Renungan mantan aktivis
Tuesday, July 19, 2005

…..Tatkala Amanah telah diberikan

“ …Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak…” (QS Al-Baqarah:269)

Dunia telah menjadi saksi sejarah dimana kekuasaan telah disalahgunakan dan dunia juga menjadi saksi dimana kekuasaan menjadi sebuah jalan yang bermanfaaat. Dunia menjadi saksi dimana kekuasaan menjadi alat untuk melakukan tindakan korup dan duniapun menjadi saksi dimana kekuasaan menjadi alat pensejahtera masyarakat. Dunia melihat ketika Adolf Hitler, Napoleon, Ariel Sharon, George W. Bush hingga Vladimir Putin menggunakan kekuasaan untuk sebuah kepentingan sesaat egoistik dari seorang manusia yang megalomaniak. Tetapi dunia juga melihat ketika Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, Umar Bin Abdul Azis memerintah dan menggunakan kekuasaan yang dimiliki sebagai sebuah alat mensejahterakan masyarakat dan beribadah kepada Allah SWT.

Ketika kita berbicara kekuasaan atau jabatan, kita tidak lepas dari sebuah perbincangan kita sehari-hari di Himpunan, Mushola Departemen, Masjid Salman, Sekre Unit, Studio, Laboratorium dan penjuru tempat di kampus. Ya…memang jabatan dan proses pergantiannya selalu menjadi perbincangan ataupun perdebatan yang hangat. Mengambil potongan obrolan yang saya dengar di himpunan satu bulan yang lalu. Diskusi berputar; Siapa jadi apa??Bagaimana caranya??Siapa di dukung siapa??Siapa yang lebih baik ?? Setiap suksesi kepemimpinan di organisasi, maka kan selalu muncul analisis-analisis politik sekelas pengamat sepakbola Indonesia.

Tapi, pernah kita berpikir dengan benar-benar berpikir bahwa sebenarnya sebuah jabatan adalah sebuah tanggung jawab besar yang diberikan oleh Allah SWT. Kekuasaan atau jabatan bagi seseorang adalah sebuah amanah yang diberikan kepada Allah SWT sebagai sebuah metode seorang manusia untuk beribadah demi mendapatkan ridho Allah SWT. Harta dan jiwa yang dimiliki, tidak akan bermanfaat apa-apa sebagai bekal menuju Allah jika tidak dipergunakan dengan cara yang Allah tunjukkan dalam penawaran perniagaan dari-Nya yang sangat menguntungkan bagi manusia.

Ada saat dimana manusia khilaf terhadap hakikat sebuah amanah yang diberikan, sehingga jabatan bukan menjadi sebuah alat menuju ridho Allah, akan tetapi sebaliknya. Terkadang disombongkan oleh jabatan, sehingga kita terlupa untuk melihat perjuangan rekan yang lain. Rasulullah Saw. sendiri dalam kesehariannya, kendati memiliki kedudukan yang agung tak tertandingi -sebagai Nabi dan Rasul-Nya- tak menjadikan sahabatnya atau siapapun, bahkan musuhnya sebagai orang yang lebih rendah. Beliau tahu, bahwa kemuliaan seseorang itu pada nilai taqwanya. Bukan pada atribut duniawi; pangkat, jabatan, prestise atau apaun lainnya.

Atau terkadang dengan jabatan kita menjadi menyalahgunakan kekuasaan yang kita miliki. Lupakah kita pada kisah Umar Bin Abdul Aziz, yang tidak mau menyalahgunakan kekuasaanya untuk kepentingan pribadi. Suatu malam datang seorang tamu ke kantor Umar bin Abdul Aziz. Khalifah pun bertanya ”untuk apa kau kesini, untuk membicarakan masalah negara atau pribadi?”. Sang Tamu menjawab ”untuk urusan pribadi”. Kahlifh langsung mematikan lampu di kamarnya, karena lampu tersebut memakai minyak yang dibayar oleh pajak negara. Sekarang bandingkan dengan para Wakil Rakyat yang melakukan Korupsi Berjamaah di daerahnya pada periode yang lalu atau kepala daerah yang terjerat korupsi dari ratusan jutaan sampai milyaran.

