Pembelaan terhadap menikah
Thursday, October 27, 2005

Aku Pasti Nikah….Satu Hari Nanti…

Pembelaan Terhadap Sebuah Azzam

”Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin)...” (QS 24 : 32)

Give your hearts, but not into each other's keeping. For only the hand of Life can contain your hearts. And stand together yet not too near together: For the pillars of the temple stand apart, And the oak tree and the cypress grow not in each other's shadow (GIBRAN)

Judulnya lucu kan…ini bukan pernyataan bahwa gue mau nikah lho…

6 bulan yang lalu pertanyaan yang paling gue benci adalah ”kapan lulus??”. Pertanyaan itu terlepas lahir dari sebuah kepedulian temen ke temen ,kadang menjadi satu tuntutan yang berlebihan e..kenapa sih gak pada nunggu aja..sebenarnya kalo yang nanya 1-3 orang masih gak papa...tapi yang nanya itu banyak bener...serasa dikejar-kejar..Tapi akhirnya pertanyaannya terjawab bukan dengan lisan, tapi dengan kelulusan (walau ada yang baru tahu gue lulus after 4 bulan)

Tapi namanya manusia hidup dalam sebuh siklus pertanyaan tanpa henti..maka pertanyaan yang lain pun segera datang dengan cepat...Pertanyaan yaitu ”Kapan nikah???”. Dari mulai yang bernada bercanda dan manas2in sampai yang bernada serius dan argumentatif (yang dimaksud arguementatif di sini adalah mengemukakan semua alasan mengenai postifnya menikah). Anehnya pertanyaan ini akan semakin deras diajukan manakala ada teman yang lain menikah. Seperti ada sebuah pola yang harus dipatuhi oleh setiap manusia indonesia: Kuliahàlulusàkerjaànikahàpunya anak and so on.. dan setiap tahapan itu selalu diikuti dengan pertanyaan ”Kapan (lulus, kerja, nikah, punya anak)??”. apakah setiap manusia pada akhirnya mesti terjebak untuk mengikuti tahapan yang pakemnya diwarisi dari sebuah kebudayaan materialis bahwa pencapaian seorang manusia adalah melalui tahapan-tahapan berupa fisik yang harus dicapainya..

Apakah tahapan itu adalah pencapaian ataukah sebuah rutinitas kehidupan yang dijalani oleh setiap orang sebagai sebuah media dalam melakukan sebuah mobilisasi baik vertikal maupun horizontal dalam status sosialnya. Walau banyak pihak yang menyangkal bahwa tahapan itu adalah sebuah rutinitas, melainkan sebuah proses kehidupan manusia yang fitrahnya seperti itu. Tapi kenyataan di lapangan berbicara beda, ketika ada yang belum mencapai, tidak berhasil mencapai atau memilih jalan lain dari tahapan-tahapan (lulus, kerja, nikah, anak) maka yang didapatkan adalah cibiran, sindiran, sepetan, pandangan iba, gunjingan, tekanan, intimidasi, cacian atau sekedar tawaran bantuan (baik yang formal ataupun klenik kaya dukun). Tak bisa dipungkiri bahwa budaya feodalistik warisan jaman kolonial, memperspesikan seorang manusia melalui pencapaian2 fisik yang harus dilaluinya. Kalau ada mahasiswa yang lulusnya lama, dibilang bodoh atau males. Kalau ada sarjana yang pengangguran, dibilang buang-buang uang untuk dapat gelar. Kalau ada yang belum nikah sampe usia 30 tahun, dibilang bujangan/perawan tua yang gak laku. Kalau ada yang belum punya anak sampe usia 2 tahun pernikahan, dibilang mandul bahkan ada yang menceraikan istrinya (terlepas dari itu dibolehkan agama dan negara),yang notabene selalu jadi mahluk yang inferior atas laki-laki dan selalu dipersalahkan atas ketiadaan anak dalam keluarga (duh sinteron banget ya). Apalagi kalau ada yang memilih untuk tidak mau mengikuti tahapan diatas, hukuman paling ringan paling gunjingan dan paling keras di usir dari masyarakat setempat (pada beberapa tempat hal ini dapat terjadi).....

