Sikap gue soal Hutang Luar Negeri Kita
Tuesday, June 27, 2006

UTANG..UTANG………

Sikap Gue mengenai Pinjaman Luar Negeri

Ok kali ini kita akan membicarakan utang…..

Utangnya siapa??? Yang jelas bukan utang gue, soalnya off the record (kecuali mau ngelist piutang ya). Sayangnya hari ini kita akan membicarakan mengenai hutang luar negeri kita.....

Isu ini menjadi isu yang amat menarik untuk diperdebatkan oleh banyak orang. Karena beberapa bulan terakhir ini wacana untuk melunasi hutang ke IMF lebih awal sedang deras dibahas. Sampe salah satu temen gue merasa perlu untuk mengirim SMS ke gue soal ini (sori men, bukan gue yang mutusin masalah utang nichhhh). Mulai dari besaran utang, manajemen utangnya, alasan ngutang, alokasi utang, pengemplang utang dan lain sebagainya... ini belum ditambah dengan isi tambahan lainnya seperti agenda tersembunyi para lender (peminjam) kepada borrower (pengutang)

Sebenarnya buat apa sih kita ngutang....

Struktur hutang luar negeri yang ada di Indonesia saat ini itu ada hutang swasta dan hutang pemerintah. Jadi pada saat kita ingin mengomentari mengenai persoalan hutang negara maka hal ini perlu diklarifikasi dulu...Hutang pemerintah atau swasta.?? Ok gue mengikuti asumsi saja bahwa yang dimaksud hutang ini hutang pemerintah.

Biar rada runtut kita bicara definisi dulu deh soal definisi hutang luar negeri oleh Pemerintah

Hutang luar negeri pemerintah Indonesia merupakan pinjaman dari pihak-pihak asing seperti (i) negara sahabat; (ii) lembaga internasional (IMF, World Bank, ADB, dll); dan (iii) pihak lain yang bukan penduduk Indonesia. Bentuk hutang yang diterima dapat berupa (i) dana; (ii) barang; dan (iii) jasa. Berbentuk barang bila pemerintah membeli barang modal ataupun peralatan perang yang dibayar secara kredit. Sedangkan bentuk jasa sebagian besar berupa kehadiran tenaga ahli dari pihak kreditur untuk memberikan jasa konsultasi pada bidang-bidang tertentu yang lebih dikenal dengan Technical Assistance.

. Struktur komponen pinjaman dari pemerintah sendiri dapat berupa beberapa jenis. Beberapa yang umum dikenal sih ada (menurut PP 2 tahun 2006) ...

  1. pinjaman komersil dimana pinjaman luar negeri Pemerintah yang diperoleh dengan persyaratan yang berlaku di pasar dan tanpa adanya penjaminan dari lembaga penjamin kredit ekspor. Biasanya pinjaman jenis ini dipergunakan untuk meningkatkan ekonomi negara dengan mendorong usaha-usaha komersil dan diteruspinjamkan kepada swasta.
  2. fasilitas Kredit ekspor berupa pinjaman komersial yang diberikan oleh Iembaga keuangan atau lembaga non keuangan di negara pengekspor yang dijamin oleh lembaga penjamin kredit ekspor. Fasilitas ini biasanya dipakai untuk pembelian senjata atau barang di luar negeri
  3. komponen Pinjaman Lunak adalah pinjaman yang masuk dalam kategori Official Development Assistance (ODA) Loan atau Concessional Loan, yang berasal dari suatu negara atau lembaga. multilateral, yang ditujukan untuk pembangunan ekonomi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial bagi negara penerima dan memiliki komponen hibah (grant element) sekurang-kurangnya 35% (tigapuluh lima per seratus).
  4. Pinjaman program (program loan) adalah pinjaman luar negeri dalam valuta asing yang dapat dirupiahkan dan digunakan untuk pembiayaan APBN.
  5. Pinjaman proyek (project loan) adalah pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan tertentu.

Posisi pinjaman luar negeri pemerintah sampai dengan akhir 2005 adalah US$ 66,6 milyar (sumber Departemen Keuangan)

Untuk tahun 2006 ini, APBN 2006 merencanakan penerimaan pinjaman luar negeri terdiri atas pinjaman program sebesar US$ 1 miliar (Sekitar Rp 9,3 triliun) dan pinjaman proyek US $ 2,546 miliar (sekitar Rp 23,678 triliun). Rinciannya, pinjaman program didapat dari Bank Pembangunan Asia (ADB) US $ 1 juta (setara Rp 9,3 miliar), Bank Dunia US $ 400 juta (sekitar Rp 3,72 triliun) dan Jepang US$ 100 juta (setara Rp 930 miliar). Sementara pinjaman proyek di dapat dari Bank Dunia US$ 350 juta (Rp 3,255 triliun), ADB US$ 317,6 juta (Rp 2,95 triliun), Jepang US$ 610,10 juta (Rp 5,674 triliun), pinjaman multirateral lainnya US$ 110,0 juta (Rp 1,023 triliun dan pinjaman bilateral lainnya US$ 193,3 Juta (Rp 1,797 triliun). Per 31 des 2005 stok utang luar negeri Indonesia mencapai US $ 61,04 miliar ( sekitar Rp 567,67 triliun) terdiri atas 51 persen pinjaman bilateral, 0,3 persen Bonds and Notes, 0,1 persen komersial kredit, 19,4 persen kredit ekspor, 0,2 persen leasing dan 29 persen pinjaman multirateral. (Temp Interaktif, 07/02/06).

Mungkin kita kemudian bertanya buat apa berhutang??? Kenapa sih tidak membereskan hutang lama sebelum membuat hutang baru?? Siapa yang akan membayar hutang kalo sudah terlalu besar (apakah kita harus mengajukan diri PAILIT seperti Argentina)?? Kenapa pinjaman tidak pernah terasa sampai ke masyarakat???

Begitu banyak pertanyaan yang gak mungkin gue sendiri untuk menjawab....

