Quo VADIS IAP???
Friday, September 28, 2007


Sebulan sebelum pelaksanaan kongres nasional IAP, ijinkanlah saya ikut sumbang pikiran sedikit.. ya bisa untuk konteks IAP sebagai organisasi atau dunia perencanaan tata ruang pada umumnya. saya sedikit menekankan pada perencana tata ruang, untuk mensempitkan diskusi.karena kali ini saya tidak ingin berbicara terlalu lebar (ya mencoba tidak terlalu PL lah). Tulisan ini mungkin dapat dilihat sebagai tulisan perencana junior, pemerhati atau apapun, saya kembalikan kepada saudara-saudara sekalian untuk menilai.
Berbicara mengenai tata ruang, baik di kalangan perencana tata ruang ataupun perencana lainnya, merupakan topik yang tak habis-habisnya di perbincangkan. Bahasa yang dipergunakan dalam UU NO 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 untuk menggambarkan dinamika penataan ruang Indonesia adalah " Tata ruang Indonesia saat ini dalam kondisi krisis". Sebuah statement politis yang cukup berani dan tajam yang ada dalam dokumen rencana dan tercatat dalam peraturan perundangan.
Hal ini tentunya tidak bisa dianggap main-main oleh orang-orang yang menyebut dirinya sebagai perencana tata ruang. Kenapa?? karena kondisi ini tentunya tidak terjadi dalam semalam. Akan tetapi (suka atau tidak suka) merupakan hasil perbuatan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia penataan ruang di Indonesia (sambil menunjuk diri sendiri tentunya).
Krisis ini mungkin ditangkap dari kondisi dan situasi terkini dimana seringkali rencana tata ruang tidak lagi menjadi pedoman "keruangan" bagi para actor pembangunan dalam melaksanakan kegiatannya. Situasi ini dianggap menjadi biang keladi dari degradasi lingkungan, pengrusakan kawasan lindung yang terjadi, menurunnya daya jual beberapa kawasan, bahkan dicurigai memiliki kontribusi besar dalam terjadinya fenomena climate changes.
Pelanggaran- pelanggaran (kalau boleh kita sebut sebagai pelanggaran tentunya) seringkali dituduhkan kepada Pemerintah Daerah sebagai biang keladinya. Keinginan untuk mengejar PAD, akibat euphoria Desentralisasi.
Kalau boleh ikut urun rembuk permasalahan yang berlarut dapat disebtukan terjadi akibat tingkat akuntabilitas rencana tata ruang yang masih rendah, baik dihadapan public dan (sayangnya) pemerintah sendiri.
Berbicara mengenai rendahnya akuntabilitas rencana tata ruang tentunya memaksa kita untuk kembali kepada tiga masalah yang belum terselesaikan dari penataan ruang 1) kualitas produk rencana tata ruang yang masih sering dipertanyakan ; 2) kompetensi perencana tata ruang yang belum terdefinisi dan terstandarisasi dengan baik; 3) belum adanya preseden yang cukup lengkap dimana rencana tata ruang menjadi acuan untuk mengembangkan kota/wilayah menjadi bernilai tambah (Value added). Ketiga hal ini yang menurut pemahaman saya menjadi bottle neck dalam penegakan proses penataan ruang secara utuh.
Sebagai sebuah dokumen ilmiah, banyak rencana tata ruang yang diragukan ke validannya. sebagai dokumen hukum, rencana tata ruang masih dapat terkalahkan oleh dokumen rencana yang lain (yang katanya sih aspasial).
Kondisi ini yang tampaknya coba diperbaiki oleh UU 26 tahun 2007 tentang penataan ruang. Dengan lebih menitikberatkan pada aspek penegakan hukum (rule of law), maka diharapkan segala kecarut marutan yang terjadi di dunia tata ruang akan berangsur menemukan jalannya.
Dalam melakukan perbaikan ini, sejatinya terdapat 3 aktor yang harus bersinergi dan simultan dalam melaksanakan perbaikan, yaitu; Pemerintah, Sekolah Perencana dan para Perencana partikelir (kalau bingung dengan istilah ini ya kita bisa sebut sebagai konsultan lah…)
