Transformasi Pemukiman : Kasus Kota Sawahlunto
Thursday, January 05, 2012

Transformasi Pemukiman : Kasus Kota Sawahlunto

Elkana Catur H

(Hasil Refleksi Beberapa Kali perjalanan Dinas)

Kota merupakan perpaduan dari sistem dan implementasi dari aspek politik, teknik, ekonomi, budaya dan ideologi yang dipadukan oleh pengetahuan dalam usaha membangun sebuah lingkungan terbangun untuk kehidupan sekelompok manusia (Sassen, 2009). Webber (1922) memberikan pandangan mengenai kota “The city is a settlement of closely spaced dwellings which form a colony so extensive that the reciprocal personal acquaintance of the inhabitants, elsewhere characteristic of the neighborhood, is lacking”.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka dapat di pahami perkembangan kota-kota di Indonesia adalah interaksi dari berbagai kepentingan dan kriteria yang mengalami proses tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam melaksanakan hidup baik secara individu dan masyarakat. Kota sebagai bagian dari permukiman sebagian besar terbentuk disebabkan oleh adanya sebuah kepentingan yang perlu di akomodir, seperti keagamaan, perniagaan, pusat pendidikan dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalan waktu fungsi-fungsi awal dapat berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan dari masa ke masa.

Hal yang serupa dapat kita amati di Kota Sawahlunto. Di kota tersebut tampak terlihat permukiman mengalami transformasi baik secara fisik, ekonomi dan sosial disebabkan oleh perubahan kebutuhan masyarakat dan kota.

Kota Sawahlunto merupakan kota tambang, yang dimulai sejak ditemukannya cadangan batu bara di kota ini pada pertengahan abad ke-19 oleh Ir. de Greve, yang kemudian sejak 1 Desember 1888. Kota ini mulai memproduksi batu bara sejak tahun 1892 dan seiring dengan itu kota ini mulai menjadi kawasan perumahan pekerja tambang, dan berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang. Kenaikan jumlah penduduk banyak disebabkan oleh datangnya pekerja tambang dari Pulau Jawa yang sebagian besar merupakan tahanan politik.

Seiring dengan berakhirnya kegiatan pertambangan di akhir tahun 90an, Kota Sawahlunto sempat mengalami stagnansi perkembangan. Hal ini terlihat dari angka pertumbuhan jumlah penduduk yang negatif disebabkan oleh arus penduduk keluar yang sebagian besar merupakan pegawai perusahaan tambang. Sektor basis ekonomi pertambangan yang berakhir menjadikan kota ini menjadi tempat yang kurang menarik bagi kegiatan perdagangan dan jasa dari luar wilayah. Hal ini terlihat dari Indikator ekonomi yaitu nilai Pertumbuhan ekonomi Kota Sawahlunto yang pertumbuhannya negatif pada periode 2000-2003.

Di sisi lain, sisa-sisa kegiatan tambang masih banyak terlihat dan membentuk citra kota secara visual dan sosial, seperti gedung perkantoran, gedung kesenian, pabrik pengolahan batubara, lubang bekas galian tambang, dll. Bekas kegiatan tambang ini yang kemudian menginspirasi Pemerintah Kota Sawahlunto untuk merubah orientasi wilayah menjadi kegiatan pariwisata dengan mencoba memanfaatkan bekas kegiatan pertambangan.

Tranformasi permukiman dari sebuah kota tambang menjadi kota wisata secara cepat dan bertahap turut merubah pola-pola interaksi antara komponen-komponen permukiman yang disampaikan oleh Doxiadis. Analisa dengan menggunakan dimensi man, shell dan society terbukti harus dilengkapi dengan dimensi waktu untuk melihat kasus Sawahlunto. Perubahan karakter permukiman di Sawahlunto banyak disebabkan oleh kondisi-kondisi yang berubah oleh berjalannya waktu. Perubahan hubungan tersebut tampak baik dari bentuk bangunan fisik ataupun kegiatan masyarakat.

Tranformasi Kota Sawahlunto

Doxiadis (1968) menyampaikan bahwa dalam sebuah permukiman terdapat beberapa elemen yang membentuk yaitu, Nature, Man, Shell, Society dan Network. Hubungan antar kelima elemen tersebut baik secara simultan ataupun eksklusif yang kemudian membentuk jenis, kondisi dan situasi sebuah permukiman.

Melalui pengamatan terhadap elemen tersebut, maka dilakukan perbandingan antara elemen di Sawahlunto pada masa lalu dan masa sekarang

Perbandingan Elemen Permukiman Kota Sawahlunto

Sawahlunto Masa Lampau

Sawahlunto Masa Kini

Nature

Terletak ± 90 km dari Kota Padang (ibu kota propinsi sumbar). Morfologi wilayah Kota Sawahlunto berada pada daerah perbukitan dengan ketinggian antara + 250 – 650 m di atas permukaan laut dan membentang dari Utara ke Selatan. Luas Kota Sawahlunto 27.344,7 ha atau sekitar 0,65% dari luas Propinsi Sumatera Barat,merupakan kota nomor dua terluas setelah Kota Padang.

Memiliki kandungan Batubara kualitas tinggi dalam jumlah yang besar sehingga menyebabkan kota ini menjadi salah satu kota strategis di wilayah Sumatra.

Kandungan batubara ini memiliki volume yang diperkirakan cukup hingga 200 tahun masa eksplorasi (ditemukan tahun 1888). Kandungan batubara ini yang kemudian menjadi titik awal berkembangan kawasan permukiman.

Kandungan batubara sudah tidak mencapai skala ekonomi yang mencukupi, sehingga perusahaan tambang kemudian tidak melanjutkan kegiatan pertambangan di kota Sawahlunto

Saat ini banyak bekas-bekas galian tambang yang masih tersisa disertai dengan beberapa kegiatan pertambangan liar.

Human

Didominasi oleh pekerja tambang baik yang bekerja sebagai pegawai ataupun pekerja paksa

Penduduk banyak berasal dari luar wilayah kota Sawahlunto yang didatangkan dari Jawa untuk bekerja di perusahaan tambang

Sebagian besar pekerja yang didatangkan dari Jawa adalah para tahanan yang dijadikan pekerja paksa. Orang-orang tersebut di sebut “orang rantai”.

Saat ini penduduk Kota Sawahlunto berasal dari multi etnis yang sebagian besar merupakan keturunan dari para pekerja tambang di masa lampau. Sebagian besar pekerja di dominasi oleh Pegawai negeri, pedagang dan petani.

Shells

Perumahan terbagi menjadi beberapa segmen

1. Perumahan untuk pegawai tambang tingkat manajemen yang didominasi oleh Bangsa Belanda

2. Perumahan untuk pegawai administrasi baik Bangsa Belanda ataupun Pribumi (baik berasal dari Sumatra Barat atau dari luar Pulau)

3. Perumahan untuk pekerja yang bukan berasal dari tahanan

4. Barak untuk pekerja kasar yang berasal dari tahanan yang datang dari pulau Jawa

Pada awal Kota Sawahlunto berdiri hanya dijumpai dua macam gaya arsitektur yaitu arsitektur “kolonial” atau disebut juga gaya “indis” dan arsitektur pecinaan.

Selain bangunan perumahan, beberapa bangunan yang berkembang seperti kantor perusahaan tambang, pabrik pengolahan batubara, stasiun kereta api, dapur umum dan beberapa sarana pendukung lainnya, seperti drainase, air bersih, pengolahan sampah.

Seluruh bangunan dan sarana dibangun untuk mendukung kegiatan pertambangan dan karyawan yang bekerja di perusahaan tambang

Struktur bangunan dan sarana pendukung yang ada memanfaatkan infrastruktur yang dibangun sebelumnya dengan beberapa bangunan menyesuaikan dengan perkembangan gaya arsitektural yang saat ini ada di Indonesia.

