Saya ambil contoh Film G30S/PKI. Itu bukan hanya sebuah film untuk hiburan semata. Akan tetapi itu merefleksikan gambaran opini publik pada jaman itu mengenai peristiwa yang terjadi pada malam 30 September 1965. dan khusus untuk film itu tidak hanya opini yang terefleksikan, akan tetapi berhasil pula dalam membuat opini publik mengenai apa yang terjadi pada malam itu.
Lalu maraknya film horor belakangan ini kita tangkap sebagai apa?? Kalau saya melihat ini gambaran masyarakat Indonesia yang masih suka hal-hal berbau klenik-klenik.. mau tau contohnya.. setiap awal tahun, seluruh infotaiment Indonesia menampilkan Mama Laurent kek, Ki Joko Bodo kek, Ki Gendeng kek, suhu acai, dan segerombolan lainnya. Gue pribadi menolak segala bentuk pemberitaan seperti itu. Karena itu sama dengan PEMUSYRIKAN MASSAL!!!!!!!!!! Ini yang harusnya diurusin oleh2 para anggota dewan dari partai2 islam dibanding ngurusin RUU Pemilu...
Untuk blog kali ini, gue berbicara persepsi mengenai cinta dalam film... ini bisa dibilang menindaklanjuti postingan saudara dan sahabat saya awan..
Cinta banyak sekali diterjemahkan oleh para pembuat film.. kayanya cinta emang topik yang paling favorit dalam dunia hiburan.. entah musik, film, lukisan, karya patung dan lain sebagainya.. para filmmaker selalu berlomba-lomba mengintrepetasikan cinta dalam pandangan masing-masing orang.
Joko anwar pernah mengintrepetasikan cinta dalam sebuah kejar-kejaran seoarang pegawai bioskop dalam film Janji Joni (still one of the best movie i’ve ever watch).. atau seorang mira lesmana membuat intrepetasi cinta dalam bentuk persahabatan sherina munaf dan rekan-rekannya.
Deddy mizwar secara berlebihan (kalau kata gue) merefleksikan kecintaan pada sebuah negara lwat fim naga bonar. Walau secara jujur saya bilang Naga Bonar yang pertama lebih merefleksikan rasa kecintaan kepada negara dibanding Filmnya om deddy.
Lalu bagaimana dengan film2 dengan genre (meminjam istilah awan) “cerita cinta utopis yang tokoh-tokohnya soleh tetapi ceritanya sebenarnya sama saja dengan AADC”.. ya sebenernya istilahnya mungkin terlalu kejam..gak semua film dari kelas ini jelek-jelek.. apakah benar cinta itu hanya sebatas dua orang laki-laki dan perempuan yang selalu berakhir dengan indah.. mungkin itu hanya simplifikasi dari segala persoalan yang dianggap rumit bagi kebanyakan orang.. karena kalau harus riil, maka saya yakin film AADC tidak akan cukup dibuat dalam durasi 2 jam.
Selama sejarah saya tonton film ada dua film romantis yang menurut saya cukup menghibur hati yang butuh siraman kisah2 romantis ini (duh bahasanya gak nahan), yaitu “Kejarlah Daku kau kutangkap” dan “Love Actually”.
Film yang pertama dimainkan om deddy mizwar dan tante lydia kandouw.. kenapa saya suka?? Simpel aja.. ini merepresentasikan bahwa cinta itu merupakan akumulasi dari perbedaan-perbedaan masing2 individu yang mengalaminya untuk kemudian melebur menjadi satu rasa dan pemahaman yang sama akibat dari komunikasi.. ya hanya butuh komunikasi.. bercerita pada orang yang salah bisa melahirkan kesimpulan yang salah.. Dahsyat!!!!!!!
