FILM DAN CINTA
Thursday, February 28, 2008


Saya selalu menganggap film adalah sebuah cerminan dari seorang individu dalam merefleksikan opini dan pendapat beliau mengenai kehidupan.. terkadang pendapat indvidu itu secara sadar ataui tidak sadar merupakan cerminan dari sebuah ideologi sebuah generasi mengenai dunia yang sedang dialami saat ini.Itulah kenapa saya suka film , karena saya dapat mengetahui refleksi dan opini dari seseorang (entah sutradara, pemilik modal ataupun penontont) mengenai sebuah isu..

Saya ambil contoh Film G30S/PKI. Itu bukan hanya sebuah film untuk hiburan semata. Akan tetapi itu merefleksikan gambaran opini publik pada jaman itu mengenai peristiwa yang terjadi pada malam 30 September 1965. dan khusus untuk film itu tidak hanya opini yang terefleksikan, akan tetapi berhasil pula dalam membuat opini publik mengenai apa yang terjadi pada malam itu.

Lalu maraknya film horor belakangan ini kita tangkap sebagai apa?? Kalau saya melihat ini gambaran masyarakat Indonesia yang masih suka hal-hal berbau klenik-klenik.. mau tau contohnya.. setiap awal tahun, seluruh infotaiment Indonesia menampilkan Mama Laurent kek, Ki Joko Bodo kek, Ki Gendeng kek, suhu acai, dan segerombolan lainnya. Gue pribadi menolak segala bentuk pemberitaan seperti itu. Karena itu sama dengan PEMUSYRIKAN MASSAL!!!!!!!!!! Ini yang harusnya diurusin oleh2 para anggota dewan dari partai2 islam dibanding ngurusin RUU Pemilu...

Untuk blog kali ini, gue berbicara persepsi mengenai cinta dalam film... ini bisa dibilang menindaklanjuti postingan saudara dan sahabat saya awan..

Cinta banyak sekali diterjemahkan oleh para pembuat film.. kayanya cinta emang topik yang paling favorit dalam dunia hiburan.. entah musik, film, lukisan, karya patung dan lain sebagainya.. para filmmaker selalu berlomba-lomba mengintrepetasikan cinta dalam pandangan masing-masing orang.

Joko anwar pernah mengintrepetasikan cinta dalam sebuah kejar-kejaran seoarang pegawai bioskop dalam film Janji Joni (still one of the best movie i’ve ever watch).. atau seorang mira lesmana membuat intrepetasi cinta dalam bentuk persahabatan sherina munaf dan rekan-rekannya.

Deddy mizwar secara berlebihan (kalau kata gue) merefleksikan kecintaan pada sebuah negara lwat fim naga bonar. Walau secara jujur saya bilang Naga Bonar yang pertama lebih merefleksikan rasa kecintaan kepada negara dibanding Filmnya om deddy.

Lalu bagaimana dengan film2 dengan genre (meminjam istilah awan) “cerita cinta utopis yang tokoh-tokohnya soleh tetapi ceritanya sebenarnya sama saja dengan AADC”.. ya sebenernya istilahnya mungkin terlalu kejam..gak semua film dari kelas ini jelek-jelek.. apakah benar cinta itu hanya sebatas dua orang laki-laki dan perempuan yang selalu berakhir dengan indah.. mungkin itu hanya simplifikasi dari segala persoalan yang dianggap rumit bagi kebanyakan orang.. karena kalau harus riil, maka saya yakin film AADC tidak akan cukup dibuat dalam durasi 2 jam.

Selama sejarah saya tonton film ada dua film romantis yang menurut saya cukup menghibur hati yang butuh siraman kisah2 romantis ini (duh bahasanya gak nahan), yaitu “Kejarlah Daku kau kutangkap” dan “Love Actually”.

Film yang pertama dimainkan om deddy mizwar dan tante lydia kandouw.. kenapa saya suka?? Simpel aja.. ini merepresentasikan bahwa cinta itu merupakan akumulasi dari perbedaan-perbedaan masing2 individu yang mengalaminya untuk kemudian melebur menjadi satu rasa dan pemahaman yang sama akibat dari komunikasi.. ya hanya butuh komunikasi.. bercerita pada orang yang salah bisa melahirkan kesimpulan yang salah.. Dahsyat!!!!!!!

Untuk film yang kedua. Film yang dibesut oleh Richard Curtis kayanya disukai oleh banyak orang deh (walau sutradara favorit gue tetep stephen sommers)… gue termasuk orang yang telat untuk suka film ini inipun gara2 diracuni oleh segerombol cowok2 yang tiba suka nonton film romantis. Jadi penasaran aja gue. Kesederhanaan yang ditampilkan dalam film ini menjadikan kisah cinta yang ditampilkan menjadi sangat sederhana.. gara2 film ini gue jadi suka lagu “here with me” nya Dido..