Saat ini kantong-kantong perumahan tidak terbagi lagi dan cenderung menyebar sesuai dengan perkembangan kota. Bangunan-bangunan klasik bekas kegiatan tambang banyak yang diubah menjadi kegiatan wisata seperti museum, hotel, gedung pertemuan warga, dan lain sebagainya.

Untuk perumahan warga, tersebar hingga keluar kota inti sampai batas wilayah kota Sawahlunto, terutama penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Adanya kegiatan-kegiatan pariwisata juga memicu pola perumahan yang berbeda dan mendekati kawasan-kawasan wisata tersebut.

Sarana prasarana pendukung telah mengalami peningkatan kapasitas sesuai dengan perkembangan kota, seperti rencana rehabilitasi pembangunan Pasar Sawahlunto dan lain sebagainya

Society

Pada jaman sebelum kemerdekaan, Pranata sosial dan norma yang dibangun di Masyarakat pada awalnya ditujukan untuk kegiatan pertambangan, sehingga tercipta kelas-kelas dalam masyarakat serta stigma-stigma yang mengarah pada hak-hak tertentu, seperti sebutan orang rantai (untuk pekerja tambang yang berasal dari jawa). Di Sawahlunto, pranata sosial yang terbentuk relatif berbeda dengan wilayah Sumatra Barat lainnya. Hal ini disebabkan kehidupan kota yang dibentuk berdasarkan kebudayaan multi kultur dari penduduknya

Kelompok masyarakat yang dibentuk paska jaman kemerdekaan hanya terdiri dari pekerja dan non pekerja perusahaan tambang yang tidak disertai dengan pemberian hak khusus yang mengarah ke hak politik

Hubungan antara kelompok masyarakat atau individu relatif dibangun berdasarkan kepentingan industri tambang

Pembagian kelas disertai dengan hak-hak khusus dan seringkali ditambah dengan stigma-stigma yang menempel

Kondisi ini seringkali menimbulkan konflik sosial dan kesenjangan

Pada jaman kemerdekaan, kelompok-kelompok masyarakat yang ada lebih cair dan egaliter walaupun ada kategorisasi antara pekerja perusahaan tambang dengan non-pekerja perusahaan tambang. Kategorisasi ini tidak disertai dengan diskriminasi

Setelah kegiatan pertambangan, selesai kelompok-kelompok masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok profesi atau wilayah

Relatif tidak terjadi pembagian kelas yang bersifat vertical yang disertai hak-hak khusus.

Hubungan antar kelompok ataupun antar individu relatif tidak ada kesenjangan yang signifikan.

Hubungan yang terjadi bersifat fungsional dan sesuai kepentingan masing-masing individu yang di sesuaikan dengan profesi atau wilayah geografisnya.

Networks

Untuk memperlancar arus distribusi barang, Pemerintah Belanda membangun Jalur Kereta api yang menghubungkan Kota Sawahlunto dan Pelabuhan Teluk Bayur.

Selain itu telepon mulai masuk ke dalam kota untuk meningkatkan arus informasi dari dan keluar kota Sawahlunto, terutama untuk kepentingan kegiatan pertambangan yang dilakukan perusahaan Belanda.

Infrastruktur kereta api yang dibangun membentuk struktur dan pola ruang tidak hanya untuk Kota Sawahluunto melainkan Provinsi Sumatra Barat secara umum

Seiring dengan terhentinya kegiatan pertambangan, maka pada akhir tahun 1990an kegiatan kereta api dihentikan karena volume nya yang berkurang.

Kota Sawahlunto dilalui oleh Jalur Lintas Timur Sumatra yang menghubungkan wilayah Utara Sumatra hingga ke wilayah Selatan dan menjadi jalur logistic barang-barang kebutuhan pokok dari Pulau Jawa.

Jaringan telekomunikasi dan listrik berkembang seiring dengan perkembangan jaman yang berperan besar dalam meningkatkan fungsi perkotaan

Dari analisa di atas, dapat diamati bahwasanya perubahan fungsi awal kota, terutama yang bersifat ekstrem seperti Kota Sawahlunto, akan diikuti perubahan secara fisik ataupun sosial yang mempengaruhi kualitas permukiman. Perubahan-perubahan tersebut disesuaikan untuk menyesuaikan kepentingan manusia dalam bertempat tinggal di kawasan permukiman.

Kasus serupa seperti Sawahlunto juga dapat diamati pada Kawasah Ruhr di Jerman. Dimana fungsi kota sebagai kota tambang batubara diganti ke fungsi perdagangan jasa dan pariwisata. Secara fisik infrastruktur dan kegiatan perekonomian terjadi perubahan yang signifikan.Penghentian kegiatan pertambangan menyebabkan tingginya angka pengangguran, pertumbuhan ekonomi negatif, kerusakan lingkungan akibat kegiatan paska tambang dan lain sebagainya. Situasi tersebutlah yang kemudian menyebabkan terjadinya transformasi sebagaimana yang terjadi di Kota Sawahlunto

Perkembangan kota yang terjadi paska era pertambangan, terutama yang diakibatkan oleh perkembangan kegiatan pariwisata, menyebabkan perubahan guna lahan di kota Sawahlunto. Perubahan yang signifikan terjadi untuk kegiatan pertanian dan perkebunan skala kecil yang dikembangkan oleh penduduk. Peningkatan kegiatan pertanian dan perkebunan salah satunya disebabkan oleh kebijakan Pemerintah Kota Sawahlunto yang menggerakan sektor pertanian melalui program pemberian bibit gratis, dan lain sebagainya

Visi dari Pemerintah Kota Sawahlunto adalah “Terwujudnya Kota Sawahlunto Menjadi Kota Wisata dan Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan Untuk Menuju Kota Yang Berbudaya dan Sejahtera”. Dengan misi dari Kota Sawalunto adalah

v Memelihara dan Mengamalkan Nilai-Nilai Dasar Agama dan Adat Istiadat Serta Menciptakan Kondisi Yang Kondusif Ditengah-Tengah Masyarakat.

v Menumbuh Kembangkan Sektor Riil Dengan Menitik Beratkan Pada Ekonomi Kerakyatan.

v Meningkatkan Kualitas Aparatur dan Masyarakat

v Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Sarana Prasarana Dasar.

v Mengembangkan Kepariwisataan

Dengan visi misi tersebut, maka Pemerintah Kota Sawahlunto secara massif melaksanakan berbagai program dan kegiatan yang diperuntukkan untuk melakukan revitalisasi kawasan yang ditujukan untuk mengembangkan Kota Sawahlunto sebagai destinasi utama Pariwisata di Sumatra Barat. Berbagai kegiatan yang dilakukan seperti pembangunan water boom, pembangunan kebun binatang, pembangunan arena pacuan kuda, merubah beberapa bangunan kuno menjadi tempat wisata dan museum, dan lain sebagainya.

Apabila memperhatikan bagian-bagian dari permukiman sebagaimana yang disampaikan oleh Doxiadis, yaitu central, Homogenous, Circulatory dan special part, maka terjadi pergeseran-pergeseran struktur ruang yang diakibatkan oleh perkembangan aktivitas manusia dan kegiatan ekonomi yang mendominasi Kota Sawahlunto.

Pada gambar dibawah terlihat struktur permukiman kota Sawahlunto di Awal abad 20, dimana terdiri dari beberapa klaster yang dipisahkan berdasarkan fungsi dan segregasi sosial yang diciptakan. Pada gambar dibawah terlihat pusat kota, yang penduduknya terdiri dari pegawai administrasi, terletak jauh dengan perumahan pekerja tambang, baik yang berasal dari Jawa atau wilayah Sumatra Barat itu sendiri.