Kenapa kita harus berhutang?? Sebenarnya jawabannya amat sederhana, penerimaan negara yang ada saat ini belum mampu berpacu dengan kebutuhan pengeluaran negara yang diinginkan, dengan kata lain kita gak punya uang yang cukup. Mengapa penerimaan negara kita rendah, ini bisa disebabkan dari dua hal yaitu kultur masyarakat Indonesia yang belum mau membayar pajak dan banyaknya pos penerimaan yang bocor akibat inefiesiensi, mismanajemen dan korupsi dari anggaran negara..

Apakah kesalahan tersebut harus dibayar dengan berhutang.. Sebenarnya untuk menambah pos penerimaan negara ada dua cara menarik dana dari dalam negeri berupa pajak or surat hutang, ada juga menarik dana dari luar negeri.. Ya karena mungkin kulur bangsa Indonesia yang belum mau bayar pajak, makanya negara lebih memilih menarik dana dari luar negeri. Sebagai gambaran pada APBN 2006 defisit anggaran mencapai 22,5 Triliun.

Keinginan negara untuk mengejar pertumbuhan ekonomi melahirkan konsekuensi untuk mendorong pembangunan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja.

Hmmm........ kalo utang IMF??? Hutang IMF memiliki sifat berbeda dengan hutang dari lembaga donor lainnya. Hutang yang diberikan oleh IMF lebih berfungsi untuk menjaga stabilitas moneter negara kita. Jadi kalo menurut gue sah-sah saja apabila kita ingin menghentikan hutang IMF saat ini juga.. karena hutang dari lembaga ini lebih bersifat preventif dan tidak generatif terhadap pertumbuhan dan pembangunan di Indonesia.

Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata hutang yang kepentingannya dalam bidang infrastruktur, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pertanian, kehutanan, dan lain-lain. Seperti hutang dari Bank Dunia yang lebih dikenal dengan paket IBRD, sebagai sumber pembiayaan yang bersifat pembangunan untuk mendukung visi misi Bank Dunia...

Lalu apakah benar ada misi terselubung dari pinjaman yang diberikan oleh negara atau lembaga asing tersebut??? Bisa saja, seperti yang telah dipaparkan oleh John Perkins dalam bukunya Confessions of economic hitman..bahwa kapitalisme sedang berusaha menggurita di era globalisasi sekarang untuk menanamkan hegemoni di negara dunia ketiga... bisa saja sih..

Cuma saya mau berlogika sederhana saja..sebagai sebuah negara dan kekuatan politik, masa sih kita mau memberikan pinjaman dengan sukarela tanpa ada agenda titipan.. untuk konteks hubungan antara individu ke individu mungkin hal itu dapat berlaku.. akan tetapi untuk konteks G to G, atau organisasi ke organisasi, hal itu tidak berlaku... Misi eksplisit ataupun implisit itu pasti ada lah.. Gue ngayal misal Indonesia sudah kaya, pasti Indonesia akan memberikan pinjaman ke (misalnya) Togo atau Nepal misalnya dengan syarat-syarat memakai kontraktor Indonesia atau menerapkan falsafah dan ideologi Pancasila... iya gak???

Nah dengan kondisi perhutangan dan perpinjaman yang ada saat ini apa sih yang sebaiknya kita lakukan...????

Ya, saya tidak pro perhutangan tapi juga tidak menolak hutang. Saya hanya melihat saja bahwa pinjaman luar negeri merupakan salah satu pos pembiayaan yang mungkin didapatkan oleh negara untuk menutupi pos pembelanjaan negara yang ada saat ini.

  1. Genjot Penerimaan negara. Dengan meningkatkan penerimaan negara dari pos pajak dan non-pajak maka kita akan punya cukup dana untuk bikin jembatan, bikin MRT, dll. Tapi bentar dulu ... untuk melakukan langkah ini banyak bener tahapan dan langkah awalannya. Mulai dari peningkatan kualitas publik, peningkatan kesejahteraan, pemangkasan High Cost Economy, Menegakkan mental non-korup aparat dan banyak lagi.. tuh kan gak semudah membalikkan telapak tangan... ternyata banyak faktor yang melatar belakanginya...
  2. Seleksi Project yang akan diberi hutang. Nah ini penyakit orang Indonesia, pas ada peluang untuk bikin project semua berbondong-bondong untuk mengajukan proposal project. Pas udah selesai project hasilnya gak ada, pelaporan berantakan, kebocoran dana dimana-mana... yah gitu lah.. jangan salahin PNS saja, kontraktor atau pelaksana kerja dari sektor swasta juga sama gebleknnya... jadi perilaku korup itu emang domain orang republik ini, bukan hanya PNS. Oleh karena itu mekanisme penyeleksian project yang dibiayai oleh pinjaman harus diperketat dengan parameter dan indikator yang terukur dan berbasis kinerja. Paradigma shopping list dalam pengajuan project harus diubah dengan performance and strategic based dalam pengajuan project. Jaman Dahulu sih ada blue book untuk memaparkan project yang dilaksanakan. Sederhana?? Memang... gampang dilaksanakan>??? I don’t think so.......
  3. Manajemen Hutang yang tepat. Fungsi Bappenas dan Departemen Keuangan dalam melakukan fungsi sebagai debt office harus dapat dikawal. Tanpa ada manajemen perhutangan yang baik, yang timbul kemudian adalah project yang saling tumpang tindih, tidak tepat sasaran, kinerja buruk dan tidak memberikan efek apapun terhadap pembangunan bangsa Indonesia. Jumlah hutang yang masuk ke Indonesia yang besar harus diimbangi dengan manajemen yang ada. Sehingga multiplier effect akibat dari project yang dilaksanakan oleh pinjaman dapat menggerakkan perekonomian sehingga meningkatkan pendapatan negara dan membuat negara ini dapat membayar hutang kembali. Sebagaimana telah diketahui bahwa setiap tahunnya negara menanggung pembayaran beban hutang baik pokok dan bunganya hampir mencapai 30% dari total APBN. Sejatinya, utang dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Penelitian Pattilo, Pairson dan Ricci menemukan hubungan yang negatif antara utang dengan tingkat pendapatan perkapita. Dari 100 negara yang diteliti. Mereka menemukan kontribusi utang terhadap pendapatan perkapita suatu negara adalah negatif untuk rasio utang terhadap PDB (debt to GDP ratio) yang berada pada kisaran persentase 35-45%. Lebih lanjut, tingginya level utang tersebut dapat menyebabkan berkurangnya sumber daya yang dapat dialokasikan untuk kepentingan investasi yang dapat memperbaiki kinerja ekspor. Indonesia, berdasarkan data tahun 2005, memiliki rasio utang terhadap PDB sebesar 45,63%. Dengan berlandaskan pada penelitian yang telah dilakukan oleh Pattilo dkk, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa utang luar negeri mempunyai dampak yang kurang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nah untuk memperbaiki tersebut, perlu dilakukan manajemen yang lebih strategis dalam pengelolaan pinjaman luar negeri yang banyak masuk ke Indonesia.
  4. Kurangi Kebocoran.. Wah ini nih yang paling berat... perilaku korup yang mendarah daging di Indonesia mengakibatkan penggunaan dana pinjaman menjadi tidak penting... i don’t want to talk much about this process.. Langkah iini merupakan entry point terhadap 50% permasalahan republik ini.. Sudah banyak yang memberi ide. Semua sudah tahu masalahnya, sudah tahu jalan keluarnya, Cuma belum punya keinginan untuk menyelesaikannya. Ini berbicara mentalitas. Sekedar contoh saja salah satu PDAM Kota terbesar di Jawa memiliki tunggakan sebesar 52 Miliar yang kepada Pemerintah Pusat (karena pemerintah pusat udah nombokin pembaryaran hutangnya kepada lender.

