Transformasi Pemukiman : Kasus Kota Sawahlunto
Thursday, January 05, 2012

Transformasi Pemukiman : Kasus Kota Sawahlunto

Elkana Catur H

(Hasil Refleksi Beberapa Kali perjalanan Dinas)

Kota merupakan perpaduan dari sistem dan implementasi dari aspek politik, teknik, ekonomi, budaya dan ideologi yang dipadukan oleh pengetahuan dalam usaha membangun sebuah lingkungan terbangun untuk kehidupan sekelompok manusia (Sassen, 2009). Webber (1922) memberikan pandangan mengenai kota “The city is a settlement of closely spaced dwellings which form a colony so extensive that the reciprocal personal acquaintance of the inhabitants, elsewhere characteristic of the neighborhood, is lacking”.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka dapat di pahami perkembangan kota-kota di Indonesia adalah interaksi dari berbagai kepentingan dan kriteria yang mengalami proses tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam melaksanakan hidup baik secara individu dan masyarakat. Kota sebagai bagian dari permukiman sebagian besar terbentuk disebabkan oleh adanya sebuah kepentingan yang perlu di akomodir, seperti keagamaan, perniagaan, pusat pendidikan dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalan waktu fungsi-fungsi awal dapat berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan dari masa ke masa.

Hal yang serupa dapat kita amati di Kota Sawahlunto. Di kota tersebut tampak terlihat permukiman mengalami transformasi baik secara fisik, ekonomi dan sosial disebabkan oleh perubahan kebutuhan masyarakat dan kota.

Kota Sawahlunto merupakan kota tambang, yang dimulai sejak ditemukannya cadangan batu bara di kota ini pada pertengahan abad ke-19 oleh Ir. de Greve, yang kemudian sejak 1 Desember 1888. Kota ini mulai memproduksi batu bara sejak tahun 1892 dan seiring dengan itu kota ini mulai menjadi kawasan perumahan pekerja tambang, dan berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang. Kenaikan jumlah penduduk banyak disebabkan oleh datangnya pekerja tambang dari Pulau Jawa yang sebagian besar merupakan tahanan politik.

Seiring dengan berakhirnya kegiatan pertambangan di akhir tahun 90an, Kota Sawahlunto sempat mengalami stagnansi perkembangan. Hal ini terlihat dari angka pertumbuhan jumlah penduduk yang negatif disebabkan oleh arus penduduk keluar yang sebagian besar merupakan pegawai perusahaan tambang. Sektor basis ekonomi pertambangan yang berakhir menjadikan kota ini menjadi tempat yang kurang menarik bagi kegiatan perdagangan dan jasa dari luar wilayah. Hal ini terlihat dari Indikator ekonomi yaitu nilai Pertumbuhan ekonomi Kota Sawahlunto yang pertumbuhannya negatif pada periode 2000-2003.

Di sisi lain, sisa-sisa kegiatan tambang masih banyak terlihat dan membentuk citra kota secara visual dan sosial, seperti gedung perkantoran, gedung kesenian, pabrik pengolahan batubara, lubang bekas galian tambang, dll. Bekas kegiatan tambang ini yang kemudian menginspirasi Pemerintah Kota Sawahlunto untuk merubah orientasi wilayah menjadi kegiatan pariwisata dengan mencoba memanfaatkan bekas kegiatan pertambangan.

Tranformasi permukiman dari sebuah kota tambang menjadi kota wisata secara cepat dan bertahap turut merubah pola-pola interaksi antara komponen-komponen permukiman yang disampaikan oleh Doxiadis. Analisa dengan menggunakan dimensi man, shell dan society terbukti harus dilengkapi dengan dimensi waktu untuk melihat kasus Sawahlunto. Perubahan karakter permukiman di Sawahlunto banyak disebabkan oleh kondisi-kondisi yang berubah oleh berjalannya waktu. Perubahan hubungan tersebut tampak baik dari bentuk bangunan fisik ataupun kegiatan masyarakat.

Tranformasi Kota Sawahlunto

Doxiadis (1968) menyampaikan bahwa dalam sebuah permukiman terdapat beberapa elemen yang membentuk yaitu, Nature, Man, Shell, Society dan Network. Hubungan antar kelima elemen tersebut baik secara simultan ataupun eksklusif yang kemudian membentuk jenis, kondisi dan situasi sebuah permukiman.