Berdasarkan bagian permukiman yang disampaikan oleh Doxiadis, maka dapat dianalisa perubahan-perubahan struktur ruang di Kota Sawahlunto masa lalu dengan masa kini dengan memperhatikan fungsi-fungsi yang dahulu berkembang dan saat ini berlangsung.n

Sawahlunto Masa Lampau

Sawahlunto Masa Kini

Central Part

Pusat kota tua merupakan kantor pusat perusahaan tambang dari sejak jaman belanda hingga jaman kemerdekaan. Selain itu terdapat kegiatan komersil untuk memenuhi kebutuhan karyawan ataupun perusahaan tambang

Pusat kota yang terpusat disebabkan kebutuhan untuk menjalankan kegiatan pertambangan, sementara kegiatan tambang dahulu dilaksanakan di wilayah sekitar pusat kota

Kegiatan yang berkembang di pusat kota banyak berkaitan dengan kepentingan manajemen perusahan tambang dan layanan terkait seperti rumah sakit, pendidikan dan lain-lain.

Pusat kota Sawahlunto saat ini terdiri dari bagian kota tua Sawahlunto dan pusat Pemerintahan.

Dari lokasi, tidak terjadi perubahan lokasi dari pusat kota Sawahlunto. Perkembangan kota menyebabkan berubahnya fungsi serta pola interaksi penduduk yang tinggal di pusat kota. Fungsi manajemen perusahaan bergeser menjadi fungsi manajemen pemerintahan Kota Sawahlunto.

Pusat kota yang awalnya hanya diperuntukkan untuk orang Belanda dan Pegawai yang notabene merupakan warga kelas satu, saat ini dapat ditempati secara tanpa ada segregasi sosial berdasarkan ras dan kelas ekonomi.

Kegiatan yang berkembang selain fungsi pemerintahan adalah kegiatan pariwisata yang memanfaatkan banyaknya bangunan-bangunan kuno bekas kantor tambang yang dimanfaatkan sebagai museum dan hotel.

Homogenous

Bagian permukiman ini didominasi oleh kegiatan eksplorasi tambang batubara yang berada di sekitar Kota Inti Sawahlunto. Pada awal berdirinya kota Sawahlunto, kegiatan pertambangan menguasai sebagian besar wilayah. Pada masa itu, relatif tidak ada kegiatan lain selain kegiatan pertambangan. Pada gambar 6 terlihat perbandingan luasan kegiatan pertambangan dibandingkan dengan kegiatan lain yang ada di Kota Sawahlunto

Bagian permukiman ini didominasi oleh kegiatan pertanian/perkebunan yang dilakukan oleh Masyarakat. perkembangan kegiatan ini salah satunya disebabkan oleh Kebijakan Pemerintah Kota Sawahlunto yang mendorong kegiatan pertanian/perkebunan oleh Masyarakat melalui pemberian bibit gratis, pembangunan jalan produksi dan lain sebagainya.

Data RTRW terakhir (Gambar 3) menunjukkan kegiatan perkebunan campuran mengambil porsi hingga 35 % dari Kota Sawahlunto.

Circulatory

Jaringan jalan dalam pusat kota dibentuk oleh bangunan-bangunan yang mendukung kegiatan pertambangan. Jalan-jalan yang dibangun mengikuti kontur wilayah yang berbukit sehingga tidak memungkinkan dibangung dengan luas yang lebar.

Jaringan ke luar wilayah ditopang oleh jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dan Kota Padang (pelabuhan Teluk Bayur). Jalur kereta api pada masa itu menjadi jalur utama dan strategis di wilayah Sumatra Barat

Rel Kereta Api dan Stasiun Kereta Api pada awalnya mendukung fungsi distribusi barang dan orang di Sawahlunto. Pada saat kegiatan tambang dihentikan, maka otomatis jaringan Kereta Api tidak berfungsi sebagaimana dirancang di awal yaitu simpul transportasi kota Sawahlunto. Saat ini kereta Api dan Stasiun KA berubah fungsinya menjadi kegiatan pariwisata.

Jaringan Jalan internal dan eksternal di banyak dipengaruhi oleh letak dan posisi kota Sawahlunto yang berada di Jalur Lintas Sumatra.

Transformasi fungsi pertambangan menjadi Pariwisata tidak terlalu signifikan mempengaruhi pola jaringan jalan.

Special Part

Pada zaman pra kemerdekaan, yang termasuk dalam bagian ini adalah barak untuk para pekerja yang berasal dari tahanan dari Pulau Jawa. Dari gambar 6 terlihat bahwasanya bagian ini diletakkan jauh terpisah dengan bagian pusat kota.

Hal ini ditujukan agar tidak terjadi percampuran kegiatan antara pekerja paksa dengan karyawan perusahaan tambang dan keluarganya. Segregasi sosial seperti ini sangat umum terjadi pada kota-kota yang dibangun oleh kolonialisme.

Saat ini banyak terjadi perubahan fungsi kekhususan dari bagian kota. Perumahan pekerja tambang tidak menjadi bagian khusus seiring dengan tidak adanya konsep segregasi sosial pada masa sekarang.

Bagian kota yang dianggap khusus adalah kegiatan-kegiatan yang diperuntukkan untuk kegiatan pariwisata, seperti Museum Kereta Api, Museum Gudang Ransoem, Waterboom, Kebun Binatang dan lain sebagainya.

Kekhususan ini terlihat dari fisik bangunan ataupun fungsi strategis dari bagian tersebut terhadap perekonomian Kota Sawahlunto

Mengamati Kota Sawahlunto membuktikan bahwasanya sebuah Permukiman tidak bisa dipandang sebagai sebuah satuan kaku yang tidak beradaptasi. Transformasi Kota Sawahlunto menunjukkan Kota menjadi sangat dinamis dan organis dalam menghadapi kebutuhan jaman dan masyarakatnya. Transformasi fungsi tersebut merubah kota baik secara fisik dan sosial sesuai dengan kebutuhan warga kota. Dengan memanfaatkan elemen permukiman yang disampaikan oleh Doxiadis maka dapat terlihat perubahan-perubahan yang terjadi di Kota Sawahlunto yang berdampak pada aspek politik, fisik, sosial dan budaya dari Permukiman tersebut.

Daftar Referensi

1. Doxiadis, C.A. Ekistic: Introduction to the Science of Human Settlement. London: Hutchinson, 1968.

2. Martokusumo, Dr.-Ing. Ir. Widjaja. 2008. The Ex-Coal Mining City of Sawahlunto Revisited: Notions on Revitalization, Conservation and Urban Development. Makalah dipresentasikan pada

3. RPJMD Kota Sawahlunto 2008-2013

4. RTRW Kota Sawahlunto 2010-2030

5. Sasskia Sassen, et al.2009. Human Settlement Development. UNESCO-EOLSS

6. Sejarah Kota Sawahlunto. http://www.sawahluntokota.go.id/

7. Webber, Max. 1966. The City.

Comments:
    INDONESIA=LUAR BIASA
    Tuesday, September 13, 2011

    Saya selalu menganggap negara ini adalah negara yang luar biasa….

    Pernyataan ini muncul bukan karena saya ingin mendapatkan pencitraan sebagai seorang nasionalis narsis yang ingin menyuarakan kepada dunia betapa saya mencintai Negara ini. Sepertinya tidak ada niat itu…

    Pemikiran itu muncul tiap kali saya melihat raut muka masyarakat Indonesia yang lelah tapi penuh optimis, tiap kali saya keluar kota dan menikmati betapa damainya indah dan suburnya Negara ini tatkala sawah-sawah penuh dengan padi menguning, bertemu dengan orang-orang luar biasa baik dalam interaksi fisik maupun virtual, membaca berita-berita positif mengenai keberhasilan Indonesia, dan lain sebagainya…

    Indonesia memiliki banyak masalah?? Ya tentu saja… Negara besar selalu memiliki masalah, karena masalah lah yang kemudian membesarkan sebuah bangsa.. tidak percaya?? Jepang menjadi besar setelah kalah paska perang dunia dan di bom oleh Amerika, Jerman bangkit dari keterpurukan setelah di cap sebagai Negara pembantai etnis, Korea bangkit dari resesi setelah dipimpin rezim militer bertahun-tahun, dan banyak cerita lainnya dari berbagai belahan dunia..

