
              Berdasarkan buku itu sebetulnya saya punya pertanyaan yang cukup menarik buat kita semua “ What is your Mahameru?”.
              Menurut saya semua orang punya Mahameru nya masing-masing. Mimpi, obsesi, ataupun cita-cita yang menjadi dasar bagi tiap orang beraktivitas baik di kehidupan professional ataupun personal. Cita-cita dapat bersifat materiil ataupun imateriil yang menjadi amunisi bagi tiap orang mengejar impiannya.
              Anak muda below 30 apalagi below 25 biasanya punya segudang cita-cita dan  obsesi yang akhirnya mendorog  segmen usia tersebut lebih dinamis, memiliki determinasi lebih serta cenderung memiliki inisiatif-inisiatif baru.
              Generasi saya di sisi lain, saat ini sedang dalam proses transisi. Transisi  menuju lebiih pragmatis saat menyadari bahwasanya ada beberapa mimpi yang harus di skip, ada beberapa yang masih di kejar dalam kurun waktu tertentu karena di umur 40 nanti adalah masa dimana kita mematangkan hidup masa tua kita nanti.
              Saya sebetulnya bukan tipe yang melankolis melakukan segmentasi usia dan lain sebagainya. Tapi mungkin tahun ini tahun yang penuh kontemplasi buat saya. Secara tidak sadar saya mulai mereview kembali checklist “mahameru” saya dan mulai melakukan prioritas mengingat sumber daya waktu yang semakin terbatas dan batasan-batasan yang cukup banyak.
              Energi yang lahir dari “mahameru” bukan sesuatu yang sebetulnya bisa diremehkan. Karena pada beberapa momen, energy itu secara sadar ataupun tidak sadar menggerakkan seluruh indra dan kemampuan kita dalam mewujudkannya. Kali ya ???
              Pernyataan yang diikuti dengan pertanyaan.. karena memang saya tidak memiliki kemampuan yang cukup sahih untuk bisa menjustifikasi pernyataan tersebut menjadi satu kesimpulan yang umum.  Akan tetapi memang begitu yang dikatakan pa Ustadz atau para motivator sekelas Mario Teguh (yang mana saya juga tidak pernah nonton acaranya).
              Jadi melalui tulisan ini sebetulnya saya ingin mengajak semua yang kebetulan sial baca tulisan ini untuk mereview kembali “mahameru” dari masing-masing kalian. Lalu saya sih mengajak kita untuk sama-sama mengejar mimpi itu. Kalaupun anda menyerah karena ada keterbatasan yang harus ditemui. Saya mengajak anda untuk bersyukur. Karena anda sudah pernah punya “mahameru”.




              Comments:
                Copyright © 2007 Catur