Melalui pengamatan terhadap elemen tersebut, maka dilakukan perbandingan antara elemen di Sawahlunto pada masa lalu dan masa sekarang

Perbandingan Elemen Permukiman Kota Sawahlunto

Sawahlunto Masa Lampau

Sawahlunto Masa Kini

Nature

Terletak ± 90 km dari Kota Padang (ibu kota propinsi sumbar). Morfologi wilayah Kota Sawahlunto berada pada daerah perbukitan dengan ketinggian antara + 250 – 650 m di atas permukaan laut dan membentang dari Utara ke Selatan. Luas Kota Sawahlunto 27.344,7 ha atau sekitar 0,65% dari luas Propinsi Sumatera Barat,merupakan kota nomor dua terluas setelah Kota Padang.

Memiliki kandungan Batubara kualitas tinggi dalam jumlah yang besar sehingga menyebabkan kota ini menjadi salah satu kota strategis di wilayah Sumatra.

Kandungan batubara ini memiliki volume yang diperkirakan cukup hingga 200 tahun masa eksplorasi (ditemukan tahun 1888). Kandungan batubara ini yang kemudian menjadi titik awal berkembangan kawasan permukiman.

Kandungan batubara sudah tidak mencapai skala ekonomi yang mencukupi, sehingga perusahaan tambang kemudian tidak melanjutkan kegiatan pertambangan di kota Sawahlunto

Saat ini banyak bekas-bekas galian tambang yang masih tersisa disertai dengan beberapa kegiatan pertambangan liar.

Human

Didominasi oleh pekerja tambang baik yang bekerja sebagai pegawai ataupun pekerja paksa

Penduduk banyak berasal dari luar wilayah kota Sawahlunto yang didatangkan dari Jawa untuk bekerja di perusahaan tambang

Sebagian besar pekerja yang didatangkan dari Jawa adalah para tahanan yang dijadikan pekerja paksa. Orang-orang tersebut di sebut “orang rantai”.

Saat ini penduduk Kota Sawahlunto berasal dari multi etnis yang sebagian besar merupakan keturunan dari para pekerja tambang di masa lampau. Sebagian besar pekerja di dominasi oleh Pegawai negeri, pedagang dan petani.

Shells

Perumahan terbagi menjadi beberapa segmen

1. Perumahan untuk pegawai tambang tingkat manajemen yang didominasi oleh Bangsa Belanda

2. Perumahan untuk pegawai administrasi baik Bangsa Belanda ataupun Pribumi (baik berasal dari Sumatra Barat atau dari luar Pulau)

3. Perumahan untuk pekerja yang bukan berasal dari tahanan

4. Barak untuk pekerja kasar yang berasal dari tahanan yang datang dari pulau Jawa

Pada awal Kota Sawahlunto berdiri hanya dijumpai dua macam gaya arsitektur yaitu arsitektur “kolonial” atau disebut juga gaya “indis” dan arsitektur pecinaan.

Selain bangunan perumahan, beberapa bangunan yang berkembang seperti kantor perusahaan tambang, pabrik pengolahan batubara, stasiun kereta api, dapur umum dan beberapa sarana pendukung lainnya, seperti drainase, air bersih, pengolahan sampah.

Seluruh bangunan dan sarana dibangun untuk mendukung kegiatan pertambangan dan karyawan yang bekerja di perusahaan tambang

Struktur bangunan dan sarana pendukung yang ada memanfaatkan infrastruktur yang dibangun sebelumnya dengan beberapa bangunan menyesuaikan dengan perkembangan gaya arsitektural yang saat ini ada di Indonesia.

Saat ini kantong-kantong perumahan tidak terbagi lagi dan cenderung menyebar sesuai dengan perkembangan kota. Bangunan-bangunan klasik bekas kegiatan tambang banyak yang diubah menjadi kegiatan wisata seperti museum, hotel, gedung pertemuan warga, dan lain sebagainya.

Untuk perumahan warga, tersebar hingga keluar kota inti sampai batas wilayah kota Sawahlunto, terutama penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Adanya kegiatan-kegiatan pariwisata juga memicu pola perumahan yang berbeda dan mendekati kawasan-kawasan wisata tersebut.

