Aku Pasti Nikah….Satu Hari Nanti…
Pembelaan Terhadap Sebuah Azzam
”Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin)...” (QS 24 : 32)
Give your hearts, but not into each other's keeping. For only the hand of Life can contain your hearts. And stand together yet not too near together: For the pillars of the temple stand apart, And the oak tree and the cypress grow not in each other's shadow (GIBRAN)
Judulnya lucu kan…ini bukan pernyataan bahwa gue mau nikah lho…
6 bulan yang lalu pertanyaan yang paling gue benci adalah ”kapan lulus??”. Pertanyaan itu terlepas lahir dari sebuah kepedulian temen ke temen ,kadang menjadi satu tuntutan yang berlebihan e..kenapa sih gak pada nunggu aja..sebenarnya kalo yang nanya 1-3 orang masih gak papa...tapi yang nanya itu banyak bener...serasa dikejar-kejar..Tapi akhirnya pertanyaannya terjawab bukan dengan lisan, tapi dengan kelulusan (walau ada yang baru tahu gue lulus after 4 bulan)
Tapi namanya manusia hidup dalam sebuh siklus pertanyaan tanpa henti..maka pertanyaan yang lain pun segera datang dengan cepat...Pertanyaan yaitu ”Kapan nikah???”. Dari mulai yang bernada bercanda dan manas2in sampai yang bernada serius dan argumentatif (yang dimaksud arguementatif di sini adalah mengemukakan semua alasan mengenai postifnya menikah). Anehnya pertanyaan ini akan semakin deras diajukan manakala ada teman yang lain menikah. Seperti ada sebuah pola yang harus dipatuhi oleh setiap manusia indonesia: Kuliahàlulusàkerjaànikahàpunya anak and so on.. dan setiap tahapan itu selalu diikuti dengan pertanyaan ”Kapan (lulus, kerja, nikah, punya anak)??”. apakah setiap manusia pada akhirnya mesti terjebak untuk mengikuti tahapan yang pakemnya diwarisi dari sebuah kebudayaan materialis bahwa pencapaian seorang manusia adalah melalui tahapan-tahapan berupa fisik yang harus dicapainya..
Apakah tahapan itu adalah pencapaian ataukah sebuah rutinitas kehidupan yang dijalani oleh setiap orang sebagai sebuah media dalam melakukan sebuah mobilisasi baik vertikal maupun horizontal dalam status sosialnya. Walau banyak pihak yang menyangkal bahwa tahapan itu adalah sebuah rutinitas, melainkan sebuah proses kehidupan manusia yang fitrahnya seperti itu. Tapi kenyataan di lapangan berbicara beda, ketika ada yang belum mencapai, tidak berhasil mencapai atau memilih jalan lain dari tahapan-tahapan (lulus, kerja, nikah, anak) maka yang didapatkan adalah cibiran, sindiran, sepetan, pandangan iba, gunjingan, tekanan, intimidasi, cacian atau sekedar tawaran bantuan (baik yang formal ataupun klenik kaya dukun). Tak bisa dipungkiri bahwa budaya feodalistik warisan jaman kolonial, memperspesikan seorang manusia melalui pencapaian2 fisik yang harus dilaluinya. Kalau ada mahasiswa yang lulusnya lama, dibilang bodoh atau males. Kalau ada sarjana yang pengangguran, dibilang buang-buang uang untuk dapat gelar. Kalau ada yang belum nikah sampe usia 30 tahun, dibilang bujangan/perawan tua yang gak laku. Kalau ada yang belum punya anak sampe usia 2 tahun pernikahan, dibilang mandul bahkan ada yang menceraikan istrinya (terlepas dari itu dibolehkan agama dan negara),yang notabene selalu jadi mahluk yang inferior atas laki-laki dan selalu dipersalahkan atas ketiadaan anak dalam keluarga (duh sinteron banget ya). Apalagi kalau ada yang memilih untuk tidak mau mengikuti tahapan diatas, hukuman paling ringan paling gunjingan dan paling keras di usir dari masyarakat setempat (pada beberapa tempat hal ini dapat terjadi).....
Hidup bukan lah hanya untuk itu.....Hidup terlalu indah kalau hanya diukur dari sebuah pencapaian fisik dan materialis semata. Sampai kadang-kadang kita mmenjadikan itu hanya sebuah rutinitas materialis, dan lupa bahwa ada faktor ibadah didalamnya. Bahwa setiap spektrum dalam kehidupan kita bahwasanya ada dalam lindungan Sang Maha Prima dan Mencoba mencari ridha dari Dzat yang mencipatakan kita semua....Oleh karena itu betapa hinanya ketika pencapaian manusia diukur melalui ukuran fisik materialis...
Tunggu sebentar saudara-saudara, pemaparan diatas tidak berarti saya mendukung aliran non konservatif ya.... I like the idea of independency in life, tapi saya tetep menjalani tahapan itu,...Apakah karena tuntutan dan persepsi masyarakat?? Mungkin dalam alam bawah sadar saya menyatakan iya, mengingat saya juga dibesarkan dalam dunia feodalistik di alam Indonesia ini. Tapi di dalam alam sadar tentunya ada sebuah rasionalisasi dari tindakan yang diambil terkait dengan tahapan-tahapan di atas.