    Orang Indonesia banyak yang korup?? Korupsi itu kata orang sudah membudaya, walau itu adalah budaya yang negatif. Statement itu mungkin peru di cek bukti empirisnya, tapi satu yang gue pahami pasti itu harus dilawan. Gimana cara lawannya, gak lain dan gak bukan ya law enforcement. .. ah sulit karena law enforcernya pun banyak mengalami masalah.. ya kalau ngomong sulit mulu kapan dikerjainnya…

    Potensi kita lebih besar dari permasalahan-permasalahan yang kita hadapi sebagai sebuah bangsa. Jadi menurut saya waktu kita akan sangat banyak terbuang apabila kita habiskan dengan cara menghujat, menjelek-jelekkan dan komentar negative lainnya. Eitsss jangan salah dulu, jangan kemudian diartikan pernyataan saya ini sebagai larangan untuk mengkritik. Kritik pada satu titik adalah satu hal yang amat diartikan di Negara demokrasi seperti Indonesia. Kritik adalah kemewahan yang dibeli oleh masyarakat Indonesia melalui proses reformasi yang memakan korban jiwa.

    Mengkritik pemerintah adalah bagian dari dinamika dan control sosial terhadap pihak penguasan yang harus tetap dipertahankan. Tetapi tentunya kritikan harus diikuti dengan kontribusi juga terhadap kemajuan kehidupan bangsa. Sekecil apapun yang kita lakukan saya selalu percaya pada teori momentum. Tindakan-tindakan kecil yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok masyarakat pada satu titik akan saling bertumbuk dan berinteraksi sehingga menciptakan momentum kecil. Momentum-momentum kecil tersebut akan saling bertumbuk dan terakumulasi menjadi momentum besar

    Ok kembali kepada statement awal saya mengenai Negara Indonesia yang luar biasa. Pengamatan saya selama ini permasalahan mendasar dari Negara ini ada di 2 titik. Pendekatan pengelolaan Negara yang buruk dan optimism bangsa yang tidak terbentuk. Perbaikan di 2 titik ini yang saya yakini akan menjadi momentum signifikan dalam mendorong kemajuan bangsa.
    Negara ini butuh rakyatnya.. rakyat yang bergerak dan bekerja keras untuk keluarganya yang secara perlahan akan menggerakan sebuah Negara. Rakyat yang memiliki optimism yang besar bahwa kondisi yang baik datang dari mimpi yang baik warga negaranya. Rakyat yang memiliki hati nurani untuk mengkritik dan member masukan bagi para pimpinan bangsa… situasi Indonesia saat ini menyebabkan Negara ini tidak bisa menggantungkan harapan perubahan datang dari para penguasa. Kondisi saat ini membutuhkan rakyat yang memiliki daya dorong yang signifikan dalam meningkatkan kemajuan bangsa.

    Sangat sayang sekali, apabila 200 juta penduduk Indonesia dibiarkan terbengkalai dan kelaparan. Sungguh mubazir apabila kekayaan alam Indonesia hanya bisa dinikmati pebisnis luar negeri tanpa memiliki kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. sangat menyedihkan apabila keindahan negeri ini di satu saat hanya bisa dinikmati oleh generasi anak cucu melalui Wikipedia dan ensiklopedi

    Negara ini Negara luar biasa.. dan butuh dukungan kita semua untuk membuatnya menjadi lebih Luar biasa….

    Comments:
      SERBUAN PENDUDUK DI KALA LEBARAN
      Sunday, September 04, 2011

      Sejak jaman saya sudah mulai memperhatikan berita baik di Koran atau TV (sekitar 20 tahun yang lalu), ada beberapa topic yang selalu menjadi trending topic (meminjam istilah twitter) tiap tahunnya di hari raya idhul fitri, yaitu Penentuan hari raya lebaran, Suasana Arus Mudik, harga bahan pokok menjelang lebaran, arus penduduk dari luar daerah menuju Jakarta dan Sekitarnya, serta beberapa topik lainnya.arg

      pada tulisan kali ini saya akan membahas sedikit mengenai arus penduduk dari daerah menuju Kota Jakarta dan sekitarnya.

      Kota Jakarta sejak jaman belanda telah menjadi lokasi paling favorit bagi orang-orang dari penjuru nusantara untuk mengadu nasib dan mencari penghidupan untuk meraih mimpi memiliki kehidupan yang lebih baik. Hingga saat ini, Jakarta masih menjadi prime location bagi masyarakat daerah dalam usaha meningkatkan derajat kehidupan.

      Pada dua dekade terakhir banyak kota-kota di Indonesia yang berkembang pesat membentuk megaurban seperti Jabodetabek, Gerbangkertasusila, Bandung Raya dan lain-lain. Megaurban ini menarik kegiatan dan sumberdaya yang ada di wilayah sekitarnya, sehingga terkonsentrasi pada kota-kota utama dalam wilayah megaurban tersebut.

      Pada sensus yang dilakukan di tahun 2010, Jumlah Penduduk di DKI Jakarta sudah mencapai angka 9,5 juta jiwa dengan jumlah penduduk di kawasan Jabodetabek sebesar 28 Juta jiwa. Pada tahun 2016, Jumlah penduduk di Kawasan Jabodetabek diperkirakan mencapai 35 Juta jiwa dimana kenaikan tersebut berasal dari pertumbuhan alami dan arus urbanisasi penduduk dari luar kawasan.Dari data BPS tersebut, setiap tahunnya terjadi penambahan penduduk sekitar 200.000-250.000 yang berasal dari arus migrasi keluar dan masuk penduduk di Kawasan Jabodetabek. Banyak ahli yang berpendapat bahwa angka ini jauh lebih besar apabila memperhitungkan jumlah pendatang illegal yang beraktivitas di Jakarta tanpa melakukan proses administrasi kependudukan sebagai Kota Jakarta

      Pertumbuhan penduduk ini sayangnya diikuti oleh permasalahan-permasalahan yang muncul dibelakangnya, seperti jumlah pengangguran yang mencapai angka 6 % dari jumlah penduduk (walau masih dibawah rata-rata nasional, tetap menjadi masalah yang serius), jumlah penduduk miskin yang mencapai 5 persen dari jumlah penduduk, kepadatan penduduk yang tinggi ( 13.000 jiwa/ Km2 ) yang melahirkan kawasan-kawasan kumuh, dan seabrek persoalan lainnya.

      Berbicara migrasi penduduk secara eksesif ke wilayah Jabodetabek, maka tidak lepas kebijakan pemerintah Indonesia di masa lalu yang menerapkan kebijakan pembangunan terpusat melalui pengembangan pusat pembangunan yang diharapkan dapat melahirkan sebuah trickle-down effect ke wilayah di bawahnya. kebijakan pembangunan yang diterapkan yang mendukung konsep growth pole menimbulkan permasalahan, seperti urban bias (bias perkotaan), pro Jakarta, sentralisasi kegiatan industri, dan lain-lain.

      Serangkaian kebijakan ini mengakibatkan perkembangan kota Jakarta sangat pesat sehingga meninggalkan wilayah sekitarnya. Trickle down effect yang diharapkan muncul dari konsep ini tidak berjalan dan malah mengakibatkan tingkat kesenjangan antar wilayah semakin besar. Fenomena kota primasi, pada kawasan Jabotabek, menunjukkan ketimpangan dan kesenjangan yang besar antara kota besar dengan kota sekitarnya.