Hidup bukan lah hanya untuk itu.....Hidup terlalu indah kalau hanya diukur dari sebuah pencapaian fisik dan materialis semata. Sampai kadang-kadang kita mmenjadikan itu hanya sebuah rutinitas materialis, dan lupa bahwa ada faktor ibadah didalamnya. Bahwa setiap spektrum dalam kehidupan kita bahwasanya ada dalam lindungan Sang Maha Prima dan Mencoba mencari ridha dari Dzat yang mencipatakan kita semua....Oleh karena itu betapa hinanya ketika pencapaian manusia diukur melalui ukuran fisik materialis...

Tunggu sebentar saudara-saudara, pemaparan diatas tidak berarti saya mendukung aliran non konservatif ya.... I like the idea of independency in life, tapi saya tetep menjalani tahapan itu,...Apakah karena tuntutan dan persepsi masyarakat?? Mungkin dalam alam bawah sadar saya menyatakan iya, mengingat saya juga dibesarkan dalam dunia feodalistik di alam Indonesia ini. Tapi di dalam alam sadar tentunya ada sebuah rasionalisasi dari tindakan yang diambil terkait dengan tahapan-tahapan di atas.

Spesfifik berbicara nikah...Anis Matta menyatakan ada 4 persiapan kalau mau nikah: ideologi (fikroh), fisik, mental, finansiall. Kalau rumus dari salah seorang sahabat saya dalam menuju persiapan nikah itu : Ruhiyah, Ilmu, Ikhlas, Kriteria, baru nama. Dan ada banyak persiapan, kriteria yang sudah diungkapkan oleh para ustadz atau ahli psikologi lainnya mengenai tema nikah dan persiapan menuju kepadanya..... Memang menikah itu merupakan topik paling hangat dibicarakan, apalagi buat para pemuda lepas 20 (jadi teringat sama temen saya yang sangat amat ingin menikah padahal baru tingkat 2)

Nikah itu kan sebuah media untuk mengekspresikan cinta kita kepada pasangan kita sebagai sebuah aktualisasi cinta kita kepada sang maha pencipta. Nikah bukan hanya sebagai alat untuk menghalalkan yang haram saja kan... Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan bahwa cinta yang kita bicarakan di sini adalah tentang cinta yang suci, dari seorang lelaki yang suci, yang tidak menginginkan agama dan kesucian dirinya serta pribadinya menjadi rusak, hubungan antara dirinya dengan Allah menjadi renggang....

Menurut konsep Islam, pernikahan adalah ikatan suci antara lelaki dan perempuan yang dilandasi oleh syariat agama untuk menempuh kehidupan yang penuh dengan ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Karena itu, sebuah pernikahan harus dimulai dengan niat yang lurus. Sebuah pernikahan yang diawali dengan niat yang tidak lurus, baik diucapkan secara eksplisit maupun tersembunyi merupakan sesuatu yang tercela dalam Islam (www.myquran.org)

Nah terus pertanyaan belum terjawab kan...... Kapan nikahnya???

Untuk menuju proses sebuah pernikahan kan perlu ada persiapan tuh...Dan persiapan yang paling vital dari semua itu adalah persiapan ideologis (fikroh) yang melandasi semua pergerakan seorang manusia. Persiapan ideologi itu bisa macem-macem dan meliputi banyak spektrum, salah satu yang paling penting adalah ikhlas. Ikhlas dalam menyambut datangnya pernikahan dan ikhlas dalam menerima kondisi yang mungkin terjadi pada saat pernikahan... Ikhlas ini adalah elemen paling berat dalam setiap manusia. Keinginan untuk mendapatkan yang terbaik, Versi manusia ditambah stereotipe yang diciptakan masyarakat mengenai citra istri idaman, menyebabkan kesulitan dalam menumbuhkan rasa ikhlas.....

Berbicara kriteria yang lain ;yaitu finansial, ilmu dan fisik...Itu semua kriteria yang bisa terukur dengan jelas dan jelas juga cara melakukan akselerasinya. Fisik, banyak-banyak olahraga. Finansial, kerja yang keras walau gak usah sampe tajir banget lah kalo untuk menikah. Ilmu, Baca buku risalah nikah yang tebelnya segede bantal sampe tamat (lumayan kalo gak tamat2 bisa dipake buat tidur sekalian)

Tulisan ini merupakan sebuah pembelaan terhadap semua pertanyaan yang pernah diajukan terkait dengan pernikahan dan waktu pernikahan... Menunda waktu menikah memang berarti pula menunda rahmat yang mungkin datang dari Allah SWT. Bisa juga menunda momentum terbaik dalam hidup kita (ada teman yang gue yang ngomporin Momentum itu harus diciptakan)...Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan terburu-buru dan sistematis. (Suharto aja jadi presiden pas tahun 66 akibat kesabarannya menunggu momen)..