Ok film ini memang bagus dan tentunya banyak yang suka.. tapi kemudian apakah ini harus diikuti oleh filmmaker Indonesia dalam bentuk film LOVE????

Beberapa hari yang lalu, saya dan istri bersepakat untuk kembali menonton film Indonesia.. karena dua film indonesia yang terakhir kami tonton (Quickie express dan Otomoatis Romantis) tidak mengecewakan, dan bisa membuat kami keluar studio dengan merasa terhibur... tapi tidak untuk film LOVE ini. Kami tidak sepaham.. Istri saya tentunya suka dengan film ini.. tapi saya, hmmmmmmmm saya harus pikir untuk memberi apresiasi positifi terhadap film ini (Istri saya tampaknya tidak terima dengan jalan pikir saya yang ngejlimet.. maaf sayang aku, ini cetakan dari sononya kayanya).

Film Love ini caya lihat memang mencoba keluar dari bayang-bayang Love actually. Tapi tentu saja ekspektasi banyak orang terhadap film ini sangat tinggi..

Kritik saya terhadap film ini sebenernya gak banyak

  1. Ragam cerita cinta yang dikeluarkan di sini cukup variatif, tapi coba aja diperluas ke spektrum-spektrum lain yang lebih tidak biasa. Mungkin menjadi menarik untuk di tonton..kan genre film dengan banyak tokoh bisa kita liat di Film Berbagi Suami karya Nia Dinata. Film mbak nia kan berhasil menawarkan sebuah cerita poligami yang tidak begitu2 saja.. Walau film ini masih punya keunggulan dibanding Berbagi suami, karena plot cerita berjalan bersamaaan.. saya tau ini butuh banyak tenaga untuk membuatnya menjadi logis...walu kalo kita pikir2 time frame nya agak berantakan. Terutama posisi waktu kisah Fauzi Baadila vs Acha dengan Kisah Darius Vs Luna Maya
  2. Keinginan menyatukan banyak pemain terkenal menyebabkan beberapa tokokh yang dimainkan menjadi kurang enak dilihat.. mungkin untuk beberapa tokoh bisa dicari wajah2 baru yang lebih pas dibandingkan keinginan untuk memasang nama2 yang sudah ngetop.. walau saya harus salut dengan Om Sophan Sophian dan Widyawati... akting mereka berdua membuat saya merinding (i actually merinding melihat mereka berdua). Acha tampil cukup mengagetkan saya. Saya yang bukan penggemar Acha (maaf mbak, saya selalu menghindari menonton film anda semenjak pengalaman yang kurang baik dengan My Heart) cukup terpesona dengan akting dia sebagai orang kampung... (tapi kayanya orang kampung asal Sukabumi gak pake jeans sebagus itu pada saat pertama kali datang ke Jakarta)..

But anyway, film LOVE saya anggap cukup menyegarkan di sela-sela serbuan film horor yang makin lama makin gak penting untuk kita tonton.. di tahun 208, katanya film2 menarik bakal bermunculan. i’m looking forward for it. Sebuah cara baru dalam bertutur yang baru.

Film-film seperti ini akan banyak bermunculan tentunya ke depan. Saya sih berharap cara bertutur yang semakin beragam menjadi kan saya makin semangat nonton film Indonesia..

Mudah2an Cinta tidak semata-mata di intrepetasikan oleh para filmmaker sebagai sebuah kisah cinta utopis ala AADC.... kami butuh penyegaran-penyegaran.. kanmi butuh cerita-cerita yang lebih tidak konvensional.. saya menuntut para film maker dapat berkontribusi dalam pencerdasan anak bangsa..

Mudah-mudahan

Hidup Sinema Indonesia

-catur-

Penikmat film (bukan pemerhati)

NB :

-sebenernya gue Cuma mau ngomentari film LOVE aja kok

-Mba Dian Sastro kok gak main film lagi ya?? Udah kangen nih liat aktingnya...