      Dalam pembangunan dikenal adanya dua pendekatan yang dilakukan dalam usaha meningkatkan pertumbuhan pada sektor ekonomi. Pendekatan pertama mengemukakan bahwa investasi pada sektor pertanian dapat menyediakan modal bagi pengembangan industri dan perkotaan, sementara itu pendekatan kedua mengemukakan bahwa pertumbuhan industri dan perkotaan menjadi syarat bagi sektor pertanian yang lebih modern dan produktif (Escobar 1955). Teori dan pelaksanaan pembangunan baik yang dilakukan di Indonesia maupun negara lain sebagian besar masih mendikotomikan antara kota dan desa baik dalam hal lokasi, penduduk maupun aktivitas, yang tercermin dengan adanya dualisme pembangunan antara perkotaan dan perdesaan yang menyebabkan terjadinya distorsi hubungan antara perkotaan dan perdesaan.

      Pembangunan yang lebih banyak difokuskan di perkotaan (memfokuskan pada pembangunan industri) dibandingkan di perdesaan (melalui pembaharuan sektor pertanian) menyebabkan terjadinya ‘urban bias’, yang mencerminkan alokasi sumberdaya yang lebih berpihak pada kota. Pada sisi lain, dalam perencanaan kota biasanya hanya terkonsentrasi di perkotaan dan sedikit menyinggung sektor pertanian, sedangkan perencanaan pembangunan perdesaan cenderung mengabaikan perkotaan dan mendefinisikan wilayah perdesaan hanya desa dengan areal pertaniannya saja. Hal-hal tersebut menyebabkan pembangunan pada kota menimbulkan permasalahan seperti urbanisasi dan sektor informal yang tidak terkontrol, di sisi lain pada wilayah perdesaan terjadi tekanan terhadap penduduk dan sumber daya alam, timbulnya kemiskinan di perdesaan, degradasi lingkungan serta merenggangnya hubungan sosial yang ada.

      Kebjakan dan situasi yang kemudian menimbulkan push factor dan pull factor dalam arus migrasi masuk penduduk ke Kota Jakarta pada saat lebaran, walau data menunjukkan bahwa arus ini terjadi sepanjang tahun dimana Lebaran hanya salah satu momen saja dari arus migrasi masuk ini. Push factor seperti kemiskinan didesa, ketiadaan lapangan kerja, semakin sempitnya lahan pertanian, dan lain sebagainya diyakini sebagai komponen utama yang merangsang penduduk untuk meninggalkan daerahnya dan menuju kawasan perkotaan yang lebih maju (salah satunya kota Jakarta). Pull factor yang menjadi penarik arus migrasi masuk tercipta dari ; figur-figur kesuksesan yang muncul pada saat mudik, monumen-monumen materialistis kehidupan kota Jakarta yang terlihat di Sinetron-sinetron, pembangunan kota Jakarta yang gemerlap dengan infrastruktur kelas atasnya dan lain sebagainya.

      Saya memiliki pendapat bahwasanya situasi ini akan terus berlanjut tanpa dilakukannya pembangunan yang menyeluruh kepada seluruh penjuru Indonesia. kita tidak mungkin menghentikan kegiatan pembangunan di Kota Jakarta, karena peran strategisnya sebagai Pusat ekonomi dan pusat pemerintahan Indonesia. memindahkan kota Jakarta diyakini sebagian pihak hanya akan memindahkan 20-30% kegiatan di Jakarta dimana kegiatan Perekonomian yang merupakan Jantung kehidupan kota Jakarta akan terus menerus menarik pendatang dari luar daerah.

      Problematika inilah yang harus dihadapi oleh para Calon gubernur Jakarta lima tahun ke depan. Seluruh calon gubernur harus mampu menyusun program ini dengan pendekatan yang humanis dan kolaboratif. Penanganan-penanganan yang bersifat antisipatif harus dikedepankan dibanding penanganan yang bersifat hukuman yang bertahun-bertahun tidak pernah berhasil. Calon gubernur dapat memulai dengan pembenahan sistem kependudukan di DKI Jakarta. Begitu banyak peluang yang bisa di eksplorasi dari sistem tersebut yang diyakini dapat secara signifikan mengantisipasi permasalahan imigrasi, termasuk didalamnya kebijakan politik belanja pegawai yang sangat besar yang dapat di realokasi kepada penanganan masalah kependudukan yang sudah semakin akut di DKI Jakarta.

      -catur-

      Comments:
        Transformasi Menuju IAP 2.0
        Friday, July 01, 2011

        Oleh : Elkana Catur H (Pengurus Nasional IAP)