Tulisan ini bukan berarti gue sudah merubah mindset gue menjadi pro-globalisasi dan pro-Amerika ya.. Gue Cuma mencoba menawarkan solusi dari permasalahan yang sudah ada di depan mata.. Solusi tidak membayar hutang dengan cara ngemplang adalah solusi childish dan tidak elegan yang ditawarkan oleh orang-orang yang putus asa.

Tidak membayar hutang, jelas bukan cara sebuah negara menyelesaikan persoalannya. Agreement yang sudah ditandatangani harus tetap ditaati oleh kita. Akan tetapi memang ada langkah ke depan yang perlu untuk dilakukan untuk tidak meneruskan persoalan ini sehingga tidak berlarut-larut.

Yang mendesak dilakukan adalah penyusunan action plan pinjaman luar negeri. Action plan ini meliputi rencana pinjaman baru dan pembayaran pinjaman lama selama 10 tahun ke depan. Action plan ini harus dalam kerangka pengurangan jumlah hutang. Sehingga dalam action plan tersebut dapat terekam sampai tahun ke berapa kita mulai mengurangi jumlah hutang dan meningkatkan pembayaran dari tahun ke tahunnya. Kita harus mampu memetakan kemampuan pembiayaan kita dan disejajarkan dengan besarnya pinjaman, untuk kemudian dapat terekam exit strategy dari pinjaman luar negeri.

Hutang...hutang.... akibat besar pasak daripada tiang nih...

-Catuy-

Catatan: Artikel dari jeffery sachs ini mungkin menarik (link)

Comments:
  • Gw sepakat sama usul2 loe mengenai cara mengatasi utang. Itu masih normatif tapi. Kalo mau dirinci, berapa besar sih pembiayaan dari utang? Ga besar2 amat. Apa salahnya mengetatkan anggaran. Peluang korup itu ada kalo duitnya ada. Jadi mindset pemerintah harus : STOP HUTANG.
    Ini karena hutang baru yang diagendakan mayoritas hanya digunakan buat bayar hutang lama.
    Pendekatang debt swap juga seharusnya bisa digunakan, menimbang banyaknya bencana di Indonesia sekarang ini plus tugas qta (sebagai negara tropis) untuk menjaga hutan2 tropis.
    Posted by Blogger agung @ 11:29 PM
     
  • sewaktu gw kuliah ekonomi dulu, hutang masuk pos penerimaan negara (eksternal), lho hutang kok dibilang penerimaan...weleh²

    poin 1 dan 4 saling terkoneksi, biang keladi paling utama menurut gue, korupsi!

    Gara² korupsi, teori apapun utk nggenjot income (per kapita, gnp, gdp) ga bakal jalan efektif, karena anggaran keluar dan masuk bocor terus.
    Posted by Blogger Hedi @ 2:59 AM
     
  • Iiih, iih, kok catuy pro-hutang sih?? iih, iiih... kok gitu siih?? :p  
  • Siapa gali lubang akan masuk lubang galiannya sendiri......
    Sebenarnya negara ini sedang menggali kuburnya sendiri.

    Numpang nyoret
    Posted by Anonymous anang @ 1:55 AM
     
  • iya, dari pada hutang mending minjam deh
    =p
    Posted by Anonymous benisuryadi @ 5:50 AM
     
  • Menurutku itu bukan solusi childish, toh utang itu juga bukan utang yang "baik" dipaksakan...orang2 yang menyebabkan utang itu ada juga pada nggak ada, padahal merekalah yang membuat utang itu dan mereka jugalah yang sebenarnya paling "untung" dengan adanya utang itu...
    Giliran membayarnya diserahkan ke negara, kalo negara nggak punya uang yaa gampang lah tinggal naikin pajak, kurangi subsidi...yang rugi siapa coba, yaa kita2 ini (baca aku) yang nggak ngerti apa2 trus harus bayar utang...
    Berkaca pada beberapa negara yang pernah "ngemplang" utang, sepertinya gak papa tuh, biar aja di cap apapun ama lembaga keuangan kapitalis itu (baca IMF, World Bank, dll) mereka kan bukan Tuhan.

    budak kapitalis - mandor kapitalis - supervisor kapitalis - manager kapitalis - direktur kapitalis - komisaris kapitalis - kapitalis sejati kemudian tingkatan tertingginya menjadi seorang anti kapitalis sejati

    bonjour

    imok sekeluarga
    Posted by Blogger prihatmaka @ 4:32 PM
     
Alam Dan Manusia
Wednesday, June 14, 2006

Do we deserve this planet???