Carpe diem...seize the day....ambil peluang..... itu jadi jargon favorit orang-orang yang ngomporin gue…. Tapi bukan masalah cepat atau lambat, tapi pada waktu yang tepat (ini juga jawaban gue pas ditanya kapan mau lulus). Momentum itu akan datang dari Allah, dan ketika datang pasti tidak bakal disia-siakan....karena pada dasarnya jodoh adalah sebuah mekanisme keniscayaan... Apakah 2007 terlalu lama atau terlalu cepat...apakah 2009 terlalu lama atau terlalu cepat..apakah umur 27-30 itu terlalu lama ???? relatif bagi setiap momen..

Buat teman-teman yang baca BLOG ini...hanya keikhlasan yang membatasi antara saya dan waktu pernikahan saya....

Ijinkan saya juga menuliskan nasyid favorit pada saat walimahan dibawah ini

Teman-teman....

Aku Pasti Nikah….Satu Hari Nanti…

-Catur-

Masih mau menunda waktu menikah

TEMAN SEJATI (Brothers)

disadur dari www.liriknasyid.com

* Selama ini ku mencari-cari
Teman yang sejati buat menemani
Perjuangan suci
Bersyukur kini pada illahi
Teman yang dicari
Selama ini telah ku temui

** Dengannya disisi perjuangan ini
Senang diharungi bertambah murni
Kasih illahi

Kepadamu Allah ku panjangkan doa
Agar berkekalan kasih sayang kita
Kepadamu teman ku pohon sokongan
Pengorbanan dan pergertian
Telah ku ungkapkan segala-galanya

Teman bersamalah kita
Semaikan persahabatan ini
Dengarkanlah dan teruskanlah
Perjuanganmu, pengorbanan dan kesetiaanmu

Kepadamu Allah ku pohon restu
Agar lita kekal bersatu
Kepadamu teman teruskan
Perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan
Telah ku ungkapkan segala-galanya
Itulah tandanya kejujuran kita

Comments:
  • Udeh...kongkrit aja ...dah banyak tuh yang nunggu, kasian kan...
    Posted by Anonymous egi @ 8:06 PM
     
  • Hmmm... Sejak kapan tuh nasyid jadi favorit???
    He he he.. InsyaAllah gw siap deh jadi panitia
    Mau di mana? Salman? Jakarta? Beresssssss
    Posted by Anonymous Agung @ 12:02 AM
     
  • Buat egi...biarin aja gi nunggu...kan gue emang layak di tunggu...dan si bidadari pasti layak untuk di tunda hingga beberapa tahun lagi....entar juga kongkrit...

    Buat agung... bukan favorit gue gung, tapi selalu ada di tiap walimahan yanggue kunjungi..Lagu mars orang JOMBLO tuh.. Kalo di Bandung di Salman, kalo di Jakarta di SUnda Kelapa...Kalo di Kota lain???NO comment..takut dituduh mengarah ke kriteria geografis

    SABAR kawan.....
    Posted by Anonymous catur @ 7:40 PM
     
Cinta kedua...ketiga...keempat....kelima...(story about Bandung and Jogja)
Sunday, October 16, 2005
Antara Bandung dan Jogja..Ku Jatuh Cinta

