Selamat Hari Raya Idhul Fitri
Wednesday, October 10, 2007

Di penghujung bulan Ramadhan ini ….

Ijinkan saya dan keluarga mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428H

Minal aidin wal faidzin, taqaballahu minna wa minkum taqabbal yaa karim

Comments:
  • Selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin.
    Posted by Anonymous Hedi @ 10:07 AM
     
  • mampir sambil mo ngucapin salam lebaran dan mohon maaf lahir batin...

    ia-itb memang apa saja nih kegiatannya :), salam.
    Posted by Anonymous aroengbinang @ 8:23 AM
     
  • sama sama catuy..salam buat keluarga ya
    Posted by Anonymous mulia @ 2:23 PM
     
BETTI FOR IA ITB
Wednesday, October 03, 2007








Setelah woro-meneliti berbbagai calon ketua IA ITB.. akhirnya gue memutuskan untuk mendukung Ibu
Betti Alisjahbana sebaga calon ketua IA ITB 2007-2012

Mau tau lebih banyak soal beliau ?? nih dia profilnya

Betti Alisjahbana telah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia Teknologi Informasi dan memegang jabatan Presiden Direktur PT IBM Indonesia sejak January 1, 2000. Ia adalah wanita pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu Negara.

Betti memulai karinya di IBM pada tahun 1984 sebagai trainee. Ia telah menjabat berbagai posisi baik di Indonesia maupun di kawasan Regional ASEAN dan ASIA Selatan. Posisi yang pernah dijabatnya diantaranya :

· Marketing Manager IBM Indonesia ( 1990-1994),

· General Manager, General Business and Channels ( 1994-1996),

· General Manager, General Business, IBM ASEAN dan Asia Selatan ( 1996-1998),

· General Manager, e-business and Cross Industry Solutions IBM ASEAN dan ASIA Selatan ( 1998-1999) .

· Director Sales and Marketing, IBM Indonesia ( 1999)

Jabatan lain yang saat ini dipegangnya adalah :

  • Komisaris Utama PT IBM Jasa Teknologi Informasi.
  • Anggota ”Board of Trustees” USINDO ( United States-Indonesia Society).
  • Anggota Majelis Wali Amanah ITB.
  • Ketua Yayasan ITB Tujuh Sembilan

Betti adalah Sarjana Arsitektur ITB.

VISI IA ITB

Bersama-sama menjadikan IA ITB sebagai wadah perhimpunan kekuatan Alumni dalam wewujudkan kepemimpinan dalam Inovasi, Teknologi dan Bisnis, melalui sinergi yang kuat antar alumni dan ITB.
PENDEKATAn

a. Membangun organisasi IA ITB yang inklusif :

- terbuka bagi semua alumni yang ingin berpartisipasi di dalam kepengurusan

- Semua Angkatan, Jurusan, Daerah, Profesi terwakili

- Merangkul informal leader dari setiap kelompok yang diharapkan bisa memperluas jangkauan

b. Gaya kepemimpinan yang colegial dan informal

c. Komunikasi yang teratur dan tepat sasaran memanfaatkan berbagai media komunikasi

- E-mail, blog, portal, sms

- Newsletter

- Communication tree

- Pertemuan rutin di berbagai bidang (Special interest, hobby, kegiatan sosial)

- ITB Open House (Home Coming) setahun sekali

d. Laporan teratur dan terbuka tentang kemajuan kegiatan IA ITB yang sudah dicapai berikut status keuangannya disertai undangan pada para alumni untuk berpartisipasi di setiap kesempatan.

PROGRAM

a. Dari, Untuk dan Oleh Alumni

Program 1 : Mengembangkan database lengkap, terkini dan mudah diakses oleh anggota

Program 2 : Coaching oleh Alumni Senior pada Juniornya

- Coaching Karir dan Pengembangan diri oleh Alumni Profesional

- Coaching Kewirausahaan oleh Alumni Pengusaha

Program 3 : Special Interest Group

Tujuan :
Meningkatkan rasa memiliki IA ITB dan kolaborasi antar Alumni dengan memfasilitasi kegiatan dari, untuk dan oleh Alumni di bidang-bidang sesuai minat alumni seperti Energi, Lingkungan, Pengembangan SDM, Disaster Responses and Preparedness.

Program 4 : Mendukung Wirausaha Pemula

- Membentuk Tim Konsultasi Teknologi, Komersial, IP dan lisensi

- Membentuk Tim Konsultasi Bisnis Plan dan Mencari Investor

- Business Matching : Mempertemukan Alumni Muda yang merintis bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki atau banyak dihuni oleh Alumni ITB

- Menyediakan sarana Promosi Bisnis Alumni ITB

Program 5 : Dana Sosial Alumni

b. Dari Alumni untuk ITB

Program 1 : Masukan Kurikulum

Memberi masukan pada kurikulum ITB berdasarkan observasi atas kualitas lulusan, tren di dunia usaha serta kebutuhan Industri. Program 2 : Mendukung SKD ITB dalam menggalang Endowment Fund

Mendukung SKD ITB dalam menggalang endowment fund untuk mendukung kegiatan operational, penelitian dan Inovasi di ITB BHMN.