Saat ini, apa yang telah kita lakukan dengan amanah atau jabatan yang teman-teman emban????? Ridho Allah ataukah??

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”(QS Al Insyirah : 7)

"If not now when, if not we who else ..." mantan presiden AS Ronald Reagen pernah mengungkapkan itu. Ungkapan tersebut meperlihatkan sebuah ketakutan seorang Presiden terhadap waktu. Karena waktu adalah musuh paling besar dalam menciptakan sebuah momentum kepahlawanan.

Misalnya apabila kita mendapat amanah di satu organisasi. Kita hanya punya waktu berapa lama untuk berbuat sesuatu??Satu tahun??Bahkan mungkin sangat kurang. Tatkala waktu kurang lebih 365 hari termakan oleh aktivitas-aktivitas lain, seperti Studio atau main game atau Kerja praktek. Maka di akhir kepengurusan kita akan melakukan sebuah justifikasi bahwasanya waktu lah yang menghalangi kita berbuat lebih banyak. Benarkah??

Rasulullah mengungkapkan hal yang sama kurang lebih 1400 tahun yang lalu dengan kata-kata "Gunakanlah waktu lapangmu sebelum datang sempitmu ...". Juga ada satu ungkapan hikmah yang terkenal, "Bekerjalah kamu seolah kamu akan hidup selama-lamanya dan beribadahlah seolah kamu akan mati besok".

Amanah tidak lain sebuah peluang untuk melakukan ladang amal secara nyata. Sehingga jangan jadikan waktu menjadi penghalang untuk kita berbuat sesuatu yng lebih besar. Gunakanlah setiap periode untuk melakukan hal yang terbaik di posisi dimana kita diamanahkan. Revolusi demi revolusi, momentum-momentum, kisah-kisah semua akan tercipta tatkala waktu itu ada. Karena ketika amanah itu berakhir, maka kita telah kehilangan satu momen dan satu alat kita untuk mendapat ridho allah dan menciptakan momen sejarah. Jika kita mau sejenak saja melihat ke belakang, maka akan kita sadari -lebih ekstrimnya kita sesali- karena begitu banyaknya waktu yang terlewati dengan sia-sia, bahkan seringkali tak bernilai sama sekali.

Cukupkah waktu yang kita miliki untuk mencapai semua mimpi yang kita miliki?? Sudah seimbangkah antara waktu dan rencana yang kita buat?? Berapa banyakkah waktu yang kita buang dalam seharinya?? Sampai kapankah kita akan menyalahkan waktu??

Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

(Khairil Anwar, Karawang-Bekasi)

“ Barangsiapa berbuat kebaikan seberat benda yang terkecilpun, niscaya ia akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat Keburukan seberat benda yang terkecilpun niscaya ia akan melihatnya” (QS Al-Zalzalah: 7-8)

Jabatan yang kita emban, terkadang membuat kita lupa kepada siapa kita akan bertanggungjawab. Keinginan mendapatkan popularitas duniawi dan citra dihadapan manusia melupakan kita pada hakikat sebenarnya dari sebuah tujuan hidup setiap manusia untuk beribadah mencari ridho Allah.

Saat amanah diberikan kepada kita, di saat itu pula pertangunggjawaban kita akan ditagih. Sebuah pertanggungjawaban kepada Allah SWT mengenai apa yang telah kita lakukan dengan amanah yang telah diberikan. Karena setiap perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan kepada dan hanya kepada Allah SWT.

Hari-hari yang kita lewati saat menjalankan amanah yang kita emban menuntut sebuah optimalisasi sumber daya yang kita miliki untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Pencapaian yang dilakukan ataupun kekhilafan yang kita perbuat semuanya akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Apa yang telah kita perbuat dengan amanah kita??Berapa orang yang terkena manfaat selama kita mendapatkan amanah??Seberapa bergunakah kita di komunitas kita dengan amanah yang diembankan ke kita??