Comments:
  • kangen acting DS ato kangen orangnya? :p krn menurut gw actingnya DS kurang lebih sama di setiap film nya. even di pasir berbisik yg perannya jd org desa aja aksennya masih terlalu kota :)
    Posted by Blogger syl'v @ 8:43 AM
     
  • kangen acting DS ato kangen orangnya? :p krn menurut gw actingnya DS kurang lebih sama di setiap film nya. even di pasir berbisik yg perannya jd org desa aja aksennya masih terlalu kota :)
    Posted by Blogger syl'v @ 8:44 AM
     
TRAPPED IN COMFORT ZONE
Monday, February 18, 2008

"biarkan keyakinan kamu 5 cm menggantung di depan kening kamu.. dan sehabis itu, yang kamu perlu... cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”

Geng Power Rangers dalam Novel Donny Dhirgantoro

Ini kalimat yang baru minggu lalu saya dapatkan dari sebuah novel yang menurut saya luar biasa.. gaya penulisan yang sangat sederhana, ditambah ide cerita yang segar (walau saya agak terganggu dengan banyaknya quotation film dan lirik lagu). Overall novel 5 cm karangan Donny Dhirgantoro cukup untuk mengisi semangat dan idealisme yang mengering akibat kemacetan Jakarta dan kepenatan dunia kerja.

Menjadi muda atau saat muda adalah saat-sata terbaik yang diberikan oleh Yang maha kuasa kepada setiap manusia untuk mengeksplorasi diri dan idealisme untuk membentuk dunia sesuai dengan bayangannya. Ada yang berhasil ada yang tidak, karena itu adalah cara dunia bekerja.

Saya teringat satu cerita yang saya dapat dari sebuah blog yang di tulis oleh mas lutfi

Suatu ketika, ada seekor anak elang yang secara kebetulan terpisah dari induknya dan berkumpul dengan ayam-ayam, mulai dari yang masih kecil sampai induk ayam. Setiap pagi mereka keluar kandang dan mencari makan bersama-sama di suatu pelataran yang luas dan di pinggir sungai. Bersama anak ayam lain dia mencari makan dengan mematukkan paruhnya ke tanah. Dia tidak bisa keluar dari pelataran dan pinggir sungai karena kata induk ayam banyak bahaya di luar sana. Walau lokasi mencari makan terbatas, mereka tetap merasa senang dan tetap makan dengan gembira, saling berebut dan bercanda. Karena telah lama berkumpul dengan kelompok ayam, segala tingkah dan gerakan anak elang itu mirip seperti yang dilakukan oleh ayam-ayam.

Suatu hari, ayam-yam yang jumlahnya puluhan menyebar di pelataran sampai jauh di dekat padang. Mereka lari tunggang langgang ketika ada elang terbang di kejauhan. Ayam-ayam dan anak elang tadi sangat ketakutan. Ternyata, hari-hari mencekam tersebut berulang beberapa kali. Hal itu disebabkan oleh elang perkasa yang sering terbang mondar-mandir di sekitar kelompok ayam. Anak elang juga menghadapi hari-hari yang menakutkan tersebut dengan tabah. Dia menganggap bahwa hidup memang penuh dengan tantangan. Walaupun demikian, lama-kelamaan dia mulai mengeluhkan kehidupannya yang penuh ketakutan, tekanan dan penderitaan.

Suatu kali dia menanyakan kepada induk ayam, mengapa mereka harus lari saat harus mencari makan padahal mereka belum cukup kenyang. Induk ayam menerangkan bahwa akan sangat berbahaya bagi kelompok ayam jika mereka tidak lari. Walaupun kenyang, tetapi kemudian jadi mangsa burung elang juga tidak ada artinya. Jadi lebih baik memilih sesuatu yang lebih aman walaupun sedikit lapar. Anak elang berusaha mendebat ”Bagaimana jika kita melawan atau bertahan ? Kita khan lebih banyak jumlahnya daripada elang ?” Induk ayam mulai marah dan dengan membelalakkan mata, tanda emosi, dia membentak ”Kita pasti kalah dan akan dimakannya !” Kata-kata induk ayam tadi membuat anak elang menjadi takut dan membuatnya banyak merenungkan kehidupan yang dialaminya.

Sampai suatu ketika, saat anak elang sendirian mencari makan sampai jauh di tepi sungai, secara tidak sengaja dia memergoki elang besar yang terbang rendah menuju kearahnya ! Elang muda hampir pingsan ketakutan. Apalagi masih terngiang petuah induk ayam yang intinya ”pasti kalah dan dimakan.” Dia semakin takut, tetapi tidak sempat lari karena jarak elang tersebut dengan dirinya cukup dekat. Namun diluar dugaan, elang itu hanya terbang melintas didekatnya untuk kemudian terbang tinggi lagi. Elang muda tersebut tidak diapa-apakan bahkan elang besar bertanya.