Tulisan ini bermula dari “umpatan” temen gue di status YMnya… dia menulis kalimat kurang lebih sama seperti di atas. Gue gak mengklarifikasi statusnya dia. Gue berspekulasi aja bahwa ini pasti kekesalan dia terhadap kelakuan manusia terhadap lingkungan (berhubung dia kerja di salah satu NGO lingkungan).

Premis dasar dari tulisan ini adalah pandangan manusia bahwasanya sebagai “what so called” khalifah atau penguasa di muka bumi ini, maka manusia diberi hak untuk menggunakan alam sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Premis itu dianggap benar dan sakti sehingga kata “sebesar-besarnya” diintrepetasikan bahwa manusia boleh menggunakan apa yang disediakan oleh alam ini sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya.... keren kan???

Paradigma seperti ini (kalo kata dosen gue) dikenal sebagai paradigma antroposentris. Pandangan antroposentris yang mendudukkan alam sebagai sistem penunjang utama kehidupan manusia dan manusia sebagai faktor yang sangat tergantung pada alam. Jadi alam yang dieksploitasi oleh manusia dan alam dibutuhkan oleh manusia dalam konteks mencukupi kebutuhan manusia.

Hasilnya gimana?????? Mau tahu... ini ada beberapa data yang berhasil gue kumpulin

Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].

Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan [Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003].

Sekitar 65 persen penduduk Indonesia atau sekitar 125 juta jiwa menetap di Pulau Jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh luas daratan Indonesia. Sementara dari sudut potensi air hanyalah 4,5 persen dari total potensi air di Indonesia sehingga menimbulkan benturan kepentingan. (walhi, 2006)

Sebanyak 64 dari total 470 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Indonesia saat ini dalam kondisi yang kritis. Dari 64 DAS kritis tersebut, berada di Sumatera 12 DAS, Jawa 26 DAS, Kalimantan 10 DAS, Sulawesi 10 DAS, Bali, NTB dan NTT 4 DAS, Maluku serta Papua 2 DAS. (walhi, 2006)

Pemantauan terhadap 48 sumur dilakukan di Jakarta pada tahun 2004. Hasil pemantauan menunjukkan hampir sebagian besar sumur yang dipantau telah mengandung bakteri coliform dan fecal coli. Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Coliform di seluruh Jakarta cukup tinggi, yaitu mencapai 63% pada bulan Juni dan 67% pada bulan Oktober. Kualitas besi (Fe) dari air tanah di wilayah Jakarta terlihat semakin meningkat, dimana beberapa sumur memiliki konsentrasi Fe melebihi baku mutu. Presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu Mn di seluruh DKI Jakarta secara umum sebesar 27% pada bulan Juni dan meningkat pada bulan Oktober sebesar 33%. Untuk parameter detergen (MBAS), presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 29% pada bulan Juni dan meningkat menjadi 46% pada bulan Oktober.

400 dari sekitar 4,000 industri di Jakarta yang mengelola limbahnya. Tidak ada sistem sanitasi di Jakarta sehingga air limbah seluruhnya dibuang ke sungai. Hanya sekitar 2 % air limbah di Jakarta mengalir ke instalasi pengolah air limbah, yang umumnya hanya melayani gedung perkantoran dan sejumlah perumahan. Sekitar 39% warga Jakarta memiliki septic tank, dan 20 % menggunakan lubang WC biasa (pit latrines).

Hanya sekitar 40 % warga di perkotaan dan kurang dari 30 % warga pedesaaan. yang tersambung dengan jaringan air minum (PAM). Air minum langsung (potabel water) tidak dibangun di Indonesia sehingga air dari keran harus dimasak terlebih dahulu. Bagi warga perkotaan yang tidak terlayani oleh jaringan pipa air minum, sumber air minum berasal dari air tanah, air kemasan, atau dari penjual air keliling.

Pada saat ini, bahan bakar fosil (fossil fuel) masih menjadi tumpuan utama sumber energi, yaitu minyak bumi, batubara dan gas alam. Dalam pemanfaatannya selama ini di Indonesia telah terjadi eksploitasi yang sangat masif yang telah mengakibatkan Indonesia dalam waktu dekat akan mengalami krisis energi akibat habisnya cadangan sumber-sumber energi tak terbarukan ini. Diperkirakan dalam 15 tahun Indonesia akan menjadi net-importer minyak bumi jika pada saat tersebut tidak ditemukan cadangan minyak baru.

sumber energi fosil mengakibatkan pencemaran udara yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit energi tersebut, seperti gas sulfur dioksida (SO2) dan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2). Banyak penelitian menyebutkan bahwa GRK telah memicu terjadinya pemanasan global akibat adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca terjadi akibat GRK yang terkumpul di atmosfer membentuk selubung yang menghalangi radiasi panas matahari yang dipantulkan bumi tidak dapat lepas ke atmosfer.

Pertanyaan ini tidak bermaksud untuk mengguat keberadaan manusia lho.. apalagi menggugat keputusan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Yang gue gugat adalah bagaimana manusia memperlakukan alam ini...

Ada sebuah konsep menarik yang pernah disampaikan mengenai hubungan alam dan manusia. Dalam konsep Bumi sebagai sebuah organisme, maka tidak dikenal istilah perusakan terhadap alam. Karena setiap perusakan yang terjadi hanya sebuah istilah yang dibuat manusia, sedangkan alam tidak pernah rusak.”dia” hanya menyesuaikan diri dari tindakan yang dilakukan terhadap manusia. setiap penurunan kualitas terhadap lingkungan hanya dirasakan oleh manusia, yang notabene menjadi katalisator dari perusakan. Sedangkan alam merespon perlakukan manusia dengan penyesuaian (termasuk banjir, longsor, gempa, dll). Alam sendiri tidak pernah merasa dirinya menjadi rusak. Bingung????? Gue juga bingung sebenarnya....

