Percakapan Bersejarah 2008
Tuesday, July 08, 2008

Dalam beberapa hari terakhir kita dihebohkan oleh percakapan sadapan telpon yang sangat menghebohkan di tahun 2008. Percakapan antara Artalyta Suryani dengan seseorang yang diduga sebagai Jamdatun Jaksa Untung Udji Santoso. Percakapn ini terkait kasus persidangan penyuapan Jaksa Urip Tri Gunawan terkait kasus BLBI.

Summary percakapan itu adalah sebagai berikut (sumber didapatkan dari detik.com)

Berdasarkan rekaman hasil sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2 Maret 2008, Urip memberi isyarat kepada Artalyta (Ayin), konferensi pers telah dirancang menurut keinginannya. Inilah petikan rekaman pembicaraan yang banyak menggunakan bahasa Jawa itu:

"Beres. Sip! Tinggal dengerin press release," ujar Urip dalam telepon.

"Bahasanya dah diatur?" tanya Ayin.

"Sip buanget pokoke. Sesuai dengan sip! Sip bianget pokoke. Enggak nyinggung macem-macem, sip biaaanget pokoke. Garuk-garuk tangan ya?" kata Urip lebih lanjut.

Kemudian Ayin bertanya lagi, "Apa? Garuk-garuk tangan?"

"Saya garuk-garuk tangan iki lho. Wiiiis sip tenan iki lho. Lha yo, saya garuk-garuk tangan. Ngerti to?" kata jaksa dari Bali itu.

"Ngertiiii...." jawab Ayin dengan nada yang terdengar sambil tersenyum.

Rancangan ini juga diketahui dari percakapan antara Artalyta dan Urip pada beberapa waktu sebelum konferensi pers Kejaksaan Agung:

"Beritanya aman. Tenang saja," ujar Urip.

"Awas itu jangan keceplosan," kata Ayin.

"Angkanya enggak disebut bos... Begini lho bos. Nanti begini lho bos, saya kan ikut ngomong. Berdasarkan penyelidikan itu kan memeriksa narasumber ini narasumber ini, berdasarkan itu tidak ditemukan bahwa ini sesuai dengan peraturan ini ini ini... dan itu benar semua," tutur Urip.
Transkrip rekaman percakapan telepon antara Artalyta Suryani dan Jampidsus
Kemas Yahya Rahman yang terjadi 1 Maret 2008 pukul 13.00 WIB atau satu hari setelah Kejagung mengumumkan menghentikan penyelidikan kasus yang
membelit obligor BLBI Sjamsul Nursalim pada 29 Februari 2008. Rekaman diperdengarkan jaksa KPK dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (11/6/2008 )

Berikut isi rekaman tersebut:
Artalyta (A): Halo.
Kemas (K): Halo.
A: Ya, siap.
K: Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe.
A: Good, very good.
K: Jadi tugas saya sudah selesai.
A: Siap, tinggal…

K: Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.
A: Bagus itu.
K: Tapi saya dicaci maki. Sudah bac
a Rakyat Merdeka?
A: Aaah Rakyat Merdeka, nggak usah dibaca.
K: Bukan, saya mau dicopot hahaha.
Jadi gitu ya…
A: Sama ini mas, saya mau informasikan.
K: Yang mana?
A: Masalah si Joker.
K: Ooooo nanti, nanti, nanti.
A: Nggak, itu kan saya p
erlu jelasin, Bang.
K: Nanti, nanti, tenang saja.
A: Selasa saya ke situ ya…
K: Nggak usah,
gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah
ada pesan dari sana. Kita…
A: Iya sudah.

K: Sudah sampai itu.
A: Tapi begini Bang…
K: Jadi begini, ini sudah terlanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam
perencanaan
.

Kutipan transkrip Percakapan Artalyta dengan Jak
sa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), Untung Udji Santoso, (2 Maret 2008).
Artalyta (A) : Halo …
Untung (U) : Ya.

Artalyta : Mas, aku nih Ayin.
Untung : Aa … gimana Yin?
Artalyta : Itu, si Urip. Tapi ini aku sudah pakai nomor telepon lain ini,
aman. Ketangkep KPK di rumah.
Untung : Di mana dia ketangkep?

Artalyta : Kan mau eksekusi itu kan
Untung : Eksekusi apa?

Aratlyta : Ya itu biasa, tanda terima kasih itu. Nah, terus rupanya …
Untung : Terima kasih apa? Perkara apa?
Artalyta : Nggak ada sebenarnya nggak ada perkara apa-apa. Cuma dia kan baru
terima dari, Urip …
Urip kita …
Untung : Iya … iya …
Artalyta : Sekarang telepon dulu Antasari bagaimana cara ngamaninnya itu.

Untung : Sebentar saya telepon dulu si Ferry
Artalyta : Ferry sudah aku suruh Djoko, Antasari Mas.