        Waktu 10 tahun tentunya banyak memiliki perubahan. Begitu juga dengan dunia tata ruang yang mengalami secara signifikan, sehingga merubah wajah pembangunan Indonesia. Salah satunya desentralisasi yang memberikan peran besar bagi Pemerintah Daerah dalam mengelola pembangunan. Selain itu, dekokratisasi yang menuntut peran besar dari masyarakat dalam penataan ruang, urbanisasi sehingga menuntut pengelolaan perkotaan yang sustainable, degradasi lingkungan baik di kawasan perkotaan maupun kawasan hutan.Tantangan dan permasalahan pun muncul yang direspon dunia perencanaan dengan melakukan revisi terhadap UU No.4/1992, tentang Penataan Ruang menjadi UU No. 26/2007. Salah satu perubahan UU tersebut memberikan porsi besar di aspek Pemanfaatan dan Pengendalian sebagai kunci mencapai tujuan penataan ruang.Bahkan Era keterbukaan informasi dan komunikasi membuat nuansa baru dalam melakukan pembangunan. Kali ini para aktor pembangunan di minta untuk lebih transparan dalam informasi, terbuka dalam proses pengambilan keputusan, kreatif dalam melaksanakan sosialisasi kebijakan, inovatif dalam implementasi pembangunan, dan lain-lain. Tak hanya itu, Penggunaan media komunikasipun ikut meramaikan, diseminasi informasi tidak semata-mata menggunakan media konvensional, seperti media cetak atau elektronik seperti TV dan Radio. Tetapi lebih canggih dengan memanfaatkan media web, menjadi trend baru di kalangan pelaksana pembangunan. Mobilisasi opini melalui sosial media, seperti facebook, blogspot, twitter, dll, menjadi model baru dalam membangun kebijakan publik.
        Tantangan IAP Dimasa Mendatang
        Situasi dan kondisi itlah yang memaksa Ikatan Ahli Perencanaan (IAP), sebagai organisasi profesi bermain di wilayah baru. Sebuah wilayah yang merespon tantangan penataan ruang dengan memanfaatkan media komunikasi sebagai bentuk advokasi dunia penataan ruang. IAP dituntut mampu mampu melaksanakan perannya sebagai lembaga sertifikasi tenaga ahli penata ruang semata.Kedepannya IAP menghadapai tantangan yang bari di paruh kedua abad 21, yang tentunya berbeda dengan pelaksanaan IAP di tahun 80, 90, dan 2000 awal. Pasalnya IAP tidak lagi bisa menjalankan organisasinya dengan gaya ‘birokrasi’. Dimana kepengurusan yang didominasi oleh birokrat di berbagai institusi. Tantangan tersebut menuntut pengelolaan dan implementasi organisasi yang lebih modern, kreatif, inovatif dan terbuka. Beberapa tantangan yang dihadapi IAP di beberapa tahun ke depan adalah: Penguatan peran advokasi dunia penataan ruang. IAP saat ini melaksanakan perannya sebagai organisasi Pembina individu yang berkiprah di dunia penataan ruang. Sayangnya, IAP belum melaksanakan peran yang optimal. Sosialisasi dan diseminasi informasi mengenai penataan ruang seharusnya menjadi salah satu concern utama dari IAP. Sehingga peran ini harus diperkuat kembali oleh IAP pada tahun-tahun mendatang Mendorong Peran IAP dalam mobilisasi opini publik. Beberapa tahun terakhir IAP sulit melaksanakan perannya sebagai lembaga profesi yang independen. Dominasi birokrat dalam struktur pengurus , selain memberikan dampak positif bagi organisasi juga memiliki dampak negatif, dengan mempersulit IAP dalam melaksanakan mobilisasi opini di bidang penataan ruang, terutama ketika bersebrangan dengan Pemerintah Daerah. Statement ini bukan berarti kedepannya bebas birokrat, tetapi lebih dibutuhkan strategi khusus untuk mendorong peran IAP dalam mobilisasi opini. Keberadaan birokrat tentunya tidak menjadikan hambatan bagi IAP dalam memberikan pandangan dan masukan kepada Pemerintah ataupun masyarakat.Struktur organisasi yang terdiri dari berbagai kelompok usia dan aktivitas.Kepengurusan IAP masa depan semestinya mampu menjawab isue yang timbul terkait dengan perencanaan wilayah dan kota. Hal itu tentunya membutuhkan keahlian dan informasi yang beragam. Sementara kepengurusan IAP tidak dapat dibangun oleh 3 kelompok profesi yang saat ini ada: birokrat, akademisi dan konsultan perencanaan. Pandangan dari kelompok profesi lain mutlak dibutuhkan, seperti sektor swasta, NGO, politik, dll. Selain itu berbagai isu yang muncul membutuhkan pandangan lintas generasi yang tentunya memiliki idealisme jaman yang berbeda-beda.
        Menuju IAP 2.0
        Penggunaan istilah IAP 2.0 untuk memperkuat dan menegaskan kembali peran IAP di era keterbukaan informasi seperti saat ini. IAP 2.0 adalah usulan model pengelolaan IAP untuk menjawab tantangan masa depan dunia penataan ruang. IAP 2.0 bukan visi misi calon ketua IAP ataupun visi misi dari organisasi IAP, melainkan masukan sebagai bentuk kepedulian untuk memperkuat peran IAP di masa mendatang.
        Konsep IAP 2.0 dibentuk melalui lima prinsip dasar yang dapat diimplementasikan oleh IAP, yaitu
        1. Terbuka
        IAP harus jadi organisasi yang membuka diri kepada publik. IAP memiliki peran strategis untuk melaksanakan diseminasi informasi dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai hal-hal terkait dengan penataan ruang. Pengunaan media alternative, seperti webpage, web blog, twitter,dll, bukanlah sebuah konsekuensi mode saja. Tetapi upaya dari IAP agar terbuka terhadap masyarakat. Selain itu, keterbukaan dapat diartikan sebagai keterbukaan terhadap berbagai jenis pengetahuan yang digunakan sebagai amunisi dalam membuka opini publik.
        2. Kreatif dan Inovatif
        Perkembangan pola dan trend masyarakat perlu diikuti guna menyusun kegiatan-kegiatan kreatif untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Inisiasi Most Livable City Index, terlepas dari kesederhanaannya, merupakan terobosan yang telah dicoba kepengurusan IAP kini.
        3. Membangun Kemitraan Strategis (Strategic Partnership)
        Strategic partnership merupakan keharusan bagi sebuah organisasi di era modern. Kebutuhan organisasi di bidang penataan ruang tentunya membutuhkan kemitraan dengan stekholder-stakeholder strategis skala lokal, regional dan global. Membangun kemitraan strategis didasarkan kepada prinsip-prinsip: kesetaraan, menguntungkan dan terbuka. Kemitraan yang telah dimulai dengan organisasi-organisasi lokal internasional saat ini patut dikembangkan lebih lanjut ke arah kemitraan yang kongkrit dan berimplikasi positif bagi dunia penataan ruang Indonesia.
        4. Organisasi Global
        Era globalisasi saat ini menuntut IAP berevolusi menjadi organisasi global. Hal itu didasari pada pemikiran bahwa konstelasi diluar Indonesia akan memberikan implikasi kepada dunia penataan ruang Indonesia. Isu-isu internasional, seperti climate changes, deforestasi, urbanisasi perkotaan, peluang beraktivitas bagi planner asing di Indonesia serta sebaliknya. IAP harus berkembang menjadi organisasi yang tidak berkutat pada isu-isu lokal (yang tentunya masih banyak harus diselesaikan). IAP harus membuktikan sebagai organisasi profesi penataan ruang yang diakui di tingkat global. Kemitraan dengan organisasi internasional, keikutsertaan dalam forum-forum internasional, penyikapan terhadap isu-isu global, pengembangan kompetensi SDM dengan standar internasional, adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk mendorong IAP sebagai organisasi global
        5. Knowledge Management
        IAP terdiri dari individu diberbagai institusi swasta ataupun Pemerintah dengan kompetensi yang telah diakui. Pengetahuan yang tersebar di seluruh anggota dapat menjadi amunisi dan potensi yang menjadi bekal IAP di masa depan. Kemudian tantangannya adalah bagaimana cara mengakumulasi berbagai informasi dan pengetahuan tersebut untuk dipergunakan oleh seluruh anggota. Knowledge management perlu didukung oleh penyediaan ‘alat’ yang representatif dalam mengelola pengetahuan yang ada. Pendekatan knowledge management tentunya diharapkan dapat menjadi modal dalam memperkuat posisi IAP sebagai organisasi profesi terdepan di Indonesia
        Tentunya IAP 2.0 bukanlah konsep yang mujarab, tetapi setidaknya IAP 2.0 juga bukan sebuah konsep yang hanya membutuhkan kerja keras pengurus dan perangkatnya, IAP 2.0 harus dilaksanakan secara bersama-sama seluruh stakeholder IAP di tingkat pusat dan daerah.
        Diterbitkan dalam Buletin Tata Ruang EDISI MEI - JUNI 2010
        http://bulletin.penataanruang.net/index.asp?buled=52
        Comments:
        • lumayan pegel juga mata jalan2 di blog ini, tapi artikel menarik, thanks udah nulis artikel yang ok ini
          Posted by Anonymous computer zone @ 2:45 PM
           
        Menulis : antara Passion dan Rutinitas
        Monday, June 27, 2011

        Menurut saya permasalahan paling besar dalam menulis dan bagi penulis adalah mencari topic yag paling tepat untuk diceritakan. Kemampuan atau gaya menulis sesungguhnya bukan sesuatu yang perlu dipikirkan, karena semakin dipikirkan maka semakin tidak bergerak jari-jari kita untuk menulis.

        Mencari topic untuk ditulis adalah satu hal yang paling sulit untuk dilakukan. Seringkali seorang yang akan menulis dibantu oleh tugas atau pekerjaan spesifik yang membutuhkan tulisan dengan topic yang spesifik. Kalau seperti itu situasinya, maka permasalahan topic yang ditulis sudah selesai tinggal bagaimana kita menuliskannya dan sumber daya apa yang kita miliki untuk memulai tulisan tersebut.

        Saya selalu kagum dengan para penulis yang selalui menemukan apa yang akan ditulis. Kekaguman saya paling besar tentunya kepada para jurnalis, yang bekerja untuk mencari topic yang akan ditulis dalam hitungan minggu, hari bahkan menit (untuk para jurnalis portal berita internet). Walau kadang saya sering kecewa dengan penulisan jurnalis yang memaksakan menulis untuk dateline sehingga seringkali informasi tidak akurat, misleading, kesimpulan yang dipaksakan, dan lain sebagainya.

        Pekerjaan saya seringkali sangat erat kaitannya dengan menulis tetapi seperti pekerjaan birokrasi lainnya seringkali terasa tulisan yang dibuat “soulless” karena dibuat untuk memenuhi keinginan pimpinan, kebutuhan proyek, dan lain sebagainya. Seringkali saya memiliki keinginan untuk menulis dengan passion yang besar sehingga mampu menghasilkan jenis tulisan yang berkualitas, ideal dan tentunya membawa manfaat bagi banyak orang. Passion yang sama saya rasakan pada saat menulis tugas Akhir di jaman kampus dulu.