Saat ini mari kita merenungkan posisi kita di bumi ini dan bagaimana kita memperlakukan alam sebagai sebuah organisme.. Karena alam tidak dirugikan dengan kondisi yang ada saat ini. Satu-satunya yang mengalami kerugian dari kondisi ini adalah manusia yang merasakan penurunan kualitas lingkungan yang ada.... terutama anak cucu kita yang tidak mendapat air dengan kualitas yang sama dengan kita saat ini. Begitupula dengan tanah, udara dan lain sebagainya.

-Catur-

dimuat juga di biocentris


Comments:
  • Tadinya gue berharap tulisan lo ini lebih banyak ngungkapin telaah lo daripada datanya. Tapi ini juga udah bikin nyesek kan yah? Jadi konsep khalifah di bumi sebenernya........ (titik-titik karena gue juga masih bingung..)
    Btw, gue gak kerja di NGO lingkungan, tapi di pusat penelitian kehutanan :p
    Posted by Blogger Novasyurahati @ 12:07 AM
     
  • memprihatinkan sekali memang kondisi alam di Indonesia. unsur manusia "memakai" alam sendiri kan sebetulnya alamiah. kemasifan make-nya-lah yang nggak diatur, dan nggak diseimbangkan dengan penemuan sumber daya alam baru.

    parahnya lagi, peraturan yang udah dibuat suka ditelen lagi oleh si pembuat peraturan (minimal sama orang2/kroni2nya): seorang temen di bea cukai yang kerjanya patroli di daerah tanjungbalaikarimun sering menyaksikan kayu2 yang dijual ke luar, tapi nggak bisa berbuat apa2 untuk menahan lajunya penjualan. dirimu pasti lebih tahulah kenapa ini sering sekali terjadi.

    yahh, yang bisa dilakukan oleh orang2 kayak kita ya akhirnya cuma melaporkan. temenmu di NGO itu jangan nyerah dan jangan brenti ngedumel ya cat. kalo bisa ngedumel-nya nggak brenti sampai YM aja. hehehe. tapi sampe ke taraf menghentikan praktek dijalankannya peraturan setengah hati. jadi lain kali yang kita tahu ya bener2 peraturan. nggak pake embel2 setengah hati.

    :D
    Posted by Blogger ~fitri~ @ 7:08 AM
     
  • mas ada komen gak ttg privatisasi air? Di bolivia katanya kalo petani mo nadah air hujan harus dapat lisensi ....

    di sini alasan lingkungan (kata yg buat peraturan) bersinggungan dengan masalah kemanusiaan ...
    Posted by Anonymous johan @ 1:56 AM
     
  • waduhh... gue terharu sama komentarnya fitri (btw, salam kenal..)
    saya akan berusaha semampu saya!! kebetulan saya kerja di bagian forest and governance, banyak menyikapi tentang kebijakan pengelolaan hutan dan SDH.tapi skali lagi, bukan NGO, tapi Pusat Penelitian Kehutanan.. :D
    Posted by Blogger Novasyurahati @ 12:13 AM
     
MEmahami dunia lewat sepakbola-telaah buku
Sunday, June 11, 2006

Recommended Book:

Memahami Globalisasi Lewat Bahasa Sepakbola

“….Memakai sepakbola sebagai metafora untuk menjawab beberapa pertanyaan tak selesai perihal kegagalan globalisasi…” (Franklin Foer)

Banyak blog yang sering menulis soal buku yang dia udah baca untuk di share sama pembaca blog lainnya. Kalo gue dulu memilih menshare film yang gue udah tonton sampe jilid 6 kalo gak salah. Cuma berhenti juga akhirnya, karena gue jarang nonton VCD, gak ada film yang cukup penting untuk dibagi, atau gue nonton film pas gue lagi gak mood menulis…

Tapi buku yang baru gue baca ini sangat teramat menggoda sekali untuk gue share diblog ini (contoh penggunaan kata yang berlebihan). Sebuah buku yang mengupas globalisasi melalaui sebuah cara yang tak lazim… buku yang menawarkan dan mengajak kita masuk ke dalam dunia sepakbola dan memperkenalkan globalisasi di berbagai belahan dunia. Yang jelas tulisan ini di buat bukan dalam rangka menyambut piala dunia,, kebetulan aja gue nemu bukunya minggu kemaren…

Judul buku ini “How Soccer explains the world: The unlikely theory about Globalization”. Kalo di Indonesia beredar dengan judul “Memahami dunia lewat Sepakbola : Kajian tak lazim tentang sosial politik globalisasi”. Terjemahannya agak kurang pas sebenarnya untuk merepresentasi ide dari si penulis. Makanya gue tampilin judul bahasa inggrisnya. Biar semangat yang ingin diperkenalkan penulis sampe kepada lo semua. Buku ini ditulis oleh seorang wartawan The New Republic (salah satu Koran politik terkemuka di AS) yang bernama Franklin Foer.

Buku ini ditulis berdasarkan hasil riset dan survey lapangan hamper satu tahun ke berbagai belahan dunia. Penulisnya berkelana dari kota Beograd, Rio de Jainero, Barcelona, Milan, London, Glasgow. Dari negara adidaya sepakbola seperti Brazil, Italia sampe ke Negeri Mullah Iran dan Ukrania. Mewawancarai Pele, Pemimpin Holigan Chelsea, hristo stoickhov sampe mantan perjahat perang di Serbia (kayanya seru…).

Daalm buku ini coba dikupas fenomena-fenomena yang terjadi di dunia sepakbola dan dikaitklan dengan persoalan globalisasi, tribalisme dan kapitalistik yang terjadi di dunia. Dalam membahas satu topic, penulis berangkat dari investigasinya pada satu persoalan di satu wilayah dan diangkat menjadi sebuah kesimpulan general yang menarik dengan gaya penuturan yang dialogis, komunikatif dan investigatif. Pernah baca Koran atau Majalah Tempo??? Nah gaya bahasanya seperti kedua media cetak tersebut. Tajam, analitik tapi tetap bersahabat (tidak menggunakn bahasa dewa yang sulit dipahami). Sehingga akhirnya seorang yang tidak mengerti sepakbolapun dapat memahami isi buku ini. Ditambah dengan beberapa fakta, data, ataupun mitos serta gossip mengenai beberapa klub dan tokoh terkemuka di dunia sepakbola.