Spesfifik berbicara nikah...Anis Matta menyatakan ada 4 persiapan kalau mau nikah: ideologi (fikroh), fisik, mental, finansiall. Kalau rumus dari salah seorang sahabat saya dalam menuju persiapan nikah itu : Ruhiyah, Ilmu, Ikhlas, Kriteria, baru nama. Dan ada banyak persiapan, kriteria yang sudah diungkapkan oleh para ustadz atau ahli psikologi lainnya mengenai tema nikah dan persiapan menuju kepadanya..... Memang menikah itu merupakan topik paling hangat dibicarakan, apalagi buat para pemuda lepas 20 (jadi teringat sama temen saya yang sangat amat ingin menikah padahal baru tingkat 2)
Nikah itu kan sebuah media untuk mengekspresikan cinta kita kepada pasangan kita sebagai sebuah aktualisasi cinta kita kepada sang maha pencipta. Nikah bukan hanya sebagai alat untuk menghalalkan yang haram saja kan... Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan bahwa cinta yang kita bicarakan di sini adalah tentang cinta yang suci, dari seorang lelaki yang suci, yang tidak menginginkan agama dan kesucian dirinya serta pribadinya menjadi rusak, hubungan antara dirinya dengan Allah menjadi renggang....
Menurut konsep Islam, pernikahan adalah ikatan suci antara lelaki dan perempuan yang dilandasi oleh syariat agama untuk menempuh kehidupan yang penuh dengan ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Karena itu, sebuah pernikahan harus dimulai dengan niat yang lurus. Sebuah pernikahan yang diawali dengan niat yang tidak lurus, baik diucapkan secara eksplisit maupun tersembunyi merupakan sesuatu yang tercela dalam Islam (www.myquran.org)
Nah terus pertanyaan belum terjawab kan...... Kapan nikahnya???
Untuk menuju proses sebuah pernikahan kan perlu ada persiapan tuh...Dan persiapan yang paling vital dari semua itu adalah persiapan ideologis (fikroh) yang melandasi semua pergerakan seorang manusia. Persiapan ideologi itu bisa macem-macem dan meliputi banyak spektrum, salah satu yang paling penting adalah ikhlas. Ikhlas dalam menyambut datangnya pernikahan dan ikhlas dalam menerima kondisi yang mungkin terjadi pada saat pernikahan... Ikhlas ini adalah elemen paling berat dalam setiap manusia. Keinginan untuk mendapatkan yang terbaik, Versi manusia ditambah stereotipe yang diciptakan masyarakat mengenai citra istri idaman, menyebabkan kesulitan dalam menumbuhkan rasa ikhlas.....
Berbicara kriteria yang lain ;yaitu finansial, ilmu dan fisik...Itu semua kriteria yang bisa terukur dengan jelas dan jelas juga cara melakukan akselerasinya. Fisik, banyak-banyak olahraga. Finansial, kerja yang keras walau gak usah sampe tajir banget lah kalo untuk menikah. Ilmu, Baca buku risalah nikah yang tebelnya segede bantal sampe tamat (lumayan kalo gak tamat2 bisa dipake buat tidur sekalian)
Tulisan ini merupakan sebuah pembelaan terhadap semua pertanyaan yang pernah diajukan terkait dengan pernikahan dan waktu pernikahan... Menunda waktu menikah memang berarti pula menunda rahmat yang mungkin datang dari Allah SWT. Bisa juga menunda momentum terbaik dalam hidup kita (ada teman yang gue yang ngomporin Momentum itu harus diciptakan)...Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan terburu-buru dan sistematis. (Suharto aja jadi presiden pas tahun 66 akibat kesabarannya menunggu momen)..
Carpe diem...seize the day....ambil peluang..... itu jadi jargon favorit orang-orang yang ngomporin gue…. Tapi bukan masalah cepat atau lambat, tapi pada waktu yang tepat (ini juga jawaban gue pas ditanya kapan mau lulus). Momentum itu akan datang dari Allah, dan ketika datang pasti tidak bakal disia-siakan....karena pada dasarnya jodoh adalah sebuah mekanisme keniscayaan... Apakah 2007 terlalu lama atau terlalu cepat...apakah 2009 terlalu lama atau terlalu cepat..apakah umur 27-30 itu terlalu lama ???? relatif bagi setiap momen..
Buat teman-teman yang baca BLOG ini...hanya keikhlasan yang membatasi antara saya dan waktu pernikahan saya....
Ijinkan saya juga menuliskan nasyid favorit pada saat walimahan dibawah ini
Teman-teman....
Aku Pasti Nikah….Satu Hari Nanti…
-Catur-
Masih mau menunda waktu menikah
TEMAN SEJATI (Brothers)
disadur dari www.liriknasyid.com
* Selama ini ku mencari-cari
Teman yang sejati buat menemani
Perjuangan suci
Bersyukur kini pada illahi
Teman yang dicari
Selama ini telah ku temui
** Dengannya disisi perjuangan ini
Senang diharungi bertambah murni
Kasih illahi
Kepadamu Allah ku panjangkan doa
Agar berkekalan kasih sayang kita
Kepadamu teman ku pohon sokongan
Pengorbanan dan pergertian
Telah ku ungkapkan segala-galanya
Teman bersamalah kita
Semaikan persahabatan ini
Dengarkanlah dan teruskanlah
Perjuanganmu, pengorbanan dan kesetiaanmu
Kepadamu Allah ku pohon restu
Agar lita kekal bersatu
Kepadamu teman teruskan
Perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan
Telah ku ungkapkan segala-galanya
Itulah tandanya kejujuran kita






He he he.. InsyaAllah gw siap deh jadi panitia
Mau di mana? Salman? Jakarta? Beresssssss
Buat agung... bukan favorit gue gung, tapi selalu ada di tiap walimahan yanggue kunjungi..Lagu mars orang JOMBLO tuh.. Kalo di Bandung di Salman, kalo di Jakarta di SUnda Kelapa...Kalo di Kota lain???NO comment..takut dituduh mengarah ke kriteria geografis
SABAR kawan.....