Program 3 : Mendorong tumbuhnya kewirausahaan berbasis teknologi di ITB

- Menjalin kolaborasi win-win antara Alumni, Satuan Usaha Komersial ITB dan Pusat Inkubator Bisnis dan Industri ITB

- Konsultasi Pembuatan Bisnis Plan dan Mencarikan Investor

c. Dari Alumni untuk Indonesia

Program 1 : Menjadi Jembatan kolaborasi ABG yang erat & konstruktif untuk mendorong Inovasi

- Mendorong terjadinya kolaborasi ABG (Acacemics, Businesses, Government) dalam riset dan inovasi di ITB

- Memfasilitasi terjadinya riset berorientasi kebutuhan industri yang sejak awal sudah memikirkan dan berkolaborasi dengan pihak-pihak yang akan menjadi pengembang, investor dan pemasarnya.

Program 2: Think Tank dalam memecahkan berbagai masalah negara
Membentuk Think Tank untuk memikirkan, mendiskusikan dan mengajukan rekomendasi pemecahan berbagai masalah yang dihadapi Indonesia, terutama yang berkaitan dengan disiplin ilmu di ITB.


Kondisi yang perlu dibangun

Alumni Bersatu :

IA ITB harus bisa menggalang dan mempersatukan kekuatan

Alumni Cinta :

IA ITB harus bisa menumbuhkan kecintaan pada almamater dan Bangsa Indonesia

Alumni Bangga :

IA ITB harus bisa menumbuhkan kebanggaan pada almamater dan Ikatan Alumninya.






Comments:
  • wah elu dah ke betty? Kayaknya anak-anak eks- SC barat pada ke betty neh.

    Tanya ke dia selama di MWA ngapain aja? :p
    Posted by Anonymous sawung @ 6:17 AM
     
Membangun Metropolitan Jakarta Yang Bernilai Tambah
Tuesday, October 02, 2007

Kota Jakarta berkembang dari sebuah kota Pelabuhan di abad 16 menjadi salah satu kota modern dunia di abad 21. Perkembangan yang terjadi selama abad 20 menyebabkan Kota ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan Indonesia dan Dunia. Terdapat dua alasan yang menyebabkan kota ini menjadi Jakarta yang sekarang, pertama faktor historis dan geografis, yang kedua adalah faktor politik yang dibangun oleh rezim orde baru.

Sudah semenjak lama Jakarta menjadi salah satu kota bandar yang tradisional dikenal. Ketika pertama kali cornelis de Houtman menjejakkan kaki di pelabuhan Sunda Kelapa, maka saat itu adalah momen pertama Jakarta menjadi bagian dari sistem kota-kota dunia. Hal ini masih belanjut hingga saat ini. Hampir 80% kegiatan ekonomi global yang ada di Indonesia,berada di Jakarta. Hampir seluruh kantor pusat kegiatan perbankan berlokasi di Jakarta. Dan nyaris 60% perputaran uang di negara ini terjadi di Jakarta. Letaknya yang strategis, untuk konteks lalulintas barang-jasa dunia, dan posisi historisnya sebagai bandar internasional mengakibatkan hal ini terjadi.

Situasi ini diperkuat, ketika saat proklamasi, Jakarta ditasbihkan sebagai Ibukota Negara. Memang ada pemikiran untuk memindahkan ibukota ke Palangkaraya, tapi tampaknya ”the founding fathers” masih agak malu-malu untuk merealisasikan mimpinya. Di era orde baru, Kota ini tidak hanya menyandang pusat ekonomi dan Pemerintahan saja, akan tetapi ditambah lagi dengan predikat pusat politik dan kekuasaan negara ini.Pola pembangunan yang ’jawa sentris’ menjadikan Jakarta sebagai gerbong darinya.

Perkembangan yang sangat pesat merambar ke wilayah sekitarnya dan mengakibatkan terjadinya fenomena ”konurbasi ” antara Jakarta dengan Tangerang, Bekasi dan Bogor. Menyatunya Jakarta dengan kota-kota di sekitarnya melahirkan keuntungan ekonomi yang sangat besar dalam konteks pengembangan wilayah (regional development), akan tetapi di sisi lain hal ini diikuti oleh persoalan—persoalan seperti, kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, kawasan kumuh, kemacetan, degradasi lingkungan dan lain sebagainya.

Persoalan-persoalan ini, dalam jangka panjang dapat mengakibatkan menurunnya daya dukung kota Jakarta dan berkurangnya tingkat kelayakhunian kota Jakarta. Hal itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Setiap harinya, hampir 3 juta kendaraan bermotor berkeliaran di Jakarta, yang tentunya memproduksi asap buangan yang polutif. Waktu tempuh berkendara yang memakan waktu diatas 1 jam antara Jakarta dengan kota sekitarnya akibat kemacetan. Banyaknya permukiman kumuh mulai dari pinggir sungai, rel KA, hingga bawah jalan layang. Hal ini diperparah dengan kondisi kriminalitas mulai dari penculikan anak, perampokan, pemerkosaan, dan lain sebagainya.