Sarana prasarana pendukung telah mengalami peningkatan kapasitas sesuai dengan perkembangan kota, seperti rencana rehabilitasi pembangunan Pasar Sawahlunto dan lain sebagainya

Society

Pada jaman sebelum kemerdekaan, Pranata sosial dan norma yang dibangun di Masyarakat pada awalnya ditujukan untuk kegiatan pertambangan, sehingga tercipta kelas-kelas dalam masyarakat serta stigma-stigma yang mengarah pada hak-hak tertentu, seperti sebutan orang rantai (untuk pekerja tambang yang berasal dari jawa). Di Sawahlunto, pranata sosial yang terbentuk relatif berbeda dengan wilayah Sumatra Barat lainnya. Hal ini disebabkan kehidupan kota yang dibentuk berdasarkan kebudayaan multi kultur dari penduduknya

Kelompok masyarakat yang dibentuk paska jaman kemerdekaan hanya terdiri dari pekerja dan non pekerja perusahaan tambang yang tidak disertai dengan pemberian hak khusus yang mengarah ke hak politik

Hubungan antara kelompok masyarakat atau individu relatif dibangun berdasarkan kepentingan industri tambang

Pembagian kelas disertai dengan hak-hak khusus dan seringkali ditambah dengan stigma-stigma yang menempel

Kondisi ini seringkali menimbulkan konflik sosial dan kesenjangan

Pada jaman kemerdekaan, kelompok-kelompok masyarakat yang ada lebih cair dan egaliter walaupun ada kategorisasi antara pekerja perusahaan tambang dengan non-pekerja perusahaan tambang. Kategorisasi ini tidak disertai dengan diskriminasi

Setelah kegiatan pertambangan, selesai kelompok-kelompok masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok profesi atau wilayah

Relatif tidak terjadi pembagian kelas yang bersifat vertical yang disertai hak-hak khusus.

Hubungan antar kelompok ataupun antar individu relatif tidak ada kesenjangan yang signifikan.

Hubungan yang terjadi bersifat fungsional dan sesuai kepentingan masing-masing individu yang di sesuaikan dengan profesi atau wilayah geografisnya.

Networks

Untuk memperlancar arus distribusi barang, Pemerintah Belanda membangun Jalur Kereta api yang menghubungkan Kota Sawahlunto dan Pelabuhan Teluk Bayur.

Selain itu telepon mulai masuk ke dalam kota untuk meningkatkan arus informasi dari dan keluar kota Sawahlunto, terutama untuk kepentingan kegiatan pertambangan yang dilakukan perusahaan Belanda.

Infrastruktur kereta api yang dibangun membentuk struktur dan pola ruang tidak hanya untuk Kota Sawahluunto melainkan Provinsi Sumatra Barat secara umum

Seiring dengan terhentinya kegiatan pertambangan, maka pada akhir tahun 1990an kegiatan kereta api dihentikan karena volume nya yang berkurang.

Kota Sawahlunto dilalui oleh Jalur Lintas Timur Sumatra yang menghubungkan wilayah Utara Sumatra hingga ke wilayah Selatan dan menjadi jalur logistic barang-barang kebutuhan pokok dari Pulau Jawa.

Jaringan telekomunikasi dan listrik berkembang seiring dengan perkembangan jaman yang berperan besar dalam meningkatkan fungsi perkotaan

Dari analisa di atas, dapat diamati bahwasanya perubahan fungsi awal kota, terutama yang bersifat ekstrem seperti Kota Sawahlunto, akan diikuti perubahan secara fisik ataupun sosial yang mempengaruhi kualitas permukiman. Perubahan-perubahan tersebut disesuaikan untuk menyesuaikan kepentingan manusia dalam bertempat tinggal di kawasan permukiman.

Kasus serupa seperti Sawahlunto juga dapat diamati pada Kawasah Ruhr di Jerman. Dimana fungsi kota sebagai kota tambang batubara diganti ke fungsi perdagangan jasa dan pariwisata. Secara fisik infrastruktur dan kegiatan perekonomian terjadi perubahan yang signifikan.Penghentian kegiatan pertambangan menyebabkan tingginya angka pengangguran, pertumbuhan ekonomi negatif, kerusakan lingkungan akibat kegiatan paska tambang dan lain sebagainya. Situasi tersebutlah yang kemudian menyebabkan terjadinya transformasi sebagaimana yang terjadi di Kota Sawahlunto

Perkembangan kota yang terjadi paska era pertambangan, terutama yang diakibatkan oleh perkembangan kegiatan pariwisata, menyebabkan perubahan guna lahan di kota Sawahlunto. Perubahan yang signifikan terjadi untuk kegiatan pertanian dan perkebunan skala kecil yang dikembangkan oleh penduduk. Peningkatan kegiatan pertanian dan perkebunan salah satunya disebabkan oleh kebijakan Pemerintah Kota Sawahlunto yang menggerakan sektor pertanian melalui program pemberian bibit gratis, dan lain sebagainya

