Don’t Judge a Movie by its Book….
Sunday, March 02, 2008
Ini sebuah slogan yang saya dapat ketika melewati bioskop jadul di kampus saya tercinta. Ada sebuah workshop dengan Judul “don’t judge a book by its movie”, yang mengibarkan misi bahwa orang2 jangan menilai bagus/jeleknya sebuah buku setelah melihat film yang dibuat dari buku tersebut. Saya sendiri tidak hadir dalam workshop tersebut..

Tahu “da vinci code syndrome” ??? itu istilah yang gue buat sendiri habis menonton Versi film dari “ Da vinci code” yang dimainkan oleh Mr. Tom Hank (one of the respected actor in my point of view).. Jadi sebenernya kaya gini nih : kita membandingkan antara film (yang berasal dari sebuah buku) dengan buku aslinya.. lau kita melahirkan kesimpulan bahwa versi buku lebih bagus atau kita bilang filmnya lebih bagus.. opini ini juga bisa berasal karena kita menonton filmnya terlebih dahulu dibanding novelnya ataupun sebaliknya.

Untuk “da vinci code”, karena saya membaca bukunya terlebih dahulu maka tentu saja otomatis ketika saya menonton film tersebut yang ada di kepala saya ya membandingkan antara kedua produk seni tersebut. Hasilnya, banyak kekecewaan di belakang kepala saya. Mulai dari ceritanya yang terburu-buru (jujur saja nonton film itu kaya lari marathon), cerita yang terlalu ingin mengadopsi buku sehingga banyak flops, dan acting Mr. Tom Hank yang menurut saya tidak sebagus ketika dia bermain “catch me If you can” bersama Leonardo di Caprio (saya tidak berani membandingkan dengan Forest Gump, World Class Movie). Akhirnya saya keluar bioskop dengan sedikit (hanya sedikit) misuh-misuh (gak ngerti istilah ini??? Tanya sama orang jawa di sebelah anda)…Salah satunya adalah “ Damn!!! Gue harusnya beli DVDnya aja terus nonton di computer bobrok gue di rumah)”…

Kasus berbeda dengan Harry Potter... saya nonton filmnya terlebih dahulu baru baca bukunya. Hasilnya Saya sama sekali tidak terganggu dengan model seperti apapun film HP dituturkan oleh Sutradara. Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk membaca bukunya.. It helps me a lot, karena figur yang ada jadi terbayangdi hadapan saya.. Fenomena ini pun terjadi terhadap “LORD of the Ring”… saya sama sekali tidak terganggu, dan masih kagum dengan film itu (walau banyak rekan saya penggemar novel itu, merasa terganggu dengan film besutan Peter Jackson). In fact, buku LOTR yang dibawakan dengan oleh Galuh (thx my friend) dari Pakistan belum say abaca (Maklum berbahasa inggris euyyyyyyyyyyyyyyy. Butuh usaha lebih!!!)

Anda pernah melakukannya?? Membandingkan antara buku dengan film yang dibuat berdasarkan buku tersebut??? Mebuat sebuah penilaian serius (yang dipublish di Koran atau blog ) atau hanya komentar ringan antar teman selepas menonton bareng??? Kalau iya, maka anda secara resmi terkena “da vinci code syndrome”….

Memang membuat film berdasarkan buku yang pernah diterbitkan apalagi yang sangat terkenal dan dibaca oleh ribuan orang pasti sangat sulit. Filmmaker dituntut untuk tidak keluar dari alur cerita yang ada di benak orang-orang atau tidak boleh sembarangan memilih aktor (karena setiap membaca novel, setiap orang memiliki figur dan mindset sendiri terhadap apa yang dia baca)...sayangnya terkadang (dari pandangan saya sebagai penikmat film) para filmmaker terjebak dalam stigma ini yang akhirnya membuat film itu menjadi biasa-biasa saja...

Menjadi sutradara sebuah film yang berasal dari sebuah buku yang terkenal menjadi sebuah kutukan. Kenapa?? Karena dia harus siap untuk diomongin jelek ataupun dipuji sampai mampus...

Tapi apakah memang harus seperti itu?? Layakkah dua buah karya seni yang dihasilka n oleh dua orang kreatif denga gayanya berbeda untuk diperbandingkan?? Ya memang sih itu tidak adil.. tapi itu lah proses kreatif yang harus melewati proses kritik dan masukan baik negatif ataupun positif..

Saya ambil contoh film-film yang diambil dari novel John Grisham.. mungkin karena jenis novel ini segmented dan filmmnya di tonton oleh segmented people pula, maka komentar terhadap film2 ini tidak terekspose secara luas.. untuk john grisham, saya sudah melewati dua proses (nonton film lebuh dulu atau baca bukunya lebih dulu. Sederet film The Client, The Firm, Runaway Jury dan lainnya dibuat dengan berusaha tidak terjebak secara saklek terhadap novelnya. Bahkan di runaway jury, filmmmakernya secara berani merubah entitas kasus hukum yang jadi fokus perhatian disesuaikan dengan kondisi terkini (FYI novel John grisham banyak berbicara soal pengacara dan kasus Hukum... gue curiga kesukaan gue terhadap novel-novel John Grisham, membuat gue memilih seorang Lawyer untuk menjadi istri. We will talk about this someday)

Dengan tidak bermaksud latah mengikuti blog-blog lain yang berbicara mengenai Film ” ayat-ayat cinta”, tapi tulisan panjang diatas saya buat jelas mengarah terhadap opini saya terhadap film ini..