Buku ini secara garis besar membagi dirinya menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama bertutur mengenai gagalnya globalisasi dalam mengikis budaya tribalisme dan primordialisme yang mewarnai persaingan dahsyat dalam sepakbola. Bagian ini bercerita mengenai kisah holiganisme di berbagai penjuru dunia. Sedangkan bagian kedua mengupas persoalan ekonomi dengan mempergunakan sepakbola sebagai pisau analisisnya; korupsi di dunia ketiga, arus migran di Negara eropa, dan bangkitnya oligarki baru seperti silvio Berlusconi. Bagian terakhir berkisah bagaimana sepakbola dipergunakan untuk membela nasionalisme gaya lama; Nasionalisme catalan ala Barcelona, nasionalisme islam gaya para mullah di Iran dan lain sebagainya.

Fenomena yang diangkat oleh sang penulis dalam mengkaitkan antara holiganisme dan semangat tribalistik mungkin pada awalnya akan disikapi secara skeptis, tetapi kalo mau jujur ternyata kesimpulan yang ditarik cukup logis untuk diterima. Penulis mengupas persaingan antara pendukung Glasgow Rangers dan Glasgow Celtics, berasal dari perseteruan antara Katolik vs Protestan di Skotlandia. Yang menarik dari kasus Glasgow adalah dicurigai pemilik klub memanfaatkan rivalitas (yang dikenal sebagai old firm) untuk mengeruk keuntungan. Tidak lupa penulis juga mengupas bagaimana Totenham di intimidasi oleh klub-klub London, terutama Chelsea, karena pendukungnya banyak yang berasal dari kaum yahudi. Dan yel-yel penghinaan terhadap orang Yahudi ketika Totenham Hotspur bertanding (dan anehnya orang non-yahudi pendukung Totenham juga mengidentikkan dirinya sebagai Yahudi). Pada bagian inilah penulis memepertanyakan Globalisasi sebagai sebuah arus yang dapat menghancurkan lokalitas dan perilaku tribalistik. KArena di era modern sekarang saja masih ada kelakuan-kelakuan seperti itu, dan itu dating dari kekecewaan terhadap keadaan.

Penulis juga berbicara mengenai nasionalisme yang ternyata tidak dapat begitu saja di gerus oleh arus globalisasi. Melalui apa??? Melalui Klub Barcelona…. Barcelona klub asli katalan yang memegang rasa nasionalisme tanpa menyentuh primordial dan perilaku holiganisme yang berlebihan. Nasionalisme di Barcelona disebut sebagai nasionalisme borjuis (nasionalis yang dilakukan dengan style). Penulis menuturkan bagaiman klub Barcelona dari dulu hingga sekarang digunakan sebagai ekspresi politik orang-orang katalonia terhadap Spanyol, termasuk permusuhan dengan musuh Abadi Real Madri (yang merepresentasikan hegemoni pemerintah spanyol). Seorang novelis pernah mengungkapkan “ Barcelona adalah senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa Negara… Kemenangan-kemenangan El Barca ibarat kemenangan warga Athena atas Sparta”..

Sayang sekali, penulis menutup buku ini dengan agak kurang cantik. Bab terakhir, penulis mengupas bagaimana Amerika Serikat menghadapi Globalisasi. Dimana olahraga Bisbol dan American Footbal belum bisa menjadi olahraga Global seperti Basket dengan NBAnya. Bagaimana di amerika jumlah pemain bisbol menurun dan jumlah pemain sepakbola bertambah 1.5 kali lipat. Bab tersebut ditutup dengan sebuah pembenaran bahwa Amerika jangan dituding sebagai “kambing hitam” dari globalisasi. Amerika tidak kebal dari globalisasi. Ya iya sih…Cuma itu kan dari sisi olahraga saja….

Memang buku ini banyak mempertanyakan globalisasi. Tapi pada akhirnya si penulis menyadari bahwasanya globalisasi bukan sesuatu yang bisa ditahan. Globalisasi sulit untuk dihindari. Pada akhirnya bagaimana setiap negara berusaha untuk bertahan. Sama seperti Barcelona bertahan dengan kaos tanpa sponsornya.

Walau begitu, buku ini tetap buku yang menarik buat gue.. buku non-novel pertama selama beberapa bulan terakhir yang bikin gue pelototin sampe gak bisa lepas dan gue selesaikan dalam kurun waktu beberapa jam...

Buat yang ingin lebih tahu soal globalisasi..... dan bagaimana mengapresiasi melalui sepakbola... mungkin buku ini worth to try lah untuk di baca. gak salah ulasan espn.com yang menyatakan " buku olahraga tercerdas musim ini"

Tulisan ini bukan promosi lho..............

-Catur-

NB : Cover di scan dari bukunya langsung. Jelas tanpa minta ijin penerbit. Cuma kayanya mereka ga keberatan deh... kan menguntungkan mereka.

Mungkin buku ini dapat dijadikan rekomendasi oleh Ipin untuk masukin ke toko bukunya dia. Gue kan nemu buku Negeri fast food yang berbau anti globalisasi kan di tok buku lho juga

Comments:
  • Nah, sekarang lu paham kan kenapa gw jadi fansnya barca dan pembenci real madrid???  
  • nasionalisme barca bukannya sebatas pada suporternya doank mas? khan dari pelatih hingga sponsornya (betanwin - bandar judi tuh )dari luar spanyol ....
    Posted by Anonymous johan @ 2:44 AM
     
  • Mas, ane kan dari dulu mo pinjem buku ama ente.
    Soe Hok Gie dah balik ke rumah ente lagi belum? trus buku yg ini boleh juga tuch. boleh gak ane pinjem?
    trus kira2 ente punya buku apaan lagi yg bisa ane pinjem. set dah request-nya buanyak buanget.
    Btw, maap ya belum sempet hubungin ente lagi. kapan nich kita jalan2 lagi? kayaknya ente sibuk mulu dech.
    Posted by Blogger dD @ 5:51 PM
     
  • tentang bola yak?

    mm, satuX2nya yang gw herani (maksudnya bikin gw heran =p) dari sepakbola adalah kenapa istri atau pacara para pemain sepak bola itu cakep cakep..padahal tampangnya banyak yang jelek..