Visi dari Pemerintah Kota Sawahlunto adalah “Terwujudnya Kota Sawahlunto Menjadi Kota Wisata dan Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan Untuk Menuju Kota Yang Berbudaya dan Sejahtera”. Dengan misi dari Kota Sawalunto adalah

v Memelihara dan Mengamalkan Nilai-Nilai Dasar Agama dan Adat Istiadat Serta Menciptakan Kondisi Yang Kondusif Ditengah-Tengah Masyarakat.

v Menumbuh Kembangkan Sektor Riil Dengan Menitik Beratkan Pada Ekonomi Kerakyatan.

v Meningkatkan Kualitas Aparatur dan Masyarakat

v Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Sarana Prasarana Dasar.

v Mengembangkan Kepariwisataan

Dengan visi misi tersebut, maka Pemerintah Kota Sawahlunto secara massif melaksanakan berbagai program dan kegiatan yang diperuntukkan untuk melakukan revitalisasi kawasan yang ditujukan untuk mengembangkan Kota Sawahlunto sebagai destinasi utama Pariwisata di Sumatra Barat. Berbagai kegiatan yang dilakukan seperti pembangunan water boom, pembangunan kebun binatang, pembangunan arena pacuan kuda, merubah beberapa bangunan kuno menjadi tempat wisata dan museum, dan lain sebagainya.

Apabila memperhatikan bagian-bagian dari permukiman sebagaimana yang disampaikan oleh Doxiadis, yaitu central, Homogenous, Circulatory dan special part, maka terjadi pergeseran-pergeseran struktur ruang yang diakibatkan oleh perkembangan aktivitas manusia dan kegiatan ekonomi yang mendominasi Kota Sawahlunto.

Pada gambar dibawah terlihat struktur permukiman kota Sawahlunto di Awal abad 20, dimana terdiri dari beberapa klaster yang dipisahkan berdasarkan fungsi dan segregasi sosial yang diciptakan. Pada gambar dibawah terlihat pusat kota, yang penduduknya terdiri dari pegawai administrasi, terletak jauh dengan perumahan pekerja tambang, baik yang berasal dari Jawa atau wilayah Sumatra Barat itu sendiri.


Berdasarkan bagian permukiman yang disampaikan oleh Doxiadis, maka dapat dianalisa perubahan-perubahan struktur ruang di Kota Sawahlunto masa lalu dengan masa kini dengan memperhatikan fungsi-fungsi yang dahulu berkembang dan saat ini berlangsung.n

Sawahlunto Masa Lampau

Sawahlunto Masa Kini

Central Part

Pusat kota tua merupakan kantor pusat perusahaan tambang dari sejak jaman belanda hingga jaman kemerdekaan. Selain itu terdapat kegiatan komersil untuk memenuhi kebutuhan karyawan ataupun perusahaan tambang

Pusat kota yang terpusat disebabkan kebutuhan untuk menjalankan kegiatan pertambangan, sementara kegiatan tambang dahulu dilaksanakan di wilayah sekitar pusat kota

Kegiatan yang berkembang di pusat kota banyak berkaitan dengan kepentingan manajemen perusahan tambang dan layanan terkait seperti rumah sakit, pendidikan dan lain-lain.

Pusat kota Sawahlunto saat ini terdiri dari bagian kota tua Sawahlunto dan pusat Pemerintahan.

Dari lokasi, tidak terjadi perubahan lokasi dari pusat kota Sawahlunto. Perkembangan kota menyebabkan berubahnya fungsi serta pola interaksi penduduk yang tinggal di pusat kota. Fungsi manajemen perusahaan bergeser menjadi fungsi manajemen pemerintahan Kota Sawahlunto.

Pusat kota yang awalnya hanya diperuntukkan untuk orang Belanda dan Pegawai yang notabene merupakan warga kelas satu, saat ini dapat ditempati secara tanpa ada segregasi sosial berdasarkan ras dan kelas ekonomi.

Kegiatan yang berkembang selain fungsi pemerintahan adalah kegiatan pariwisata yang memanfaatkan banyaknya bangunan-bangunan kuno bekas kantor tambang yang dimanfaatkan sebagai museum dan hotel.

Homogenous

Bagian permukiman ini didominasi oleh kegiatan eksplorasi tambang batubara yang berada di sekitar Kota Inti Sawahlunto. Pada awal berdirinya kota Sawahlunto, kegiatan pertambangan menguasai sebagian besar wilayah. Pada masa itu, relatif tidak ada kegiatan lain selain kegiatan pertambangan. Pada gambar 6 terlihat perbandingan luasan kegiatan pertambangan dibandingkan dengan kegiatan lain yang ada di Kota Sawahlunto

Bagian permukiman ini didominasi oleh kegiatan pertanian/perkebunan yang dilakukan oleh Masyarakat. perkembangan kegiatan ini salah satunya disebabkan oleh Kebijakan Pemerintah Kota Sawahlunto yang mendorong kegiatan pertanian/perkebunan oleh Masyarakat melalui pemberian bibit gratis, pembangunan jalan produksi dan lain sebagainya.