Tatkala amanah diberikan kepada kita, disanalah pintu surga dan pintu neraka terbentang. Hanya seberapa amanah kita yang menentukan semuanya. Wallahu a'lam bishshowaab.(y=R)

-kurangi penggunaan sampah plastik (iklan layanan lingkungan)-

Comments:
  • Sampai kapankah kita akan menyalahkan waktu?...sampai waktu berhenti
    berdetak..
    Posted by Anonymous jeki trimarstuti @ 8:26 PM
     
  • emang saya nyalahin waktu ya????? perasaan enggak deh
    Posted by Blogger Catuy @ 5:06 PM
     
  • ohh, jadi kita tuh tidak termasuk k'catuy,..???
    lalu siapa yang nulis kalimat itu diatas..-JQ-
    Posted by Anonymous Anonymous @ 6:18 PM
     
  • Maksudnya teh,...waktu akan terus berjalan dan kita yang harus mengimbanginya....jadi bukan nyalahin si waktu.....tapi waktu itu kriteria yang membatasi memang...
    Posted by Blogger Catuy @ 6:52 PM
     
GENERASI 0
Tuesday, July 12, 2005
GENERASI O

0 itu adalah bilangan angka yang ditemukan oleh para matematikawan Arab untuk mendefinisi sebuah bilangan sebelum angka 1. 0 itu digambarkan sebagai sebuah bilangan awal yang menjawab sebuah pertanyaan tidak ada digambarkan oleh bilangan angak berapa. Dalam kahidupan angka 0 diidentikkan dengan dua pengertian. PErngetian pertama angka 0, adalah sebuah awal menuju sebuah perubahab. Kondisi 0 adalah kondisi titik mula untuk memulai sesuatu dan bernada positif tentunya. Pengertian lain dari angka 0 adalah kondisi tidak punya apa-apa, tidak ada harapan dan kondisi lainnya yang merujuk kepada sebuah kondisi pesimisme dan negatif..HOPELESS !!!!!!!!!!!!!!!!!!

PErnah liat anak-anak di SD terkemuka di kota besar??? PEndidikan baik, Gizi mencukupi, tempat tinggal terjamin, keamanan terjaga, jaminan finansial aman sampai 20 tahun ke depan.. Sebuah gambarana kondisi masa depan yang cerah bagi Bangsa yang sedang babak belur ini.

Anak jalan di Jakarta (atau di kota besar lainnya) merupakan potret gelap kehidupan perkotaa di INdonesia. Tangan-tangan kecil terjulur untuk meminta-minta, tubuh-tubuh kecil terbujur di bawah jembatan penyebrangan dengan kaleng lem aica aibon (bukan buat promosi lho) tergeletak di sampingnya, tatapan mata penuh dendam ke temannya ketika rebutan duit hasil ngamen atau hasil ngejoki 3 in1, bercanda yang mengarah ke perkelahian (sebenarnya gue berprasangka baik aja itu mereka lagi bercanda). Yah itu adalah gambaran buruk dari kehidupan anak jalanan. KEras dan berat...Tapi, kadang-kadang dunia anak kecil tidak dapat terhapus begitu saja kok...TAwa riang mereka ketika mengejar bus untuk mengamen, senyum mereka ketika menghitung hasil kerja hari ini. Gambaran itu menyadarkan kembali bahwa mereka masih anak-anak juga kok... Tebalnya kaki , hitamnya kulit, kumalnya baju, kasarnya tangan tidak bisa merubah fitrah mereka sebagai seorang anak-anak yang dengan segala berat hidupnya memiliki dunia sendiri untuk dinikmati.

Generasi 0 adalah generasi yang memiliki sebuah harapan sekaligus juga menyimpan sebuah keputusasaan. Anak Jalanan di perkotaan merupakan gambaran sebuah generasi 0. Generasi yang menggambarkan sebuah keputusasaan masa depan bangsa. Anak Jalanan dan kasus Busng LApar serta malnutirisi membuat kita semakin pesimis terhadap keberadaan sebuah Generasi yang akan mengeluarkan kita dari keterpurukan bangsa ini. Bayangan sebuah negara yang gemah ripah loh jenawi di masa depan pupus ketika wajah generasi muda direfleksikan oleh wajah Generasi 0 yang ada di sekitar kita. Iya..Generasi kelahiran 90an adalah wajah sebuah generasi 0.