”Hey, mengapa kamu ikut lari ?” Elang kecil terkejut dan mulai mengurangi kecepatan larinya serta berpaling pada elang perkasa sambil berkata dengan polosnya ”Karena takut dengan engkau .” Elang perkasa tertawa terkekeh-kekeh ”Mengapa kau harus takut ? Kalau mereka, ayam-ayam itu, wajar saja jika ketakutan, tetapi engkau adalah elang yang bisa terbang. Tidak perlu lari dan makan di latar dan pinggir sungai .” Elang kecil tertegun hampir tak percaya, ”Benarkah ? Apakah saya seekor elang ? Apakah saya bisa terbang ?” Elang perkasa itu hanya tertawa mendengarnya.

Cerita ini memberikan satu refleksi kepada kita semua (terutama saya), mengenai dimanakah kita saat ini?? Apakah yang telah kita capai? Mungkinkah kita bergerak meninggalkan zona nyaman kita…

Kata mas wikipedia

A comfort zone denotes that limited set of behaviors that a person will engage without becoming anxious. Alternatively denoted as a "plateau" it describes that set of behaviors that have become comfortable, without creating a sense of risk. A person's personality can be described by his or her comfort zones. Highly successful persons may routinely step outside their comfort zones, to accomplish what they wish. A comfort zone is a type of mental conditioning that causes a person to create and operate mental boundaries that are not real. Such boundaries create an unfounded sense of security. Like inertia, a person who has established a comfort zone in a particular axis of his or her life, will tend to stay within that zone without stepping outside of it. To step outside a person's comfort zone, he must experiment with new and different behaviors, and then experience the new and different responses that then occur within his environment.

Mr. Plato pernah mengisahkan sebuah kisah fiktif mengenai GOA Plato dimana manusia-manusia tinggal di dalam sebuah goa dan mengagumi bayangan diri sendiri tanpa pernah tau apa yang terjadi di luar goa tersebut. Mereka gak pernah keluar dari goa tersebut. Ya orang2 tersebut terjebak dalam kenyamanan yang mereka ciptakan sendiri.

Kehidupan sehari-hari dan rutinitas yang kita jalani (sadar atau tidak sadar) menjebak kita dalam satu kotak yang terbatas. Tau perbedaan belalang yang ditaro dalam kotak korek api sama tidak.. belalang yang di dalam kotak korek api lompat lebih pendek dari yang tidak ditaruh dalam kotak korek api..

Zona nyaman bisa kita sebut sebagai goa plato atau kotak korek api. Kadang kenyamanan membatasi potensi dan pencapaian yang dapat kita hadapi. “ah kayanya gak mungkin deh” atau “ gue kayanya gak mampu deh” adalah kalimat-kalimat yang membuat sebuah “mental blocking” terhadap potensi kita sendiri..

Setelah membaca tulisan yang panjang ini.. saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri “apakah kita terjebak dengan zona nyaman yang kita buat???”

tentunya sulit untuk mendefinisikan diri kita apakah berada dalam zona nyaman yang destruktif terhadap perkembangan potensi diri kita atau tidak. sikap manusia yang BEJ (Blamming, excuse and justify) tentunya membuat pembelaan terhadap pertanyaan diatas..

kayanya kita harus bertanya pada diri kita masing dengan kriteria yang kita sadari bersama

kembali kepada kalimat yang pertama saya sitir.. mimpi kita lah sebenarnya yang menjadi kriteria buat kita mengenai apakah kita ada di dalam zona nyaman atau tidak.....

Ayo Bergerak!!!!!!

-catur-

NB :

tulisan banyak.. cuma isinya menyitir semua… lagi susah berproduksi.. berusaha menumbuhkan semangat nulis dan ngeblog….. Mungkin gue udah terjebak dalam zona nyaman gue sendiri dalam nge bLOG

gambar diambil dari www.urbanfurnishings.com/sofas.html

Comments:
  • Kebanyakan orang memang senang berada di comfort zone cth nya gubernur, anggota dpr, dll....

    hehehe
    Posted by Anonymous Raffaell @ 3:02 PM
     
  • halo caturrr.. pa kabar?!?! dah lama gak mampir kesini nih... dan gw dah mulai bosen ama tempate blog loe hahahahha... mo diganti lagi?? :P :P u know, feel free to change it anytime.

    ttg comfort zone.. i stepped out of my comfort zone disaat saya kuliah tahun terakhir.. gabung ama aiesec, nyoba ini nyoba itu.. it really made me more confident dan hidup serasa lebih berwarna hehe. dulu saya gak begitu confident lho hehe. it changed my life... i'm thankful for that.
    Posted by Anonymous amellie @ 5:11 AM
     
Kalau Memang Semua Tak Terencana…..
Wednesday, February 13, 2008



Saya ini sekolah di sekolah perencanaan wilayah dan kota… maka untuk itu banyak orang yang bilang saya ini perencana ruang,… tapi saya sendiri tidak pernah PD menyebut diri sendiri sebagai perencana…. Kenapa???