    =(
    Posted by Anonymous benisuryadi @ 2:03 AM
     
  • ya..sekalian numpang iklan 'tuy =D
    Buat blogger sadayana.klo ada yang lagi maen ke Bandung..mampir2 ke kios buku Papirus di bursa buku Gelap Nyawang. kiosnya di bagian belakang.
    Genre buku nya mayoritas sastra popular dari yang berat2 serupa buku2 Jostein Gaardner ato serupa "transpolitika" nya amir piliang..ampe yang enteng2 kaya "5 Cm "=D
    soal harga..so pati lebih murah daripada Gramedia dkk.
    datang berkunjung gak ada salahnya, skalian silaturahmi para blogger.
    Diantos pisan nya =D

    btw, jumat ni daku mo jumatan di sunda kelapa..ketemu disana ya brur!!
    Posted by Blogger arifin @ 3:46 AM
     
  • Buku yang "lucu".. Sempet2nya FRANK FOER bikin studi kaya gitu.
    Tapi, intinya yg gw tangkep :
    "menyerahlah pada globalisasi, dan semuanya akan menjadi sangat baik.."
    Propaganda globalisasi lagi tuh..

    Nuhun pinjemannya!!
    Posted by Blogger agung @ 11:31 PM
     
Thursday, June 08, 2006

Semarang….Oh Semarang


Menyeruput teh poci di malam hari di rumah makan istana wedanga di Jalan Pemuda di pusat kota semarang adalah salah satu kenikmatan dunia yang diberikan oleh Allah kepada gue. Di tengah kepenatan berkerja, ada tugas mendadak berkunjung ke kota Semarang

SEMARANG!!!!!.... iya Semarang… satu-satunya kota besar di Pulau Jawa yang belum pernah gue jelajahi. Kesempatan untuk menginjak-nginjak tanah Semarang, paling waktu gue dalam perjalanan dari Bali menuju Bandung atau waktu dari Blora (ayo ada yang tahu itu dimana????) ke bandung.

Kesempatan demi kesempatan gue untuk mengunjungi kota ini selalu gagal….(hiks… hiks…. Teringat kebodohan salah lihat tanggal 4 jadi tanggal 14).. so, finaly after a long time. Gue diberi jalan oleh Allah unuk mengunjungi Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini. (walau itu berarti temen gue harus sakit dulu, mudah-mudahan cepet sembuh rul…)..

So, Semarang here I come……………yang pertama gue lakuin jelas, seperti kebiasaan gue kalo gue ke lapangan. Buka kitab dunia maya Google.com dan cari makanan-makanan enak di Semarang.. akhirnya ketemu disalah satu Blog yang ngejembrengin (tau gak artinya??) makanan-makanan enak di Semarang.. wih banyak euy…………terima kasih mas atas infonya.

Gue gak tau bakal nginep dimana. Pokoknya gue dah dibookingin lah… sampai di Ahmad Yani jam 7 malem, gue baru tau gue nginep di Hotel Merbabu di Jalan Pemuda. Pas bersiap makan malam, ternyata rombongan ibu-ibu (berhubung gue jalan sama ibu-ibu memilih untuk makan di hotel (ah kecewa gue..). tapi gak papa lah, mungkin ibu-ibu pada capek kali ya…. Lagian gara-gara cape gue juga lupa sama list makanan yang udah gue print.

Habis makan malam gue keluar menikmati sejuknya kota Semarang (padahal kata orang semarang panas….). jalan-jalan seputer pusat kota semarang... sampe tugu muda... gue beneran blank sama kota ini. Bahkan pas ada tukang becak nanya mau diante gak, gue sampe nolak (dasar bodoh... lo kan punya list kenapagak dibaca aja)... malem pertama GATOT (Gagal TOTal)!!!!!. Cuma sebel aja gak nemu2 yang lucu2 di semarang. Ya sudahlah....bukan rejeki kali ya... tapi sebelum masuk hotel mata gue sempet mengerling ke restoran di depan,namanya istana wedang.. kayanya lucu. Tapi ah sepi... gak jadi masuk ah (hal yang gue sesalin tentunya di esok hari...)

Kerja...kerja..... ituah yang kebayang sama gue untuk hari ke 2 gue di Semarang.. tapi gue harus bales dendam..... oleh sebab itu gue langsung buka deh itu list... eh ternyata, eh ternyata si rumah makan di depan hotel itu masuk salah satu reccomended place di list gue... AAAA!!!!!!!!!!!!!! Penyesalan di pagi hari nih namanya.......

Agenda pertama hari ini adalah rapat di Balai Kota Semarang.... beuhhhhhhhh keren banget men tempatnya.. very classic like the image of the city.. pokoknya vintage banget deh model gedungnya…. Jaman-jaman belanda gitu deh…Sepertinya (ini mah dugaan gue) kekumelan gedung di beberapa sisi gedung tampak disengaja… biar rada antik gitu deh… Cuma bersih kok gedungnya…Cuma item-item aja biar kesan kumel tetep ada.

Lunch time!!!!!!! Usul pertama langsung muncul di otak gue yang tentunya langsung gue sampaikan ke rombongan gue…. Akhirnya makan deh gue di Rumah makan Istana Wedang. Lontong cap gomeh+dawet+Teh poci... beuh siang-siang makan itu... enak banget men.....

Setelah rapat di siangnya hingga sore hari di Undip (ayo kepanjangan dari apa ??? Gak tau norak). Gue memisahkan diri dari rombongan, abis gak yang mau diajak keliling semarang. Next destination: TAHU PONG GAJAHMADA... dari peta gratis yang gue dapet di hotel letaknya ternyata tidak jauh... denga berkendaraan becak, sampe lah gue di lokasi... gue makan, n ya lumayanlah daripada gak ada... but i reccommended lah.... di sebelahnya ada bakmi nih...kayanya penu..wah mesti di coba nih...eits liat dulu dunk di list gue. Eh ternyata ada dunk di listgue. Pas udah mau berpindah tempat. Baru gue baca di keterangan di bawanya..babi dunk men... dia pake kulit babi... yah gak jadi makan deh...