        Dulu saya pernah rajin mengupdate blog, bahkan saat produktivitas sedang tinggi menulis bisa dilakukan 2 kali dalam seminggu. Yang kemudian intensitas berkurang, karena passion tergerus oleh yang namanya rutinitas pekerjaan. Menurut saya pekerjaan dan segala rutinitasnya hanya alasan materiil saya saja. Intinya saya kehilangan passion saya untuk menulis pada 3 tahun yang lalu. Pekerjaan menulis yang pernah saya lakukan hanyalah beberapa tulisan di jurnal internal kantor, 1 tulisan di buku yang di dedikasikan untuk dosen senior, dan ratusan file untuk keperluan pekerjaan. Bahkan kebiasaan saya menulis di salah satu milis pun sudah amat jauh berkurang pada saat saya sudah memiliki gadget dengan akses e-mail yang secara teori memudahkan dalam melakukan penulisan.

        Permasalahan terbesar saya adalah tidak memiliki cukup kreativitas untuk mencari sebuah topic untuk ditulis. Menyedihkan juga tapi itu lah kenyataannya.

        Seperti saat ini, saya tidak punya sama sekali ide untuk menceritakan satu topic yang sreg di hati sehingga saya memaksakan untuk menulis dengan harapan tentunya saraf-saraf kecil di otak yang dulu sudah amat terbiasa merangkai kata kembali aktif kembali. Ok saraf dan otak sudah kembali sinkron. Tetapi ada satu ternyata yang sulit untuk dilatih, yaitu kemampuan mencari topic kemudian memotretnya dan pada akhirnya mencopy paste didalam jendela web blogyang berujung pada publikasi ke seluruh dunia mengenai tulisan tersebut. Belum tentu menarik, tapi ya cukup lah untuk sekedar mewarnai jagat dunia maya.

        Jadi apakah ada topic-topik yang akan muncul setelah tulisan ini? Ataukah tulisan ini hanya sebuah sensasi sesaat yang kemudian hilang lagi. Ya mungkin saja. Karena saya pernah membuat tulisan senada 3 tahun lalu yang berujung kepada tidak aktifnya kembali web blog saya.

        Belum tentu juga kemudian ada yang membaca tulisan ini. Tapi sebagai tanda-tanda kehidupan dari sebuah web blog yang hidup segan mati tak mau selama 3 tahun terakhir, tulisan ini bagaikan air di padang oase.

        So, happy life for everyone.. well, happy writing for me…

        -catur-

        Comments:
        • wah udah lama nih gak pernah komen disini haha... pa kabar btw? back to blogging lagi nih :)
          Posted by Anonymous amellie @ 3:32 PM
           
        • waahh udah lama nih gak komen disini hihihi... pa kabar?? back to blogging lagi nih :)
          Posted by Anonymous amellie @ 3:33 PM
           
        • hooo, senang bisa membaca tulsian di blog ini lagi. :-)
          Posted by Anonymous Beni Suryadi @ 9:40 PM
           
        SELAYANG PANDANG KADERISASI FAKULTAS SAPPK
        Sunday, April 18, 2010

        Pada hari Minggu tanggal 18 April 2010, Saya berkesempatan untuk berbagi pandangan dan ide kepada mahasiswa SAPPK tahun 2009. Acara nya sendiri bernama kaderisasi wilayah atau OS fakultas mungkin ya..

        Panitia sebenarnya menginginkan saya untuk bercerita lebih banyak mengenai profesi planologi dan seperti apa pekerjaan nanti di bidang2 yang terkait profesi planologi. Hal ini disebabkan pada akhir semester II, mahasiswa SAPPK diberikan kesempatan untuk menentukan prpgram studi apa yang akan diambil, apakah Planologi atau arsitek.

        tapi kemudian saya berpikir apabila materi yang saya berikan berputar2 pada materi keplanologian, maka kemudian diskusinya akan terjebak pada profesi apa yang paling baik? Profesi mana yang menghasilkan banyak uang? Profesi mana yang paling melahirkan orang2 hebat? Dan lain sebagainya. Padahal berbagai profesi punya keunikan dan kelebihan tersendiri tergantung kepada siapa yang menjalaninya.

        Untuk menghindari diskursus tersebut, rekan2 SAPPK 2009 saya ajak berdiskusi lebih banyak mengenai bagaimana memilih kuliah?apa implikasi perkuliahan terhadap dunia nyata? Apa yang patut dijadikan dasar dalam memilih kuliah yang akan diambil?lalu apa yang akan mereka hadapi di dunia nyata.

        Secara sederhana terdapat 4 ide yang saya berikan kepada rekan-rekan SAPPK 2009 mengenai pemilihan jurusan:

        1.Temukan passion yang paling besar dari hidup kita. Apakah bergabung di Planologi atau arsitek telah menjadi passion mereka. Atau hanya rutinitas hidup biasa saja. Perlu ditegaskan di sini memilih sekolah di Planologi atau arsitek memang awal dalam memilih profesi tapi tidak serta merta orang yang bersekolah di planologi menjadi perencana tata ruang kan?

        2.Menemukan dream job tidak harus selalu berbanding lurus dengan kuliah yang akan kita ambil. Bisa saja dream job kita artis dan kuliah di planolog membuat kita menjadi percaya diri. Mendefinisikan dream job sama dengan mendefinisikan mimpi untuk itu diperlukan passion yang besar dan niat yang bulat.

        3.Kuliah di jurusan apa yang bisa mendukung passion kita. Saya menekan kepada mata kuliah mana yang paling memberikan benefit (keilmuan, waktu, materi kuliah, team work, dll) paling besar dalam menunjang passion terbesar dari rekan-rekan mahasiswa. Misal tadi pagi ada mahasiswa SAPPK yang ingin jadi artis.. berkuliah dimana yang memberikan kesempatan paling besar untuk mengembangkan diri menjadi artis

        4.Pilih program studi yang paling memberikan kebahagiaan buat kita dalam menjalaninya. Buat apa kita kuliah kemudian kita berkeluh kesah. Atau kita kuliah untuk menghindari mata kuliah di program studi lain. Untuk hal ini saya terinspirasi dari film 3 idiots. Sebuah film india yang menceritakan suka duka 3 orang mahasiswa dalam menemukan jati diri dan motivasi dalam mewujudkan mimpinya dan persepsi mereka terhadap pendidikan yang di jalani oleh mereka.

        Selain itu saya pun berbagi cerita tentang dua tokoh yaitu Budi Soehardi (terima kasih buat bang jilal yang memberikan informasi) dan Yoris Sebastian. Budi Soehardi merupakan seorang Pilot yang mendirikan Panti Asuhan di Perbatasan NTB dan Timor Leste yang menghantarkan dia untuk mendapatkan anugerah CNN Heroes–link video. Sedangkan yoris Sebastian adalah anak muda kreatif yang memiliki ide mengenai Happynomics dimana apa yang dikerjakan adalah sesuatu yang disukai dan buat bahagia sekaligus dapat memberikan keuntungan ekonomi- link video

        .Saya tentunya berharap melalui dua tokoh ini, teman2 SAPPK 2009 dapat sama terinsipirasinya dengan saya untuk berkerja dengan suka cita, berkerja keras dan membuat hidup kita berguna untuk orang lain.

        Saya tidak tahu apakah kemudian rekan-rekan SAPPK 2009 menjadi dapat memilih dengan baik program studi yang akan diambil (tentunya saya berharap sekali mereka bisa memilih). Saya Cuma bisa berharap, pilihan apapun yang akan dipilih oleh mereka, itu adalah benar-benar pilihan mereka dan telah memahami segala konsekuensi yang harus diterima dari pilihan-pilihan tersebut. Lagipula mahasiswa adalah insan dewasa yang harus dapat memilih yang terbaik buat hidupnya.


        -Catur-

        Planologi 2000

        Ketua Bidang Hubungan Alumni Muda dan Mahasiswa

        Alumni Planologi ITB (API)


        Comments:
        • "Perbatasan NTB dan Timor Leste", bukannya NTT Bung?
          Posted by Anonymous Anonymous @ 12:49 AM
           
        Menjembatani Kesenjangan Informasi Dunia Tata Ruang
        Tuesday, March 16, 2010

        Derap demokratisasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik saat ini, membawa proses pembangunan kota mengalami beberapa perubahan mendasar. Sifat pembangunan kota yang semula top-down dan merupakan urusan pemerintah semata, berangsur-angsur menjadi kegiatan masyarakat di akar rumput (grass roots), dengan motor penggerak elemen masyarakat dan kelompok kepentingan .