Secara ideal, kota Jakarta bisa dikatakan sebagai kota yang tidak dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi orang-orang yang berkegiatan di sini. Fungsi ekonomi yang masih digdaya lah yang masih membuat Jakarta sebagai Primadona kota-kota di Indonesia.

Hal ini tidak bisa kita tumpukan kesalahan pada Pemerintah Daerah semata. Beban kota yang sangat besar memang membutuhkan energi ekstra bagi siapapun kepala daerahnya untuk menyelesaikan.

Kita tidak berbicara, dalam konteks kali ini, pemindahan fungsi ibukota atau pembuatan pusat-pusat baru selain Metropolitan Jakarta. Sebagai sebuah solusi jangka panjang, Indonesia harus menuju ke arah sana. Akan tetapi, untuk kali ini kita akan berbicara mengenai metropolitan Jakarta menjadi wilayah dengan ber nilai tambah (value added).

Sejatinya, terdapat tiga persoalan yang menjadi masalah yang harus diprioritaskan untuk diselesaikan oleh Metropolitan Jakarta 1) kerjasama inter-regional; 2) manajemen kependudukan; 3) transportasi.

Sinergisasi dan sinkronisasi antar wilayah antara DKI dengan wilayah sekitarnya telah menjadi agenda yang tidak terselesaikan untuk periode yang cukup lama. Euforia desentralisasi mengakibatkan hal ini menjadi semakin berlarut-larut. Apabila kerjasama antar daerah dapat terlaksana maka akan banyak persoalan yang dapat selesai, seperti Banjir, ketimpangan fasilitas dan sarana prasarana, ketenagakerjaan dan beberapa persoalan lainnya. Diberlakukannya PP 40 tahun 2007 tentang tata cara kerjasama antar daerah dan akan segerah disahkannya Perpres RTR Jabodetabekjur, diharapkan dapat dijadikan peluang bagi DKI Jakarta untuk mewujudkan kerjasama antar daerah yang secara proporsional menguntungkan.

Sebagai sebuah Provinsi dengan dana APBD mencapai 18 Trilyun Rupiah, DKI Jakarta belum mampu melaksanakan manajemen kependudukan yang solutif. Manajemen kependudukan selayaknya menjadi fondasi dasar dalam melaksanakan manajemen kota. Akan tetapi perlu diperhatikan pula, manajemen kependudukan yang dilakukan seyogyanya dilaksanakan secara sederhana dan integratif. Sederhana berarti tidak berbelit dan mudah secara prosedural. Integratif dalam artian menjadi landasan bagi dinas-dinas dalam memberikan pelayanan. Seringkali sistem kependudukan yang disusun belum menjadi dasar dalam melakukan pelayanan dasar, seperti kesehatan, pendidikan, pajak, pilkada, raskin, BLT dan lain sebagainya.

Persoalan klasik sebuah kota metropolitan di seluruh penjuru Dunia adalah transportasi. Ketidak mampuan jaringan jalan menampung kendaraan yang ada dan ditambah dengan ketiadaan transportasi publik yang massal dengan kualitas yang baik mewarnai kehidupan sehari-hari warga DKI dan sekitarnya. Kemacetan yang ada mengakibatkan waktu produktif yang berkurang, ongkos transportasi yang besar (bahan bakar, biaya perawatan mobil, dll) dan ketidaknyamanan untuk berkegiatan di Kota Jakarta. Penambahan jaringan jalan baru sudah lama menjadi solusi konvensional dalam mengatasi kemacetan. Tapi selayaknya, Jakarta sudah mulai berpikir untuk mengembangkan lebih jauh Mass rapid Transport dari sekedar hanya Busway. Bahkan restriksi kendaraan bermotor di jakarta selayaknya sudah mulai dipikirkan. Agak ketinggalan jaman, apabila kita masih berpikir menjadikan kendaraaan bermotor untuk menambah PAD dan mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Rencana monorail dan subway yang akan dilakukan PEMDA DKI selayaknya kita dukung guna mengatasi masalah transportasi di Indonesia

Tiga agenda ini selayaknya menjadi perhatian dan agenda yang prioritas untuk Gubernur DKI yang baru. Memperkuat kerjasama inter-regional di Metropolitan jakarta, menata manajemen kependudukan di DKI jakarta, dan pengembangan mass rapid transport yang berkualitas dan integratif di metropolitan DKI

Masalah-masalah ini sejatinya harus diselesaikan saat ini , karena apabila tidak maka di masa depan Metropolitan Jakarta tidak akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kota-kota lain di dunia, seperti Tokyo, New York, Singapura dan lain-lain.


-catur-

foto Diambil dari http://www.nationalgeographic.com/index.html
Comments:
    Copyright © 2007 Catur