Balik dari Jl. Gajahmada menuju hotel.. itu yang namanya tempat makan, banyak banget n bagus-bagus. U name it u got it lah... dari sate kambing, sate sapi, nasi goreng babat, segala rupa martabak bandung yang berjejer di jalan Gajahmada(lho kok ada di semarang, gue juga gak tau), Bakmi bangka, sate ponorogo, nasi uduk pasar baru, ayam goreng fatmawati, dll... pokoknya BUANYAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Sampe gue mikir, ini banyak makanan apa karena emang banyak turis atau emang orang semarang pada doyan makan ya??

Balik ke hotel...langsung berburu oleh2 di Jln.pandaran......sebuah jalan panjang dimana isinya dan diklaim sebagai kawasan oleh-oleh kota Semarang... Lucu juga konsepnya.. aglomerasi tempat oleh2, biasanya kan tempat makan (kia-kia di surabaya) atau empat belanja (FO di Jl. Riau, Bandung). Kayanya sih ini berawal dari toko2 yang pada jual bandeng di pinggir jalan ini deh... mulai dari satu toko, laku dan menjalar menjadi toko lain. Ya standar budaya atah orang Indonesia lah...Tapi tentu aja segera banyak produk selain bandenng yang dijual, seperti wingko, bakpia, belut goreng, dll. Seru lah.... ampe bingung mau milih bandeng fresto merek apa nih....

Makan malem gue memilih untuk makan malem di sate kambing pak ahmad di thamrin.... gue gak bakal bahas masalah rasa,..Cuma harganya men...mahal buangettttttttttttt... sate kambingnya lebih mahal dibanding jakarta, ya margin 7 ribuan lah sama sate kambing sunda kelapa (belum coba, rugi lho kalo belum...). untung gue gak jadi mesen tongseng.. bisa bangkrut mendadak nih..Oh ya, FYI : malem ini gue makan sendirian, karena anggota rombongan yang lain memilih untuk tidur.... (putus asa gue ngajak mereka jalan-jalan)

Dan sekarang ini di malam ini gue abis ngejogrok sendirian di rumah makan ini. Untuk berbagi cerita sama lo semua tentang apa yang gue alamin di kota Semarang, kota penuh makanan....

-Catur-

Lesson learned dari perjalanan ini

  1. Travel plan...penting tuh...especially baca tuh list yang dibuat. Jangan Cuma di taro di tas doank
  2. Semarang itu keren lho.... paduan perbukitan hingga ke pantai ditambah gedung-gedung tua... ya penampakan fisik lebih keren dari Bandung lah dikit....
  3. gue kayanya jatuh cinta sama kota ini... sama kaya gue jatuh cinta sama yogya n bandung.. kalo ibarat perempuan semarang ini tipe wanita feodal yang kolot menjaga tradisi tapi berpandangan modern. Kalo Bandung itu kan cewek-cewek genit, Jakarta itu tipe cwek metropolis, sedangkan Jogja cewek sederhana (baca psotingan gue sebelumnya). Semarang itu tipe wanita modern tapi aristokrat gitu deh....... (dasar orang gila, kota kok disimbolin sama kayak perempuan...) baca postingan gue yang ini
  4. makanannya banyak buanget....... kayanya kalo dkasih 2-3 hari lagi di sini, gue bakal bengkak deh.....so kalo mau wisata kuliner, jangan sia-siain deh kesempatan untuk mencba segala jenis makanan... rugi deh kalo gak keliling makan.Cuma disini makanannya emang lebih konservatif di banding Bandung. Kalo bandung kan lebih inovatif masakannya
  5. oh ya nyesel juga gak bawa kamera, banyak bangunan plus momen aneh yang gak kebawa….
  6. Do u know??? Kalo ada sebuah toko elektronik besar di jalan Agus Salim Bernama Elkana..... (beuh sama ama nama gue nih.....)
  7. next time in Semarang, i’ll be ready....
Comments:
  • Ass. Wr. Wb.

    mas, aku belum baca semuanya tapi berhubung ada hubungannya dg Blora di awal cerita jadi gw kasih tau aja kalau gw tahu dan pernah ke Blora hehehehe....(boleh dunk sombong). tapi lo dah pernah ke Cepu belum? daerah yg beberapa waktu terakhir jadi rebutan Pertamina - Exxon Mobil?
    Posted by Blogger dD @ 10:51 PM
     
  • Ya ampun tuy, masih mikir makan melulu aja?? Ck, ck,ck... Di semarang yang terkenal simpang lima kan ya
    Btw, tuy avatar YM loe kok gambarnya B2??
    Posted by Blogger agung @ 11:10 PM
     
  • sepakat gung... jelas2 semarang itu ga terkenal karena wisata kulinernya... teteuup aja nyari makanan...
    kayanya lu ke daerah mana juga yang dicari makanannya ya??? ckckckck... masih kurang diameternya tu perut??

    bete gw, bahan tulisan udh banyak, belom sempet posting2, dikerjain mulu ama ndoro putri nih...  
  • Wah, baru mau nanya, fotonya mana? ternyata kameranya ketinggalan toh?
    Posted by Anonymous merahitam @ 12:47 PM
     
  • makaannn makaaaan... sama deh kita.. food is no. 1!!! hahaha :P hidup makan! :P
    Posted by Blogger amellie @ 10:59 PM
     
  • Terimakasih sudah mampir ke situs daftar makanan Semarang saya. Sayang sekali saat itu Anda tidak berkesempatan mencoba Asem-asem Koh Liem, Lunpia Gang Lombok, nasi ayam, pisang plenet, dll. Rasanya cukup enak dan semoga cocok di lidah Anda..

    Semoga dalam kunjungan Anda berikutnya ke Semarang bisa lebih berhasil (acara makan2nya), hehehe :-)  
Copyright © 2007 Catur