Orang bilang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan...gue udah lupa cinta pertama gue sama siapa...mungkin sama salah satu anak perempuan waktu jaman gue masih SD kali ya ;) . kalo cinta kedua gimana???kalo ada cinta kedua, berarti gimana nasib cinta pertama..yah dilupain lah, wong juga namanya anak SD, yang paling masih cinta monyet yang mungkin lupa dalam sejenak..
Cinta itu kan gak musti sebuah perasaan yang terkait dengan "I can't live without u" gitu kan.. SImpilifikasi aja definisi cinta ke dalam sebuah perasaan suka, simpati atau apapun lah..emang sih ada yang suka membedakan antara suka, sayang ama cinta..kalo gue mah simplifikasi aja, cinta ya cinta....cuma masalah seberapa besar cinta itu dapat membuat kita melakukan sesuatulah yang membedakan antara cinta monyet gue sama temen SD gue (yang gue sendiri juga udah lupa sama siapa, tapi kayanya sih waktu kelas 2 SD) atau antara cinta ibu kepada anak atau cinta suami kepada IStri atau yang lebih Luar biasa cinta Sang Pencipta kepada CiptaanNya....tapi pada dasarnya semua itu cinta kan...
Nah yang mau gue omongin kali ini adalah cinta gue kepada dua buah entitas dengan dimensi yang sama dan mungkin menjadi cinta gue yang ke 40 sekian sama yang ke 60 sekian (diurutkan berdasarkan urutan kejadian bukan proritas).. CInta gue pada dua buah kota, Bandung dan Jogja...Kalo dalam dimensi kota, dua kota ini lah yang entah kenapa selalu bikin gue kembali ke dua kota ini...oleh karena itu ijinkanlah gue menceritakan kenapa gue bisa jatuh cinta ke dua kota ini...
Bandung, parisj van java, kota kembang, ibukota parahyangan
ceunah (katanya in sundannesse). Sebelum kelas 3 SMA, gue gak pernah nginjek yang namanya kota Bandung. bahkan gak bakal kebayang bakal ke Bandung. aka tetapi jalan hidup SPMB menghantarkan gue ke kotanya Sangkuriang ini.. Ya bener, ke Kampus Institu t Teknologi BAndung akhirnya gue mendarat. Sebuah kampus dengan ukuran gak lebih dari 5 hektar di pusat kota Bandung: samping kebon binatang bandung, deket sama Jalan Juanda (well known as Dago), dan punya view langsung bebas hambatan ke Gunung Tangkuban PErahu. Ini yang pertama bikin gue jatuh cinta sama kota ini, KAMPUS gue..adem, mungil, gampang dijangkau, deket sama pusat perekonomian (pasar n mall) dan tetep tidak meninggalkan kesan modern sekaligus historik yang tercipta melalui proses pendidikan dan demonstrasi selama bertahun-tahun. kemudian namanya orang yang jatuh cinta ya....ya apapun yang mungkin kata orang biasa aja, tetep aja bikin gue makin cinta sama kota ini.
Dari Steak Kaki Lima di Sulanjana, NAsi Goreng Cirebon di Simpang (yang belakangan gue jadi agak gak doyan krena MSGnya gak kira-kira), Masjid Salman (yang gak keliatan kayak mesjid), Ayam Bakar Taman Sari, Belanja di Pasar BAru (wah ini paling seru), Jalan antara Lembang-Dago Via Tahura, nyari DVD Bajakan di Dalem Kaum, Toko Bandung Book Centre di palasari, Warung Roti Bakar Dwilingga, deketnya jarak Kampus ke DPRD (jadi rada gampang kalo demo), Punclut, Situ Lembang, sampe Bukits Burangrang (banyak bukit means GUNUNG) and many more yang bikin gue tergila-gila. Suasananya, ramah orang-orangnya, angkotnya, ademnya, macetnya, banyaknya tempat nongkrong, tempat makan, dan memori-memori yang susah dilupain. Spot favorit gue di BAndung adalah kamar kos gue yang terakhir (yang gue tempatin baru setelah gue tingkat 5) yang berada di lantai 2 di Cisitu Lama Gang 19. Kebetulan jendelanya menghadap ke barat. jadi pas pagi-pagi kalo gue lagi ngerjain TA, main game atau nonton film paska sholat subuh, gue suka amaze sendiri kalo gue melihat semburat pantulan sinar matahari pas pagi hari..WOW MAN...OK Banget....menginspirasi pagi gue..apalagi kalo pas ngerjain TA, gak bikin gue jadi tambah cerdas sih, cuma bikin perasaan nyaman (kayak pas ketemu sama orang yang lagi ditaksir kali perasaannya). pemandangan itu selalu bikin gue terdiam beberapa saat (tapi gak lama-lama kok).