Peran Pemerintah tentunya adalah memberikan koridor (teknis dan regulasi) dalam rencana tata ruang dan tentunya menjadi penegak hukum untuk pelaksanaan rencana tata ruang (yang disebut pemanfaatan dan pengendalian) . Sekolah perencana tentunya memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan para perencana dengan kualitas terjamin yang dibekali skill perencanaan yang valid dan akuntabel.
Khusus untuk para perencana partikelir, tentunya memiliki tanggung jawab untuk memberikan advise dan pendampingan kepada Pemerintah dan Masyarakat dalam proses penataan ruang. Dengan asumsi produk yang dihasilkan oleh para perencana partikelir merupakan produk yang dapat dipertanggungjawabk an secara teknis, akademis dan legal. Saya sendiri memiliki mimpi dimana para perencana tata ruang memiliki reputasi yang setara dengan para lawyer dan akuntan. Karena secara prinsip TUPOKSI yang diembannya rada-rada mirip lah….
Tapi kata salah seorang teman saya yang sudah membaca artikel dari Jerome E. Bickenbach dan Sue Hendler yang judulnya"The Moral Mandate Of The "Profession" Of Planning", perencana itu bukan sekedar "pekerjaan", akan tetapi merupakan profesi.
Sekarang apa hubungan ini semua dengan keberadaan Ikatan Ahli Perencana??
Positioning IAP
Memulai sub judul dengan tajuk "positioning IAP", sebenarnya langsung melahirkan sebuah pertanyaan di benak saya " dimanakah letak IAP di hati para perencana??" . Mungkin kalimat ini terlalu romantis, dan akhirnya harus saya ubah menjadi "Seberapa besar peran IAP dalam melakukan pembinaan para perencana". Saya sebenarnya lebih suka kalimat yang pertama, akan tetapi demi alasan "kejaiman bahasa", kalimat kedua terpaksa harus dikeluarkan.
Rasanya kurang tepat, apabila saya menilai ini, karena tentu saja kiprah dan tindak tanduk saya yang masih sesaat di dunia perencanaan membuat saya kurang valid dan akuntabel dalam memberikan opini.
Tapi ijinkan, saya memaparkan apa yang saya (dan rekan-rekan saya) alami, rasakan dan lihat dari keberadaan IAP sebagai sebuah lembaga profesi (akan saya sampaikan dengan gaya sehalusssssssssssss sssss mungkin) .
1. Lembaga IAP belum berperan optimal dalam menjadi "Guardian of value" dari kode etik yang dibuatnya. Kode etik yang berhasil dibuat oleh IAP, sayangnya belum menjadi landasan para perencana dalam beraktifitas. Peran IAP yang belum optimal dalam menjaga kode etik ini menjadi salah satu "dilecehkannya" kode etik ini oleh para perencana, terutama perencana belia.
2. Belum mengakarnya IAP sebagai sebuah lembaga profesi di antara para perencana dan aktor yang bergerak di pembangunan. Akibatnya profesi perencana ruang menjadi profesi yang tidak bonafid, secara substansi, di masyarakat. Implikasinya: mengurangi akuntabilitas produk rencana tata ruang dan menyebabkan hengkangnya perencana-perencana muda dari bidang ini.
3. Belum optimalnya pembinaan yang dilakukan IAP, sebagai lembaga profesi, kepada para perencana. Pembinaan berupa peningkatan skill yang dapat membentuk dan memperkuat kompetensi para perencana sangat diperlukan. Pembinaan yang baru berjalan baru sampai pada pengeluaran sertifikasi oleh Badan Sertifikasi Perencana (BSP). Hal ini memang langkah baik, tapi selama belum terdefinisi secara umum kompetensi perencana dan belum ada langkah IAP dalam melakukan pembinaan komptenesi, maka pengeluaran sertifikat tidak lebih dipandang sebagai syarat administratif untuk Keppres 80/2003. Padahal sejatinya salah satu fungsi IAP adalah " Meningkatkan kemampuan profesional dan kesejahteraan para perencana wilayah dan kota" (menurut Anggaran Dasar IAP)