Telah disebutkan di atas 0 itu adalah angka yang mengandung dua pemaknaaan. Generasi 90an di sisi lain memiliki anak-anak yang hidup di atas kehidupan anak jalanan. Hidup di rumah yang nyaman, sekolah yang berkualitas (dan mahal juga), makanan yang bergizi... Melihat anaka-anak ini timbul sedikit pesimisme bahwa mereka akan menjadi bibit unggul dengan segala fasilitas yang dimilikinya untuk menjadi manusia terbaik bangsa.

Gap yang tercipta memang jauh...Bukan Gap ekonomi dari para orang tua...Tapi Gap nasib dari para generasi muda saat ini..Pendidikan, gizi, ekonomi. Apabila kita ekstrapolasi kondisi saat ini ke 20 atau 30 tahun lagi maka kondisi ini akan terus terjadi. sebuah gambaran masyarakat Indonesia dengan GAP Nasib yang besar dan terus membesar seiring peningkatan hajat hidup setiap segmen. Karena di masa depan yang memnugkinkana seseorang untuk mengenyam pendidikan untuk berkembang ya orang-orang dari segmen ekonomi tertentu saja....So kesimpulannya????? Tapi gak sepesimis itu sih gambarannya. Hanya perlu diarahkan sehingga kemudahan-kemudaha itu dapat diarahkan untuk mengangkat sderajat Bangsa secara keseluruhan bukan kelompok doang....Sehingga GAp itu tidak akan semakin besar....





Comments:
  • Siapa yang melahirkan generasi 0?
    Posted by Anonymous jeki_trimarstuti @ 8:27 PM
     
Jakarta Pagi hari
Thursday, July 07, 2005
JAKARTA PAGI HARI......

Jakarta Kota MEtropolitan?????
Jakarta Kota KEmewahan???
Jakarta Kota Uang????
Mungkin semua sebuatan itu memang benar adanya.. yang jelas setiap pagi hari selalu menyiratkan bahwa Jakarta adalah kota impian dan harapan..
Wajah-wajah orang di bus pada pagi hari menyiratkan sebuah perjuangan dalam mencapai impian-impian yang dirajut oleh para manusia-manusia Jakarta. Setiap pagi semua manusia dari berbagai jenis tumpah ruah ke jalan untuk merajut mimpi... Bos-bos berdasi (dengan mobilnya yang OK), pekerja-pekerja kantoran, anak sekolah, mahasiswa, para pengamen, pedagang asongan (jadi inget tukang tisu yang tiap hari jualan di bus), para joki 3 in 1. sopir angkor dan bus...Semua berangkat bekerja atau sudah bekerja dengan wajah yang menyiratkan sebuah impian bahwa hari ini akan lebih baik dari hari yang kemarin.. Aktivitas orang-orang inilah yang mebggerakkan perekonomian dan sektor kehidupan lain di Jakarta..
Jakarta dibangun atas impian Fatahillah akan Sunda KElapa. Mimpi itu diteruskan samapi sekarang.. Roda kehidupan di Jakarta digerakkan oleh mimpi-mimpi setiap manusia yang ada didalamnya. Impian-impian tersebut menjadi fondasi dalam membangun kerajaan ekonomi dan pemerintahan di Jakarta. Tak terbayangkan ketika impian orang-orang Jakarta hilang dan roda itu pun berhenti berputar.
PAgi Hari di Jakarta adalah waktu terbaik untuk beratkivitas, karena pada waktu itulah semua orang masih berpikiran positif mengenai dunia. Sangat berbeda ketika waktu bergeser ke Siang bahkan malam hari (ketika Stress sudah datang)
Jakarta...JAkarta...Jakarta.....
Kota Impian yang terasa positif hanya di PAgi hari

deSANGKUNI
Comments:
  • separah itu kah???
    Eh, kok ga ada artikel yang tentang ospek??? dah dihapus yah...???ko
    ilang...
    Posted by Anonymous jeki_trimarstuti @ 7:03 PM
     
  • Gak parah-parah banget sih...... cuma banyak pelajaran yang bisa diambil aja
    Posted by Anonymous catur @ 7:50 PM
     
Copyright © 2007 Catur