Yah itu lah bandung. Walau kata orang pergaulan disini bebas (thank's to the movie , Itenas), banyak (maaf) pereknya, tapi gue gak pernah liat sisi negatif itu. karena sisi positifnya kayanya lebih banyak dari kota BAndung dibandingkan dengan sisi negatifnya. toh, everyting has good side and bad side.
Lain lagi dengan Jogja..Kesempatan untuk berkunjung ke Jogja itu dah sering, tapi gue bener2 ke Jogja akhirnya pada saat pertengahan tahun 2003, short visit (cuma 13 jam), dan transit dari perjalanan Surabaya ke Bandung. Kebetulan 2 orang yang belum pernah berkunjung ke Yogya, dengan modal nekat,akhirnya naek bus ekonomi dari Surabaya sampe Jogja jam 4 pagi. akhirnya nginep lah kita di terminal umbulharjo yang gak OK itu..kesan pertama sangat biasa aja tuh Yogya. dan ketika akan meninggalkan kota yogya, gue bilang sama temen gue "kapan-kapan ya kira-kira gue bakal balik ke Jogja??". Ucapan itu ternyata menghasilkan karma.antara jarak waktu pertengahan 2003 sampe pertengahan 2005 gue 8 kali bolak-balik ke Jogja...
Beda sama Bandung yang love at first sight. kalo Jogja itu witing tresno jalaran soko kulino atau cinta datang karena pertemuan yang terus menerus. Kalo pas awal gue cuma keliling malioboro. sekarang mah udah mulai kemana-manalah...
Sekarang giliran gue kasih tahu kenapa gue jatuh cinta sama Jogja..hampir sama dengan Bandung gue suka simplicity of the city. Kecil, compact, dengan sistem transportasi yang gak lumayan membingungkan. berhari-hari di Jogja itu nyenengin banget. orangnya ramah-ramah dan makanannya (again ) enak banget. Sop jeroan depan UGM, nasi Kucing di angkringan, Mie Kadin, Gudeg (nah yang ini gue lupa yang enak yang mana, abis banyak bener). paling asik itu makan angkringan pagi-pagi di Malioboro sambil mengamati aktivitas perekonomian pagi hari oleh para PKL di sepanjang Malioboro. Morning life in Jogja adalah hal yang paling penting dari Jogja itu sendiri. DItambah terminal giwangan yang keren banget yang jadi nilai plus sendiri (kenapa dulu waktu gue terdampar di Jogja terminalnya gak kayak gini). Kehidupan perdesaan dan rural dapat terekam via bus yang membawa para commuter dari Bantul or Sleman ke Jogja pada pagi dan sore hari. Simplicity of Jogja had made my heart left in that city...
Gue suka Bandung karena kelap-kelip dan lengak-lenggok kehidupan perkotaannya, walau tetap mempertahankan fungsinya sebagai sebuah kota perantara non-metropolitan. Mungkin ini disebabkan karena sektor jasa yang berada di Bandung tidak lebih dari sekedar sektor jasa pariwsata dan pendukungnya. Untuk Jogja gue jatuh cinta karena kesederhanaan sebuah kota dan wajah perdesaan...
Kalau kemudian ditanya lebih suka mana Jogja atau Bandung..GUe akan jawab dua-duanya, biarpun dipaksa gue gak bakal milih. karena cinta bukan berarti harus milih kan. kalu bisa dua, kenapa harus milih satu (tapi sayangnya ini tidak berlaku untuk cinta kepada Istri). Cintanya bukan cinta yang terpisah 50-50 atau 60-40. tapi gue punya cinta yang sama besarnya terhadap Jogja dan Bandung 100-100 ah (skala 100). serakah ya???memang iya...
Sekarang ??? Yah dengan seneng hati gue terdampar di Ibukota karena tidak bisa dinafiki disnilah tempat kita mendulang rupiah dengan sejahtera. Walau begitu gue selalu yakin bahwa gue akan kembali lagi ke Kota Jogja dan BAndung kapanpun gue sempet....
Because i've left my heart in Jogja and Bandung...
Kalo Sheila MAjid punya lagu antara Anyer dan Jakarta Aku Jatuh Cinta...
Kalo gue antara Jogja dan Bandung Aku Jatuh Cinta...