4. kurang optimalnya peran IAP dalam menjalankan "societal role". Banyak kasus yang terjadi belakangan ini (banjir, Lumpur Lapindo (or sidoarjo?), longsor) mengatakan rencana tata ruang sebagai salah satu biang keladinya. Akan tetapi, komentar2 tersebut datang bukan dari IAP, sebagai satu-satunya lembaga profesi yang menyatakan " wadah tunggal berhimpunnya segenap ahli perencanaan wilayah dan kota di Indonesia."
IAP menurut saya memiliki peran yang strategis dalam melakukan perbaikan dengan menjembatani ketiga akor yang saya sebutkan diatas. Karena perbaikan tidak dapat dilakukan oleh satu aktor saja. Perbaikan harus SIMULTAN dan SINERGI, untuk itu IAP dapat memfasilitasi sinkronisasi diantara ketiganya.
Untuk melakukan itu, maka diperlukan sebuah revitalisasi kelembagaan IAP. Dan menurut saya momen kongres ini harusnya dijadikan sebagai sebuah MOMENTUM besar dalam melakukan perubahan. Harus saat ini dan harus tuntas..
Agenda perbaikan yang dilakukan memang berat, tapi apabila tidak ada yang melakukan maka kondisi ini akan menjadi status quo untuk waktu yang cukup lama tentunya.. beberapa agenda (dengan segala kekurangannya) yang dalam otak saya berterbangan adalah
1. Penguatan eksistensi organisasi IAP di antara organisasi profesi lainnya dan di masyarakat pada umumnya melalui Penegakan fungsi " Guardian of Value" dan "societal role".
2. Penguatan pembinaan terhadap perencana pada umumnya dan anggota pada khususnya. Yang saya maksud pembinaan termasuk didalamnya peningkatan kemampuan professional dan kesejahteraan sebagaimana yang tercantum dalam AD/ART.
3. Penguatan kompetensi perencana yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya jual dan daya tawar sertifikasi yang dikeluarkan BSP.
Langkah-langkah diatas bukan sama sekali untuk mengeksklusifkan profesi perencana tata ruang pada satu wilayah studi saja atau bahkan pasa alumni universitas tertentu saja. Akan tetapi lebih kepada sebuah prinsip "Semua orang berhak menjadi perencana tata ruang, tapi perencana tata ruang seperti apa yang hendak kita bentuk".
Momentum KONGRES NAsional IAP yang akan dilaksanakan pada akhir Oktober ini seharusnya disikapi secara serius oleh semua insan perencana. Karena ini merupakan momen perbaikan dan tentunya momen kita semua untuk menjadi bagian dari sebuah gerbong perubahan.
Tugas berat menanti ketua IAP periode selanjutnya. Mudah-mudahan kongres kali ini mampu melanjutkan dengan optimal kerja yang telah dilakukan para pendahulunya dengan inovasi guna menghadapi tantangan yang berbeda disbanding beberapa tahun sebelumnya.
Ini hanya sekedar coret-coretan yang mudah-mudahan dapat perhatikan bersama oleh para suhu dan senior saya di bidang penataan ruang. Apabila bermanfaat ya alhamdulillah. Apabila terasa menyinggung hati, mohon maafkan. Ini sekedar menangkap reaksi kimia para perencana muda yang ada di sekitar saya.. mudah2an saya tidak salah menyimpulkan tentunya.
Wassalam
-Catur-
elkana.catur@ gmail.com
Development Analyst (masih ragu menyebut diri sebagai planner)
Sori bagi yang gak ngerti dengan tulisan saya... ini sebenernya tulisan buat di salah satu milis... sayang aja kalo dibuang dan gak disimpen di blog saya
Terinspirasi banyak dari coret-coretan rekan saya Awan Diga Aristo
Comments:
  • semoga penataan ruang diperhatikan oleh pemerintah terkait..
    Posted by Anonymous andi bagus @ 7:50 PM
     
