
Catatan ini terinspirasi dari obrolan dengan seorang teman saya di media yahoo messenger. Seorang sahabat yang lama tak kunjung bertukar kabar dan tukar informasi. Obrolan dimulai dengan kalimat basa basi biasa seperti "apa kabar?", "bagaimana keluarga?", " sehat semua kan ?", dll...
Topik demi topik bergulir sampai kemudian muncul satu pernyataan dari sahabat saya " saya sudah bosan dengan politik, saya sekarang mau menikmati politik sebagai tontongan ringan, bahkan untuk jadi pengamat pun rasanya males". Pernyataan ini menjadi menarik karena diucapkan oleh seorang yang memiliki tingkat kemelekan politik yang cukup b tinggi. Kehidupan mahasiswanya dilalui dengan diskusi politik, aksi demonstrasi, pewacanaan, pembentukan opini, kajian2, dan lain sebagainya.
Tentunya rasa penasaran itu dilanjutkan dengan mengulik apakah yg terjadi? Bukan untuk usil karena penasaran akan tetapi mencari pembelajaran dari tentunya. Saya akhirnya baru tahu ternyata sahabat saya itu mencalonkan diri menjadi caleg di salah satu partai. Singkat cerita dia kalah. Tentunya teman2 kemudian berpikir "mungkinkah skeptis ini muncul dri kekalahan dia???". Jujur saya berpikir demikian. Tapi ternyata tidak..
Saya tidak akan cerita detil tentunya.karena terlalu panjang dan membosankan untuk dipaparkan di note yang direncanakan singkat ini.
Singkatnya sahabat saya tersebut merasa jenuh dengan dunia perpolitikan yang terkadang mengarah kepada penghilangan hak2 warga negara atas nama kepentingan bangsa yang lebih besar.
Lalu kemudian saya mulai menerawang (macem paranormal aja), mencoba mengekstrapolasi apa yang dialami sahabat saya kepada apa yang dialami masyarakat luas.. Mungkinkah kejenuhan politik ini berlangsung massal.. Apakah masyarakat kita tetap se antusias terhadap proses demokrasi?
Masyarakat indonesia saat ini sudah cerdas.. Itu yang terjadi di 2009. Sayangnya elite politik kita tidak sadar terhadap itu. Rakyat kita masih disuguhkan pola2 politik masa lalu. Dangdutan, bagi2 barang, serangan amplop, iklan2 muluk, iklan saling menghujat, dan lain sebagainya... Hasilnya? Tingkat ketidakpedulian masyarakat terhadap proses demokrasi rendah..
Saat ini di masa pemilihan pilpres. Sekali lagi kita lihat pembodohan publik oleh elite yang menganggap masyarakat bodoh dan tidak mengerti siapa yang harus dipilih.. Lagu indomie, deklarasi di tempat sampah , bluffing soal siapa yang paling berjasa di pemerintahan lalu, dan lain-lain.. Semua capres menurut saya tidak bisa melihat jernih bahwa masyarakat kita tidak bodoh dan tidak mudah ditipu oleh capres. Sejak hari pengumuman capres-cawapres, 60 % pemilih sudah tau siapa yang akan dipilih..silahkan di survei.
Tindakan saling menghuja
t di depan publik dan ketidaksportifan capres makin membuat masyarakat skeptis. Yang dibutuhkan masyarakat adalah sikap ksatria dan sportif. Kalau jdi capres aja tdk sportif, gmana jadi presiden...
Kita kembali ke kasus sahabat saya. Negara ini butuh perubahan, dan perubahan harus dilakukan oleh orang2 yang berpikiran jernih dan kompeten. Perubahan akan lebih sulit dilakukan oleh orang yang menganggap menjadi politisi adalah pekerjaan dan tempat mencari profit..dan kehilangan seorang calon politisi dri kancah perpolitikan adalah sebuah kehilangan besar...
Sangat disayangkan apabila kemudian masyarakat kita pun mengalami hal yang sama dengan sahabat saya. Kejenuhan mereka terhadap perilaku politisi membuat timbul sikap apatis dan skeptis terhadap proses demokrasi dan apa yang dihasilkan dari nya.
Proses demokrasi seharusnya memberikan harapan akan sebuah keberlanjutan pemerintahan atau harapan terhadap pemimpin baru. Bukan kemudian menambah beban pikiran masyarakat dengan isu neolib (naon eta neolib??) Yang hanya menjadi konsumsi para jamaah wacananiyyah. Atau membuat bingung ekonomi kerakyatan atau merakyatkan ekonomi.. Apalagi dengan berebutan klaim siapa yang berkontribusi terhadap berdirinya jembatan..
Kembalikan dinamika politik dan demokrasi ke rakyat nya.. Jangan kemudian terlalu asik bermanuver dan meninggalkan rakyatnya sendiri.
Catatan kecil buat sahabat saya " kalau udah gak bosen dengan politik, bilang2 ya...."
-catur-
Tulisan ini dibuat 2 hari di atas gdaget favorit saya.. Ketika nge blog menjadi lebih mudah ...
Foto ini adalah koleksi pribadi di hari pemilu
Sent from caturberry® nya XL










apa yang catur ungkapkan di tulisan catur boleh dibilang sama dengan apa yang saya pikirkan setelah menonton acara dialog di tipi atw acara debat capres. pembodohan massal dan terstruktur.
kenapa masyarakat masih disuguhi menu itu2 saja?seolah2 hal2 seperti itu masih laku. lagi2 soal isu agama, lagi2 soal isu ras, lagi2 soal isu jawa non jawa. apa sih relevansinya hal2 kaya gitu dengan kapabilitas seseorang memanage negara ini?
Dan menurut saya, selain pemain politik [parpol dan politisi], media juga membantu mempercepat proses pembodohan massal ini karna lebih sering menayangkan aspek gosip [energi negatif] dari dunia politik.
kejenuhan masyarakat akan politik negara ini sebenarnya bukan terjadi akhir2 ini, tp sudah lama. Tapi kalau dipikir2 bukan kejenuhan akan politik itu sendiri tapi mungkin dengan menu politik yang nyaris tidak ada perubahan dalam satu dekade terakhir. saya setuju politik kita perlu penyegaran, entah itu pemainnya, sistemnya, iklimnya.