-Catuy (y=R)-
deSANGKUNI-SANG PERENCANA MUDA
Comments:
  • Baca tulisan lu tur, membuat gw jd kangen sama 2 kota itu. Terutama bandung...meski gw bukan org bandung...krn gw tinggal di jatinangor yg lu bilang bandung coret itu.
    tp gw kangen sekaligus nyesel..why??soalnya gw ga sempet hunting makanan yg enak2 slma di bdg !! poor me :( Jarak yg jauh antara jatinangor-bandung, plus panasnya bis damri(skrg c udh ada yg AC) bikin gw males bt jalan.
    Tp gpp kok..jdnya krn itu gw sll pengen dtg dan dtg lagi ke bdg.Apalagi gw blum ke ciwalk (hr gini blum ksana..:p), ga liat rio febrian deh..he..he..he..
    Posted by Blogger Li@ @ 11:29 PM
     
  • Kok Commentnya jadi aneh ya/....
    Posted by Anonymous tes...tes.... @ 6:30 PM
     
  • ini adalah percobaan untuk kesekian kali untuk membetulkan comment
    Posted by Anonymous catur @ 8:34 PM
     
  • Sederhana!Berhubung jq dari jogja asli, comment paling singkat:jadikan
    kesederhanaan itu sebagai simbol pengingat! Bahwasanya kota pun bisa
    tumbuh dalam utopia yang sederhana, dan tidak sebaliknya : memuncak,
    menangkar langit seperti melupakan asalnya....
    Posted by Anonymous jeki @ 8:41 PM
     
  • MEmang sederhana jek... tapi memang kadang kota itu harus tumbuh dalam suasana glamor. Jogja memang harus sederhana karena karena kesederhanannyalah aku suka ke sana
    Sama seperti Bandung...yang aku suka karena "kegenitan" dari kotanya yang bikin orang tergoda.
    Kalo sama BAndung itu rasanya seperti punya TTM atau punya selingkuhan, ada sensasi gitu deh. Kalo sama Jogja sama seperti pacaran sama perawan desa yang sederhana. Kalo sama Jakarta sama kaya wanita karir yang ambisius atau sama (maaf) WTS yang only care with the money. Eh ini analogi kotanya lho..bukan generalisasi dari para wanitanya
    Posted by Anonymous catur @ 7:45 PM
     
Menyambut Ramadhan
Tuesday, October 04, 2005
Selamat Datang Ramadhan.....
04102005- Sore hari di kantor (17.45)

MAu nulis yang rada enteng sekarang ah...bosen nulis yang berat2....
Duduk di kantor, sambil dengerin Winamp di Kompie bersautan dengan Suara ngaji dari Sunda Kelapa...menikmati sore terakhir di bulan sya'ban...Iya bener..udah mau puasa...

Gak kerasa ya udah mau ramadhan..jadi banyak mikir..setahun terakhir ini apa perubahan siginfikan terutama terkait dengan kualitas ruhiyah dan ibadah dari seorang manusia seperti catur ya??? apakah menjadi lebih hanif? menjadi lebih alim? menjadi lebih rajin ibadahnya? ataukah stagnan...mengalami dekadensi moral kah? makin males beribadah kah??makin indvidualis kah? makin males beraktivitas kah?? pernah timbul pertanyaan-pertanyaan seperti itu?? kayaknya i blew my year...tidak ada sebuah perubahan siginfikan tahun ini. kalo mau jujur. ya anget-anget tai ayam lah....

memaknai ramadhan seharusnya dapat menjadi sebuah milestone bagi kita sebagai seorang manusia dalam meningkatkan kualitas ibadah kita..ataukah ramadhan hanya menjadi tempat persinggahan bagi kita sekedar untuk puasa sajakah?? terkadang saya berpikir, mungkinkan ramadhan sekarng menjadi sebuah rutinitas belaka....

Duh suara adzannya kedengeran...kok indah kedengeran di kuping ya.....

Sejarah banyak diciptakan di bulan ramadhan. Turunnya al qur'an, perang badar, kemerdekaan indonesia dan lain sebagainya. Sejarah sebuah bangsa sejarah sebuah kaum di cetak oleh para alumnus ramadahn terbaik..... Sejarah tersebut di cetak melalau rangkaian proses akselerasi ibadah yang optimal sehingga pada akhirnya akan membawa kita kepada sebuah kondisi kemenangan yang sempurna dan bukan sebuah kemenangan yang semu....

Gue ngomong apaan sih.....the point sih..gue cuma mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa..semoga Ramadhan ini menjadi sebuah tempat bagi kita semua untuk mengakselerasi kualitas ibadah dan ruhiyah kita kepada sebuah kondisi ramadhan yang maksimal.....

Jazakumullah Khairan Katsir kepada yang sedang menunggu ....

-Catuy-
Comments:
    Copyright © 2007 Catur