  • Mas Catur:

    Two thumbs up! Saya sangat mengapresiasi tulisannya. Terkesan kegamangan dari seorang perencana muda yg menginginkan pembaruan dalam dunia perencanaan (khususnya perencanaan ruang) di Indonesia. Saya sendiri tidak mengetahui bagaimana kiprah IAP dalam menampung aspirasi dari perencana muda. Hanya apa yg ditulis, saya rasa cukup mewakili perspektif perencana mudah Indonesia yang ingin berkontribusi dalam memajukan dunia perencanaan di Indonesia. Seperti direspon oleh Pak Abdul Alim, seyogyanyalah dalam Kongres IAP mendatang, kegamangan perencana muda diwadahi dan difasilitasi demi kebaikan masyarakat perencana di Indonesia. Mereka adalah juga anggota masyarakat perencana di Indonesia yang menjadi tumpuan masa depan perencanaan di Indonesia.

    Carut marut dunia perencanaan tidak hanya terjadi di Indonesia. Ini adalah fenomena global yg diakibatkan oleh jatidiri perencanaan yang masih belia. Dunia perencanaan berkembang melalui berbagai beragam krisis ketika prinsip-prinsip dan metode-metode perencanaan berubah secara fundamental. Tantangan seperti ini lebih kentara lagi dirasakan oleh negara-negara berkembang yg minim dengan sumber daya dan instabilitas politik dan ekonomi. Kecarutmarutan dunia perencanaan juga tidak terlepas dari karakter dasar perencanaan yang dibentuk secara eklektik. Ini kondisi yang kita hadapi sekarang dalam dunia perencanaan baik sebagai praktisi maupun akademisi.

    Sekarang perkenankanlah saya untuk menyampaikan apa yang saya lihat sebagai tantangan dunia perencanaan di Indonesia. Saya menggunakan suatu kasus perencanaan yg baru-baru ini terjadi yaitu kasus rencana pembangunan jalur busway di kawasan elit Pondok Indah Jakarta. Saya kutipkan beberapa kalimat yang saya tulis dalam menanggapi kasus tersebut:

    "In planning for the public domain in the 21st century we face greater challenges and pressures than we did in the 20th century. A plan can no longer be a product of the contemplation, projection or rationality of a planner alone, but must be the collaborative decision-making product of planners and other stakeholders including residents who are affected by it".

    "....the future of the community is no longer primarily based on the sense of order, comprehensibility, predictability and rationality that prevailed in the modernist era. As a consequence, contemporary planners need be to be more communicative in their practice. The postmodern characteristic mistrust of government and experts has been reflected in the resistance of Pondok Indah residents to the busway plan".

    Tulisan selengkapnya yang dimuat di the Jakarta Post beberapa minggu lalu dapat dilihat di http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com

    Kasus tersebut menunjukkan tantangan dunia perencanaan di Indonesia seiring dengan perubahan karakter masyarakat yang tidak lagi mudah diyakini oleh rasionalitas sebuah produk rencana. Perencanaan seyogyanya adalah proses kolaborasi antara perencana dengan stakeholders lainnya. Ini pun tentunya menjadi tantangan bagi profesi perencana di Indonesia.

    Tantangan lainnya tentu masih banyak dan akan terus bertambah rumit seiring dengan dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Harapan saya adalah agar dunia perencanaan di Indonesia dapat mengikuti dan merespon akselerasi dinamika masyarakat dengan mumpuni dan dapat menjadi disiplin dan profesi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia semuanya.

    Semoga...
    Posted by Blogger Deden Rukmana @ 6:12 PM
     
Sore ini di Menteng
Wednesday, September 19, 2007

Alkisah di satu sore di sebuah kantor yang baru aja direnovasi. Seorang perencana muda duduk di atas komputernya dan memandang ke arah jendela memperhatikan lalulintas di jalan Taman Suropati, memandang jamaah yang bergegas menuju sunda kelapa untuk buka bersama.. di iringi alunan gitar mas Tohpati dengan gubahannya yang berjudul “sendiri”. Andaikan ini bukan bulan puasa, segelas kopi akan melengkapi harinya.. uhhhhhhhhh what an afternoon.

OK ini adalah pembukaan yang buruk untuk mendeskripsikan kondisi yang sedang gue alami saat ini. Yupp menikmati sore yang indah di ruangan kantor yang lebih besar ternyata bisa amat menyenangkan (saking senangnya sampai lupa kerjaan yang setumpuk dan tidak terkerjakan)

Pertama-tama mohon dimaafkan kepada semua pihak yang pernah tersinggung dengan pernyataan ataupun perkataan dan juga tindakan, baik yang sengaja ataupun tidak sengaja,. Karena ini mau ramadhan, seperti posting sebelumnya, maka ijinkan saya meminta maaf dan mendoakan kita semua untuk mendapat gifted ramadhan

Kedua mohon maaf karena blog ini dianggurin untuk waktu yang amatttttttttttttt lama. Ya ini fenomena standar para blogger lah. Mengalami stagnansi dalam menulis.. gue sendiri sudah mengalaminya dua kali selama menjadi blogger aktif di dunia per blogan ini.