Untuk film yang kedua. Film yang dibesut oleh Richard
Curtis kayanya disukai oleh banyak orang deh (walau sutradara favorit gue tetep stephen sommers)… gue termasuk orang yang telat untuk suka film ini inipun gara2 diracuni oleh segerombol cowok2 yang tiba suka nonton film romantis. Jadi penasaran aja gue. Kesederhanaan yang ditampilkan dalam film ini menjadikan kisah cinta yang ditampilkan menjadi sangat sederhana.. gara2 film ini gue jadi suka lagu “here with me” nya Dido..
Ok film ini memang bagus dan tentunya banyak yang suka.. tapi kemudian apakah ini harus diikuti oleh filmmaker Indonesia dalam bentuk film LOVE????
Beberapa hari yang lalu, saya dan istri bersepakat untuk kembali menonton film Indonesia.. karena dua film indonesia yang terakhir kami tonton (Quickie express dan Otomoatis Romantis) tidak mengecewakan, dan bisa membuat kami keluar studio dengan merasa terhibur... tapi tidak untuk film LOVE ini. Kami tidak sepaham.. Istri saya tentunya suka dengan film ini.. tapi saya, hmmmmmmmm saya harus pikir untuk memberi apresiasi positifi terhadap film ini (Istri saya tampaknya tidak terima dengan jalan pikir saya yang ngejlimet.. maaf sayang aku, ini cetakan dari sononya kayanya).
Film Love ini caya lihat memang mencoba keluar dari bayang-bayang Love actually. Tapi tentu saja ekspektasi banyak orang terhada
p film ini sangat tinggi..
Kritik saya terhadap film ini sebenernya gak banyak
- Ragam cerita cinta yang dikeluarkan di sini cukup variatif, tapi coba aja diperluas ke spektrum-spektrum lain yang lebih tidak biasa. Mungkin menjadi menarik untuk di tonton..kan genre film dengan banyak tokoh bisa kita liat di Film Berbagi Suami karya Nia Dinata. Film mbak nia kan berhasil menawarkan sebuah cerita poligami yang tidak begitu2 saja.. Walau film ini masih punya keunggulan dibanding Berbagi suami, karena plot cerita berjalan bersamaaan.. saya tau ini butuh banyak tenaga untuk membuatnya menjadi logis...walu kalo kita pikir2 time frame nya agak berantakan. Terutama posisi waktu kisah Fauzi Baadila vs Acha dengan Kisah Darius Vs Luna Maya
- Keinginan menyatukan banyak pemain terkenal menyebabkan beberapa tokokh yang dimainkan menjadi kurang enak dilihat.. mungkin untuk beberapa tokoh bisa dicari wajah2 baru yang lebih pas dibandingkan keinginan untuk memasang nama2 yang sudah ngetop.. walau saya harus salut dengan Om Sophan Sophian dan Widyawati... akting mereka berdua membuat saya merinding (i actually merinding melihat mereka berdua). Acha tampil cukup mengagetkan saya. Saya yang bukan penggemar Acha (maaf mbak, saya selalu menghindari menonton film anda semenjak pengalaman yang kurang baik dengan My Heart) cukup terpesona dengan akting dia sebagai orang kampung... (tapi kayanya orang kampung asal Sukabumi gak pake jeans sebagus itu pada saat pertama kali datang ke Jakarta)..
Film-film seperti ini akan banyak bermunculan tentunya ke depan. Saya sih berharap cara bertutur yang semakin beragam menjadi kan saya makin semangat nonton film Indonesia..
Mudah2an Cinta tidak semata-mata di intrepetasikan oleh para filmmaker sebagai sebuah kisah cinta utopis ala AADC.... kami butuh penyegaran-penyegaran.. kanmi butuh cerita-cerita yang lebih tidak konvensional.. saya menuntut para film maker dapat berkontribusi dalam pencerdasan anak bangsa..
Mudah-mudahan
Hidup Sinema Indonesia
-catur-
Penikmat film (bukan pemerhati)
NB :
-sebenernya gue Cuma mau ngomentari film LOVE aja kok
-Mba Dian Sastro kok gak main film lagi ya?? Udah kangen nih liat aktingnya...
syl'v @ 8:43 AM