        Pengikutsertaan publik dalam proses penentuan kebijakan publik dianggap sebagai cara yang efektif untuk menampung dan mengakomodasi berbagai kepentingan yang beragam tadi. Dengan kata lain, upaya pengikutsertaan publik yang terwujud melalui dapat membawa keuntungan substantif dimana keputusan publik yang diambil akan lebih efektif disamping akan memberi sebuah rasa kepuasan dan dukungan publik yang cukup kuat terhadap suatu proses pembangunan.

        Tantangan yang kemudian dihadapi adalah apakah masyarakat sudah diberikan pencerahan mengenai apakah itu perencanaan ruang? Apakah istilah-istilah “langit:’ keplanologian sudah sampai kepada masyarakat? apa yang telah dilakukan oleh para perencana dalam menjalankan peran mencerdaskan masyarakat? media apa yang bisa dikembangkan untuk mendialogkan kepentingan perencana dengan masyarakat.?

        Membangun kepedulian masyarakat tanpa terlebih dahulu membangun pengetahuan masyarakat mengenai pembangunan kota dan penataan ruang adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Melalui pengetahuan lebih luas mengenai pembangunan kota akan mendorong kepedulian masyarakat yang akan berujung pada pelibatan masyarakat.

        Abad 21 merupakan era baru bagi umat manusia dimana batas-batas fisik dan geografis bukan menjadi sebuah batasan bagi saling tukar informasi antar manusia di seluruh dunia. Jarak dan waktu dipersempit melalui satelit telekomunikasi, jaringan nirkabel dan bentuk lain dari penghantar komunikasi.

        Saya masih ingat nonton film “you’ve got mail” yang diperankan oleh Meg Ryan dan Tom Hanks. Film tersebut adalah revolusi budaya yang coba diperkenalkan oleh Negara Paman Sam mengenai teknologi bernama internet ke seluruh dunia (tentunya selain memperkenalkan budaya “starbuck” di sisi lain). This is when the revolution begin..

        Saat ini informasi berjalan melalui website, weblog, twitter, facebook, friendster, Yahoo Messenger, personal e-mail, dan ratusan media lainnya. Fasilitas yang tentunya memperkecil kesenjangan informasi antara kelompok masyarakat di seluruh belahan dunia..

        Apakah kemudian kita para perencana telah mempergunakan media ini sebagai alat kita dalam membangun pengetahuan yang dimiliki masyarakat mengenai pembangunan kota, penataan ruang, dokumen rencana tata ruang, istilah-istilah teknis keruangan dan lain sebagainya. Atau telah tepatkah kita dalam mempergunakan media tersebut sebagai alat perencana mendorong partisipasi masyarakat di dalam proses pembangunan kota.

        Media internet pada dasarnya hanya salah satu media (bukan media paling ampuh) dalam memperluas magnitude dunia perencanaan dan memperkecil kesenjangan pengetahuan mengenai penataan ruang antara perencana dengan masyarakat. diseminasi lebih luas mengenai dunia tata ruang dapat dilaksanakan dengan media ini,

        Menggunakan media internet bukan sebuah tren sesaat dan implikasi dari “banci’ mode yang saat ini kerap terjadi pada masyarakat Indonesia. Media Internet adalah kombinasi antara hutan belantara, samudra luas, medan perang sekaligus ring tinju. You either survive or die because of it. Banyak contoh keberhasilan transfer ide efektif melalui internet (seperti Obama Campaign, Koin untuk Prita,dll) walau tidak tertutup kemungkinan kegagalan penggunaan media internet.

        Mempergunakan media internet dalam memperluas “magnitude” dunia perencanaan di masyarakat memiliki beberapa sisi yang perlu diperhatikan oleh para perencana.

        1. Media internet memberikan kesempatan kepada para perencana dalam mensosialisasikan bahasa, kebijakan istilah teknis dan pemahaman dasar mengenai penataan ruang dalam pembangunan kota

        2. Media internet merupakan salah satu fasilitas jejaring informasi terbesar yang saat ini ada. Jutaan byte dari file-file terkait perencanaan ruang dapat di unggah dan di unduh oleh masyarakat. dengan teknik yang khusus, Google akan dapat mengantarkan pengguna internet untuk mempelajari hal-hal terkait penataan ruang

        3. Menggunakan media internet memang memberikan ruang bagi kita untuk di akses oleh dunia, tetapi itu juga memberikan konsekuensi tersendiri. Menjadi terbuka di internet memiliki konsekuensi eksistensi kita pun menjadi mudah untuk dikritisi, dikomentari, dihujat ataupun disalahgunakan informasi yang dibuka ke public. Contoh riil ada saat menkominfo Tifatul Sembiring memiliki account twitter. Dampak positifnya tentunya Pak Tifatul mampu berinteraksi langsung dengan public mengenai kebijakan-kebijakan kementerian. Akan tetapi Menkominfo menjadi lebih mudah untuk dikritik dari hal-hal substansi Rancangan Peraturan Menteri sampai hal-hal keseharian seperti kebiasaan Menkominfo dalam berpantun.banyak sekali public figure atau public organization yang tidak mampu menghandle konflik yang ada sehingga menjadikan penggunaan media internet sebuah character assassination

        4. Pemilihan media yang digunakan dalam mensosialisasikan informasi dan pengetahuan dunia tata ruang pun menjadi sangat penting untuk disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai. Seperti: penggunaan milis sebagai ruang diskusi, web blog sebagai alat information display, facebook sebagai alat jejaring sosial dan lain sebagainya. Kesalahan menggunakan media, yang biasanya disebabkan oleh latah mode, bisa berujung pada ketidak efektifan media yang digunakan.

        5. Konsistensi adalah kunci paling besar dalam menggunakan media internet. Tanpa konsistensi, maka seringkali media internet hanya menjadi alat yang tidak efektif karena tidak pernah diupdate dan tidak ada inovasi

        Beberapa komunitas perencana sudah mulai melakukan beberapa gerakan di dunia internet unuk mendiseminasikan pengetahuan mengenai penataan ruang. Milis “Referensi” adalah salah satu contoh “best practices” dalam membangun jaringan orang-orang yang concern terhadap dunia tata ruang dan sekaligus media mengkonsolidasikan pengetahuan penataan ruang dari seluruh penjuru dunia. Contoh lain dimulai oleh Salah satu komunitas orang-orang yang peduli dengan tata ruang yang membangun web bernama “Rujak” yang disusun untuk mendiseminasikan, mensosialisasikan, menginformasikan, dan lain-lain hal yang terkait dengan RTRW DKI Jakarta 2030. Melalui web “Rujak” tersebut dilakukan tukar menukar informasi antar masyarakat Jakarta yang peduli dengan penataan ruang.

        Mempergunakan media internet bagi dunia perencanaan dalam membangun pemahaman masyarakat adalah salah satu jalan baru dalam membangun partisipasi public. Karena perencanaan partisipasi membutuhkan pemahaman yang sama antara masyarakat dengan para perencana mengenai prinsip, substansi dan prosedur yang dilakukan dalam proses penataan ruang. Tanpa pemahaman yang sama maka proses partisipasi tidak lebih dari proses sosialisasi atau justifikasi kebijakan yang sudah dirancang oleh para perencana

        Dunia perencanaan harus mulai dan tidak malu-malu lagi mempergunakan media internet untuk mengurangi kesenjangan informasi yang saat ini terjadi antara masyarakat dan perencana.

        -Catur-

        www.perencanamuda.com

        www.catuy.blogspot.com

        twitter : elkanacatur

        Comments:
          Copyright © 2007 Catur