Untung : Coba-coba ya aku telepon Antasari dulu ya.
Artalyta : Antasari dulu, ini udah, Ferry sudah.
Untung : Urip sudah ama polisi? Darimana duit itu?
Artalyta : Dari aku

Untung : Hah!
Artalyta : Mas, jawab apa si Urip ya?
Untung : Ya, bilang aja nggak ada kaitannya kok. Dia kan gratifikasi belum waktunya, belum satu
bulan kok. Gitu loh caranya.

Artalyta : Itu bilang aja dari anakku, nggak ada keterkaitan kan?
Untung : Iya bilang aja begitu. Tapi klop nggak sama si anu, si, si, apa namanya si Urip.
Artalyta : Ya makanya, si U ngomong-nya gitu

nggak? Bilang aja dari Agus ya.
Untung : Iya.
Artalyta : Ajudan.
Untung : Oh, jangan. Dia ngomong saya anu kok, anaknya sakit opo-opo, kan bisa aja.

Artalyta : Telepon aja ya. 0813xxxxxx
Untung : Siapa itu?!
Artalyta : Urip.
Untung : Yah, ndak mungkin lah Urip kan dimonitor.

Nggak, dikasih berapa duitnya itu?
Artalyta : Enam, ehmm, 660 ribu.
Untung : 60 ribu?
Artalyta : 660 ribu.
Untung : 660 ribu?! Berarti
sekitar empat miliar? Artalyta : Enam M. Untung : Lailahaillalah… (ekspresi kaget..)
A: Jadi bagaim
ana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?
U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.
A: Jadi gimana?
U: Tak pikir enam atus ju
to (enam ratus juta-Red) gitu.
A: nggak, itu banyak. Gimana?
U: Itu untuk siapa?
A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan ke
luarnya gimana?
U: Adu biyung gimana?
A: Heh.
U: Sek...sek (sebentar--red). Kalau kayak gitu, susah itu.
A: Aku kena lho, Mas, kayak gini.

U: Lha iya.
A: Aku bilang kan ajudanku.
U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan k
ok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah--red). Gimananya caranya hubungi Antasari.
A: Ya, coba S
ampeyan telepon dulu.
U: Udah, mati teleponnya.
A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono--red) suruh nyari.

U: Feri juga nggak ngangkat.
A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U: (terdiam lama)
A: Aku jawabnya apa ya
? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).
U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.
A: Ya, di mana dia rumahnya?
U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu
juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.
A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kej
ar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.
U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Diperkirakan Jaksa Untung terdengar gelagapan).
Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto--red).
A: Sekarang susulin.
U: Tak telepon dulu.

A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.
U: Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.
A: Kata Wisnu apa?
U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor
lainnya nggak?nggak punya, lah gimana? (Diperkirakan Jaksa Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)
A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keteranga
nnya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.
U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.

A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia(jaksa Urip--red) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.
U: Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas)

Percapakapan di atas merupakan salah satu percakapan berjarah di Indonesia yang bisa mengalahkan rekaman pidato bung tomo di Surabaya. Rekaman percakapan ini akan menjadi sebuah monumen digital bagi penegakan hukum dan kehidupan berbangsa di negara ini.

Walaupun banyak yang bilang percakapan ini sangat lemah menjadi bukti sebuah kasus peradilan. Akan tetapi percakapan beberapa menit ini membuka tabir banyak hal. Yang jelas semakin membuat lembaga kejaksaan menjadi sangat lemah di hadapan publik.

Mafia peradilan memang sudah menjadi barang usang yang masih saja laku dipasaran. Memperjualbelikan tuntutan bagi jaksa dan jual beli keputusan untuk hakim merupakan barang yang biasa dan secara gencar di pasarkan..

Perlu ada sebuah langkah revolusioner untuk mereformasi peradilan di Indonesia. Dan itu bukan hanya efektif di tingkat peraturan perundangan dan kelembagaan semata. Reformasi SDM mutlak dilakukan oleh Pemerintah untuk mengembalikan citra lembaga peradilan Indonesia. Dimulai dari perekrutan CPNS kejaksaan yang harud dilandasi semangat reformasi dibanding semangat kekeluargaan (maksudnya dari keluarga staf kejaksaan) dan materi semata...

Ini tantangan besar jaksa agung tentunya.. percakapan diatas yang jelas melahirkan kesimpulan umum dimasyarakat bahwa Kejaksaan adalah lembaga yang korup dan tidak dapat dipercaya. Ok pembenahan memang sedang dilakukan. Tapi sayang bau busuk lebih dulu tersebar dibanding bau harum. Sehingga pastinya kerja yang dilakukan akan lebih keras untuk mengembalikan citra kejaksaan agung.

Bangun sistem peradilan yang bersih dan akuntabel...

-catur-

Comments:
  • Emang koruptor itu tikus semuanya...
    Indonesia anti korupsi!!
    Posted by Anonymous Rudi @ 6:18 AM
     
Copyright © 2007 Catur