Data RTRW terakhir (Gambar 3) menunjukkan kegiatan perkebunan campuran mengambil porsi hingga 35 % dari Kota Sawahlunto.

Circulatory

Jaringan jalan dalam pusat kota dibentuk oleh bangunan-bangunan yang mendukung kegiatan pertambangan. Jalan-jalan yang dibangun mengikuti kontur wilayah yang berbukit sehingga tidak memungkinkan dibangung dengan luas yang lebar.

Jaringan ke luar wilayah ditopang oleh jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dan Kota Padang (pelabuhan Teluk Bayur). Jalur kereta api pada masa itu menjadi jalur utama dan strategis di wilayah Sumatra Barat

Rel Kereta Api dan Stasiun Kereta Api pada awalnya mendukung fungsi distribusi barang dan orang di Sawahlunto. Pada saat kegiatan tambang dihentikan, maka otomatis jaringan Kereta Api tidak berfungsi sebagaimana dirancang di awal yaitu simpul transportasi kota Sawahlunto. Saat ini kereta Api dan Stasiun KA berubah fungsinya menjadi kegiatan pariwisata.

Jaringan Jalan internal dan eksternal di banyak dipengaruhi oleh letak dan posisi kota Sawahlunto yang berada di Jalur Lintas Sumatra.

Transformasi fungsi pertambangan menjadi Pariwisata tidak terlalu signifikan mempengaruhi pola jaringan jalan.

Special Part

Pada zaman pra kemerdekaan, yang termasuk dalam bagian ini adalah barak untuk para pekerja yang berasal dari tahanan dari Pulau Jawa. Dari gambar 6 terlihat bahwasanya bagian ini diletakkan jauh terpisah dengan bagian pusat kota.

Hal ini ditujukan agar tidak terjadi percampuran kegiatan antara pekerja paksa dengan karyawan perusahaan tambang dan keluarganya. Segregasi sosial seperti ini sangat umum terjadi pada kota-kota yang dibangun oleh kolonialisme.

Saat ini banyak terjadi perubahan fungsi kekhususan dari bagian kota. Perumahan pekerja tambang tidak menjadi bagian khusus seiring dengan tidak adanya konsep segregasi sosial pada masa sekarang.

Bagian kota yang dianggap khusus adalah kegiatan-kegiatan yang diperuntukkan untuk kegiatan pariwisata, seperti Museum Kereta Api, Museum Gudang Ransoem, Waterboom, Kebun Binatang dan lain sebagainya.

Kekhususan ini terlihat dari fisik bangunan ataupun fungsi strategis dari bagian tersebut terhadap perekonomian Kota Sawahlunto

Mengamati Kota Sawahlunto membuktikan bahwasanya sebuah Permukiman tidak bisa dipandang sebagai sebuah satuan kaku yang tidak beradaptasi. Transformasi Kota Sawahlunto menunjukkan Kota menjadi sangat dinamis dan organis dalam menghadapi kebutuhan jaman dan masyarakatnya. Transformasi fungsi tersebut merubah kota baik secara fisik dan sosial sesuai dengan kebutuhan warga kota. Dengan memanfaatkan elemen permukiman yang disampaikan oleh Doxiadis maka dapat terlihat perubahan-perubahan yang terjadi di Kota Sawahlunto yang berdampak pada aspek politik, fisik, sosial dan budaya dari Permukiman tersebut.

Daftar Referensi

1. Doxiadis, C.A. Ekistic: Introduction to the Science of Human Settlement. London: Hutchinson, 1968.

2. Martokusumo, Dr.-Ing. Ir. Widjaja. 2008. The Ex-Coal Mining City of Sawahlunto Revisited: Notions on Revitalization, Conservation and Urban Development. Makalah dipresentasikan pada

3. RPJMD Kota Sawahlunto 2008-2013

4. RTRW Kota Sawahlunto 2010-2030

5. Sasskia Sassen, et al.2009. Human Settlement Development. UNESCO-EOLSS

6. Sejarah Kota Sawahlunto. http://www.sawahluntokota.go.id/

7. Webber, Max. 1966. The City.

Comments:
    Copyright © 2007 Catur