Begitu banyak hal yang terjadi di Republik ini selama beberapa bulan terakhir yang kadang membuat tangan ini begrerak untuk menulis. Tapi apa mau dikata.. namanya juga lagi stagnan... jangankan menulis untuk blog, nulis memo aja takes time..

Manusia pada dasarnya memang memiliki kapasitas yang terbatas, sehingga tangan yang dua, otak yang satu, kaki yang dua. Jadi gak bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang seuprit....

Sama kaya hidup di Jakarta. Hidup Cuma untuk duduk di kantor dan mengerjakan semua rutinitas. Dengan waktu tempuh yang cukup jauh dan bikin emosi. Kadang gue merasa hidup di jakarta menjadi amat singkat. Hal yang berbeda tentunya manakala gue sedang keluar kota untuk bertugas, dimana hidup di kota yang minim macet dan jarak tempuh ke mana-mana terasa dekat. Ketika berkumpul dengan keluarga menjadi teramat mudah. Huuu nanti jadinya kufur ni’mat lagi.

Sebenernya dipikir-pikir hidup di jakarta itu dapat menyenangkan apabila terdapat saran transportasi yang mampu mengangkut banyak orang dan dengan sistem yang canggih. Seperti di singapura atau di Chicago. Ya memang jauh sekali untuk Indonesia sampai pada tahap itu. Tapi bukan hal yang mustahil 3 tahun ke depan, kita melihat subway, monorail, dan busway bersinergi bersama untuk menciptakan jarak tempuh Jakarta-Tangerang dalam waktu 45 menit saja.

Setiap harinya lalulintas jakarta-tangerang dipenuhi 1-1,2 juta kendaraan yang mengangkut para pencari nafkah di Jakarta. Mencari penghidupan di jakarta. Kalo kata gue sama istri gue bilang mencari selembar sertifikat tanah...

Akhirnya adzan berbunyi... dan gue sekali lagi menghadapi konsekuensi commuter yang kerja di jakarta yaitu buka puasa di kantor..alhamdulillah masih bisa berbuka di bulan ramadhan tahun ini.. duh udah sehari lewat

Selamat berbuka semua

I'm Back!!!

-Catur-

NB : foto tidak ada hubunganya dengan posting ini.. cuma mau ngasih tau aja gue abis dari MEDAN

Comments:
  • jakarta macetnya udah gila2an banget ya cat. *duh ngomongin macet nggak akan ada habis2nya* bisa kebayang betapa nikmatnya kalau sampai transportasi di sana udah seperti singapura. eh, tapi sekarang katanya lagi ada banyak pembangunan jalur busway? ini bikin macet juga katanya...
    Posted by Blogger -Fitri Mohan- @ 11:15 PM
     
  • Pantesan gua bingung. Judulnya di Menteng kok fotonya Masjid Raya.
    Posted by Blogger ikram @ 2:31 AM
     
  • Hueee... Welkam abroad aja mas..
    Posted by Anonymous Raffaell @ 4:59 PM
     
  • rajin rajin update tuy..
    masa udah back ilang lagi ampe 3 bulan..
    hehehe

    i'm back too
    setelah hilang berbulan2 juga dari commenting ur blog..
    Posted by Anonymous mulia @ 6:28 AM
     
RAMADHAN GREETING
Wednesday, September 12, 2007

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Catur dan Keluarga ingin Mengucapkan Permohonan Maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan baik yang sengaja atupun tidak sengaja dilakukan.

Kami juga ingin mengucapkan Selamat Berpuasa. Semoga amal Ibadah Kita di bulan Ramadhan, diterima oleh Allah SWT. Semoga Ramadhan ini menjadi momentum kita semua untuk menjadi hambaNya yang diridhai.

-Elkana Catur Hardiansah dan Lia Amelia-

Comments:
Copyright © 2007 Catur