GET MARRIED!!! GET REAL!!!!!!!!
Wednesday, December 31, 2008
Menghabiskan tahun baru dengan menonton TV… right!!! That’s just my routine, including this years... Apa yang akan gue tonton… ?? pada saat gue nulis blog ini gue nonton “just married”. Ini salah ifilm yang inspring buat gue…

Pada awalnya gue berpikir film ini bakal corny.. judulnya norak dan poster filmnya ada lambang class mild (HAIL CAPITALISM!!!). tapi gue cukup convince dengan sutradaranya Hanung.. ya mungkin ada nilai positifnya lah ya…jaduilah saya menonton film ini pertama kali setahun yanbg lewat…

Ceritanya sih sederhana

Empat sahabat, Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta ‘Club Eighties’), Eman (Aming), dan Beni (Ringgo Agus Rahman) selalu bersama-sama sejak kecil. Orang tua Mae, Pak dan Bu Mardi (Meriam Bellina) mencarikan Mae jodoh. Segala cara ditempuh hingga ke dukun cabul

Rendy (Richard Kevin), cowok cakep dan konglomerat, bosen pacaran dengan cewek-cewek jaman sekarang. Ia dapat kabar tentang Mae dan pergi menemuinya. Rendy pun....jatuh cinta! Ternyata Mae juga jatuh cinta kepada Rendy tapi Rendy dihajar teman-temannya karena kesalahpahaman. Mengetahui itu Mae amat kecewa dan menangis

Usaha perjodohan yang gagal tersebut membuat Bu Mardi sakit keras. Dia mengancam, kalau ia mati sementara Mae belum dapat jodoh ia akan mati penasaran. Mae kelimpungan. Akhirnya ia akan kawin dengan salah seorang dari tiga sohibnya. Setelah pengundian berkali-kali, Beni lah yang 'beruntung' mengawini Mae. Kabar ini membuat Bu Mardi sembuh total dari sakitnya

Rendy sebagai anak elit, geram telah dihajar dan dipermalukan oleh anak kampung Mae. Maka terjadilah tawuran antara kaum elit dengan orang-orang di kampung Mae.

Ya simple sih ceritanya. Tapi menurut gue film ini dalam maknanya dalam beberapa hal.

  1. film ini menampilkan realita pemuda dan pemudi bangsa ini. Banyak penggangguran, cita2 yang tidak tercapai, frustasi, dan minim akses dalam mencapai cita2. inilah bentuk pemuda kita.. banyak lulusan sekolahan tapi banyak pengangguran. Memang banyak sekali orang yang menggap kondisi ini sangat negatif. Kalau saya melihatnya sebagai realita. Tentunya di film ini pemuda-pemuda pengangguran masih terlihat positif. Di kehidupan nyata tentunya hal ini bisa berubah banyak.. tidak.. saya tidak berusaha menghakimi dan mengeneralisasi. Yang saya coba apresiasi dari film ini adalah berusaha memotret realitas dimasyarakat bahwa banyak sekali pemuda-pemuda pengganguran yang menggangur karena kesalahan sistem yang bobrok di Republik ini. . ketika kapitalisme merengut lahan2 beraktivitas dan menciptakan kantunng-kantung kemiskinan. Ketika sistem pendidikan hanya menyediakan ijazah tanpa memberikan ketrampilan untuk bekerja. Ketika mimpi2 anak muda hilang karena tidak memiliki akses ke sumber daya yang tepat. Kalo kata Richar Kevin ”Kalau punya masa depan maka tidak akan menggunakan cara-cara kekerasan sebagai cara utama”. Jadi mungkin film ini memberikan asumsi yang tepat bahwa kekerasan yang timbul di Indonesia belakangan ini akibat banyak masyarakat kita terutama anak2 muda yang tidak memiliki masa depan yang jelas, pendidikan yang kurang bemutu dan perlu ruang aktivitas untuk melepas frustasi. Akhirnya yang terjadi adalah kekerasan
  2. Film ini berbicara kesenjangan. Kesenjangan yang nyata2 terjadi di masyarakat. Kalau di film ini antara masyarakat komplek dengan anak kampung sebelah. Kalau realitanya? Lebih banyak lagi kesenjangan yang terjadi. Kesenjangan antar orang2 kaya di Sudirman dengan Penghuni bawah jembatan duku atas. Kesenjangan antar Jakarta dengan Luar Jakarta.. ini wajah negara kita. Wajah penuh kesenjangan.kesenjangan tidak lahir dalam semalam. Ini lahir dari sebuah sistem ekonomi yang sangat tidak memihak di masyarakat kita.
  3. Kekerasan selalu jadi jawaban. Gak peduli orang miskin atau orang kaya dari ujung menteng. Kekerasan banyak menjadi jawaban dari permasalahan di masyarakat kita. Setiap masalah dijawab dengan kekerasan. Kekerasan menjadi solusi yang dipkirkan oleh masyarakat kita dalam menyelesaikan perbedaan di antara kita.. dikit2 bunuh..dikit2 bakar.. dikit2 sikat...what a barbaric culture.. Apakah kekerasan identik dengan masyarakat golongan kelas ekonomi lemah? Liat kasus Agung Setyawan?? itulah bukti kekerasan juga bisa terjadi di kalangan atas dan berpendidikan. Kalo di film itu ini kekerasan dan fanatisme semu dibilang sebagai Cara Indonesia. Oh men kalo beneran di dunia nyata ada yang bilang kaya gitu, saya malu jadi orang Indonesia.. Huuu untung ini Cuma film
  4. Masyarakat kita hidup dalam dunia asumsi. Asumsi bahwa setiap orang harus menikah pada usia tertentu asumsi bahwa sebutan perawan tua lebih rendah dibanding dengan perjaka tua... ini dunia anggapan. Stereotipe.. asumsi semua...

Film get married (dengan segala kekurangannya) saya bisa katakan film yang meneriakkan suara permasalahan jaman. Realita generasi.. problematika riil...

Menurut saya, SBY harus menonton Film ini.. menteri-menteri dan jajaran pejabat di instansinya harus banyak belajar dari film ini. Mungkin dengan menonton film ini mungkin mereka akan merasakan yang saya rasakan.. sebuah kekhawatiran dan keinginan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat kita...saya gak bilang Ayat2 cinta itu film kacangan.. enggak kok bukan..

Cuma film get married akan membuat mereka tahu apa yang terjadi di masyarakat kita dan apa yang kemudian harus kita lakukann...

Salut sekali lagi buat Hanung....

-Catur-



Comments:
  • iya, agree.. soekarno aja bilang, "beri aku 10 pemuda, akan kuubah dunia"
    sepertinya akumulasi konflik multi bidang, tp kurangnya kesejahteraan memang penyebab yg utama. selain mandiri kita juga kudu bisa bertindak untuk orang lain. dunia ini terlalu berharga jika hanya memikirkan diri sendiri.

    regards.
    Posted by Blogger Lesly @ 7:37 PM
     
  • belom posting2 lagi pak?.....
    Posted by Blogger Winy @ 11:56 PM
     
Copyright © 2007 Catur