Menjadi perencana itu susah-susah gampang… susahnya melihat dari segala perspektif untuk merancang satu scenario pengembangan yang solid dan akomodatif dengan aspirasi banyak stakeholder menjadi tantangan buat semua perencana.. gampangnya (untuk konteks Indonesia) tidak pernah ada sanksi apapun terhadap kesalahan perencanaan di semua level…

Hasil dari ini jelas kita lihat kan… Pembangunan kota yang cenderung tidak terkendali, perusakan lingkungan atas nama pembangunan, pelanggaran rencana tata ruang di mana-mana dan lain sebagainya. Hal-hal ini berimplikasi tentunya pada fenomena bencana yang terjadi belakangan ini, Lumpur lapindo, banjir DKI, longsor, kemacetan, dan lain sebagainya….

Saya berani menyatakan untuk saat ini Dunia Perencanaan Ruang sedang mengalami krisis.. ketiadaan sebuah kesadaran nurani dalam merencanakan wilayah menjadi persoalan yang krusial di dunia profesi perencanaan. Perencana merencanakan tanpa menganggap apa yang di rencanakan akan berimplikasi besar terhadap kehidupan mahluk di atas wlayah yang direncanakan… saya tidak berbicara perencana pemerintah saja, terjadi pula di para professional perencana.

Perencana professional melakukan perencanaan sebatas pemroyekan semata saja. Tidak ada obligasi moral akan sebuah ouput yang dihasilkan.. karena mungkin tidak sanksi tegas terhadap apa yang di susunnya. Naskah akademis rencana tata ruang didapat dari menduplikasi satu wilayah ke wilayah lainnya. Itu tentunya tidak menjadi masalah bila sampai tataran outline… tapi kan aneh misalnya kita menemukan adanya kata Kabupaten Tangerang di Rencana Tata ruang Kabupaten Yahikimo…

Perencana di jajaran pemerintah juga memiliki kondisi yang tidak lebih baik… berita kemarin pagi saya melihat ada liputan 4 kasus penggusuran dengan perlawanan yang dilakukan di 4 kota yang berbeda… ini menunjukkan apa?? Para perencana berlindung di balik penegakan UU 26/2007 mengenai ruang terbuka hijau.. memang hal itu benar adanya.. tapi apakah mekanisme penggusuran mesti berdarah-darah dan penuh tangis rakyat seperti yang dieskpose di TV (kecuali saya memang telah di tipu oleh media). Bukankah itu menunjukkan bahwa ketiadaan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat yang diamonginya…

Apabila memang semua tampak tidak terencana, mungkin memang diperlukan REVOLUSI kelembagaan perencanaan. Agar semua kedudukan dapat ditempatkan sebagaimana mestinya…. Semua proses perencanaan yang ada dapat berjalan sebagaimana seharusnya…

Perencana tata ruang harus lebih berani berbicara mengenai isu-isu kesejahteraan dan kemiskinan.. jangan lagi bermain di tataran keseimbangan wilayah dan teori pertumbuhan semata… akan tetapi bagaimana merencana tata ruang tidak membuat yang miskin tambah miskin dan yang kaya tambah kaya….

Yang kemudian harus dibangkitkan adalah HATI NURANI… iya hati nurani seorang perencana dalam merencana…. Siapakah yang mampu melakukannya??? Organisasi Profesi perencana?? Sekolah perencanaan?? Atau Pemerintah??? Siapa yang berani bergerak duluan….

Tapi sekali lagi, saya kan bukan perencana…. Apa pedulinya???

-catur-

(lebih suka menyebut dirinya) DEVELOPMENT ANALYST


NB:

1. Planning is both the organizational process of creating and maintaining a plan; and the psychological process of thinking about the activities required to create a desired future on some scale. As such, it is a fundamental property of intelligent behaviour. This thought process is essential to the creation and refinement of a plan, or integration of it with other plans, that is, it combines forecasting of developments with the prepararation of scenarios of how to react to them. (wikipedia.com)

2. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. (UU 25/2004 Tentang SIstem Perencanaan pembangunan nasional)

3. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. (UU 26/2007 tentang penataan ruang)

Comments:
  • Iyah, ini bisa jadi senjata makan tuan, mungkin berniat baik untuk negara, tapi media mengekspos yang memperburuk citra pemerintah, akibatnya masyarakat ngga respek dengan pemerintah...

    Seolah olah media lebih berkuasa...
    Posted by Anonymous Raffaell @ 3:25 AM
     
Copyright © 2007 Catur