Hanung Bramantyo sempet menjadi salah satu filmmmaker yang bukan favorit saya. ini akibat brownies, film sekelas citra yang beliau bikin yang menurut saya film ini bagus Cuma kayanya belum sampai citra deh (no hard feeling ya, ini opini penikmat film lho bukan ahli film)... tapi Hanung membuktikan ke saya bahwa dia filmmaker yang ahli dalam meramu sebuah novel terkenal menjadi Film..

Pembuktian pertama adalah Film ”Jomblo”. Beberapa keberhasilan dia di film itu adalah menjadikan Ringgo agus rahman menjadi salah satu aktor yang diperhitungkan, mengasah Chrstian Sugiono menjadi aktor yang lumayan (dibanding ketika di film catatan akhir sekolah) dan keberanian dia merubah cerita film tanpa menghilangkan makna persahabatan yangt diinginkan oleh Aditya Mulya.

“ayat-ayat cinta” sekali lagi dengan berani dibuat keluar dari cerita novelnya.. Hanung sepertinya menyadari bahwa salah satu kelemahan dari Novel buatan Habbiburrahman adalah kurang nya alur menuju klimaks yang terasa menggantung.

Meneruskan hidup Maria paska persidangan menambah manisnya cerita film ini dan menunjukkan kepaa orang awam mengenai realitas hidup berpoligami (gak semuanya indah dan gak semuanya penuh pertempuran). Menambah bumbu-bumbu cemburu Aisha dan ketidakpercayaan diri fahri akan istrinya yang Tajir abissss , menunjukkan bahwa tokoh2 yang di film ini adalah manusia biasa... yang bisa cemburu, bisa tidak PD, bisa tidak ikhlas. Dan semuanya kembali kepada iman masing-masing orang....

Hal ini sama seperti film “chronicles of Narnia”. Dimana novel yang sangat tipis dan sangat sederhana dibuat menjadi lebih glamour dan logis lewat film yang dibuat lebih dari seratus tahun setelah novel di buat. …………..

Kali ini saya tidak terjebak dalam da vinci code syndrome. Saya pernah baca buku novelnya jauh sebelum keluar filmnya… dengan segala kekuarangannya, saya memuji film tersebut dalam mengenalkan nilai-nilai islami dalam sebuah bahasa yang popular, yaitu cinta… ya walau kemudian secara tiba-tiba melahirkan implikasi para aktivis (jaman saya kulaih dulu) menjadi romantis tiba2 dan termotivasi untuk nikah, itu hanya side effect yang tidak bisa dihindari.

Saya menonton filmnya weekend kemarin bersama istri saya.. apresiasi saya terhadap film itu positif.. menurut saya film tersebut tidak terlalu bagus (karena sampai sekarang janji joni tetap menjadi film bagus di mata saya), tapi film “ayat-ayat cinta” ini adalah sebuah film yang indah…

Indah, itu adalah kata yang saya pilih untuk mendeskripsikan apresiasi positif terhadap film itu. Tidak merasa perlu untuk membandingkan antara kedua karya intelektual kreatif antara Hanung dan Habbiburrahman (duh susah bener nulis namanya).. kedua karya ini berbeda dalam lain hal, dan saling melengkapi dalam banyak hal. Keindahan film ini membuat saya berpikir melihat sebuah karya berbeda dengan gaya penuturan berbeda..

Cara indah dalam menuturkan kisah cinta Maria, Aisha, Noura, Nur dengan Fahri membuat saya terpukau. Kekuatan latar musik membuat saya merinding… mungkin ini berlebihan.. tapi yang membuat saya terharu pada film ini, bukan hanya pada ceritanya.. tapi ke musik latar. Mendegar lirihan lantunan kalimat ”astagfirullah”, membuat hati gue miris...terlalu melankolis??? Maybe it’s just me... Pemilihan intro musik pada adegan awal membuat meruntuhkan image film romantis yang intro musiknya harus termehe-mehe... Hahahahahahahahahahaha

Saya angkat topi buat Hanung, yang membuktikan diri sekali lagi membuat film bagus.. walau tentunya ini melahirkan tuntutan besar buat beliau.. padahal kita tahu tidak setiap orang bisa membuat film bagus dengan kualitas yang sama berkali-kali.. bahkan mira lesmana pun gak selalu buat film Bagus..

Hidup Film Indonesia

-catur-

(masih jadi) penikmat film

NB :

-kenapa belakangan ini topik film yang saya tulis... Ok saya akui, belakangan ini weekend saya memang saya habiskan dengan menonton film. Entah bioskop atau DVD....

-Saya masih menunggu dian sastro untuk comeback di perfilman Indonesia......

Comments:
  • Wah, ada apa dengan dian sastro ?
    Posted by Anonymous Raffaell @ 6:48 PM
     
  • gw belom nonton ayat2 cinta... pengen banget nonton, tapi mo baca bukunya dulu hehehe.

    iya kadang gw nonton film di bioskop tu setelah nanya2 dari temen, ngeliat review2 film di internet, en jg dari bukunya. kalo responsenya pada positif, baru gw nonton. :D
    Posted by Anonymous amalia @ 12:27 PM
     
Copyright © 2007 Catur