Krisis Literatur Sejarah Kota Indonesia
Wednesday, September 18, 2013
Saat ini saya sedang melakukan penelitian terhadap kota Sawahlunto sebagai bagian dari tesis saya. Untuk itu saya harus melakukan penelusuran terhadap dokumentasi tertulis ataupun pengamatan terhadap artefak yang masih tersisa di kota tersebut. Wawancara terhadap orang-orang yang pernah tinggal di Sawahlunto pun saya lakukan. Untuk sebuah kota yang baru berumur kurang dari 150 tahun yang berdiri di jaman modern, pencarian dokumentasi  pun terasa sangat  sulit apalagi kemudian saya mengalami kendala bahasa. Iya kendala bahasa, karena sebagian besar literature kunci yang saya temukan menggunakan bahasa Belanda…

Situasi ini kemudian saya refleksikan kepada perjalanan sejarah kota-kota lain di Indonesia. Sulit bagi saya sebagai penggemar urban area untuk mengetahui sejarah kota-kota di Indonesia terutama yang ada di jaman sebelum kolonial. Informasi yang valid dan bisa diandalkan sangat sulit didapatkan untuk kita mendapat gambaran mengenai kehidupan berkota di Indonesia. Pada salah satu literature yang ditulis oleh Orang Belanda (yang saya lupa namanya) “Kota di Indonesia adalah manifestasi fisik dari pengabdian kepada Dewata”. Berdasarkan hal tersebut saya tentunya membayangkan kota-kota di Indonesia pada masa lalu tentunya memiliki keindahan yang baik di jamannya. Sayangnya informasi mengenai itu sangat minim sekali..

Contohnya Kota Majapahit.. Saya pernah berdebat panjang dengan rekan saya di Kantor mengenai “apa benar Majapahit sebesar sebagaimana yang diceritakan?”. Menurut teman saya yang arsitek itu, tidak ada bukti fisik atau pun sumber informasi tertulis yang bisa dipercaya mengenai kehebatan Majapahit. Bahkan artefak yang ada di trowulan sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah mengenai kebenaran posisi Kota Majapahit sebagaimana yang disebutkan tadi. Kita saat ini hanya mengandalkan tulisan Empu Prapanca dalam Negara Kertagama. Secara bebas kita bisa berpendapat apakah tulisan dan kredibilitasnya bisa kita percaya.. saya bukan ahli sejarah jadi saya tidak mau menjawab pertanyaan itu.

Contoh lain adalah keberadaan kerajaan Siliwangi. Saat ini keberadaan kerajaan tersebut mengandalkan prasasti dan dokumentasi yang amat terbatas dari para petualang Cina. Hingga saat ini tidak ada bukti fisik mengenai keberadaan pusat kerajaan Siliwangi yang tentunya kita bayangkan sebagai urban Area dan informasi mengenai siliwangi yang lengkap yang berasal dari literatur yang ditulis pada jaman itu…

Hal ini kemudian menggugah pemikiran saya.. ada apa dengan sejarah kota kita? Apa yang terjadi. Kenapa mengetahui sejarah kota, asal muasal kita, jati diri kita menjadi hal yang sulit sekali.. Salah satu professor di Kampus saya berkata kalau memang ingin mengambil Doktor soal kota di Indonesia harus bisa 2 bahasa lain selain bahasa Inggris dan Indonesia. Karena data dan informasi yang lengkap pasti dalam bahasa asing dan tersimpan rapi diperpustkaan di Amerika dan Eropa.
Kota sebagai bagian dari permukiman sebagian besar  terbentuk adanya kepentingan yang perlu di akomodir, seperti keagamaan, perniagaan, pusat pendidikan dan lain sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu fungsi-fungsi awal dapat berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan kota dan warganya dari masa ke masa. Melakukan intrepetasi perubahan fungsi kota dan perkembangannya telah menjadi topik yang menjadi bidang riset oleh berbagai bidang keilmuan dari tahun ke tahun. Setiap orang ataupun ahli memaknai perkembangan kota berdasarkan masing-masing pengalaman yang dialami saat berinteraksi dengan lingkungan perkotaan serta banyak dipengaruhi oleh dimensi keimuan atau ideologi yang melatarbelakangi

Pemahaman sederhana saya terhadap situasi ini adalah; Pertama budaya literer bangsa ini yang masih sangat rendah. Mungkin orang antropolog yang bisa menjelaskan kepada saya kenapa hal ini terjadi di masa lalu. Hal yang sama di Mesir dan Cina kenapa tidak terjadi di Indonesia apabila dikaitkan dengan konteks budaya aksara dan menulis. Akhirnya pada masa itu orangmerasa tidak perlu melakukan dokumentasi yang rapi mengenai peristiwa dan momen sejarah kerajaan dari waktu ke waktu. Akhirnya pun kita semua meraba-raba.

Yang kedua saya rasa (perasaaan loh bukan data) hal ini dapat dikaitkan dengan pola-pola ekspansi ataupun agresi militer yang dilaksanakan oleh Kerajaan masa lalu. Saat sebuah kerajaan mengalami kemunduran sehingga dinyatakan diakuisisi oleh Kerajaan lain (baik paksaan atau sukarela), maka hal itu diikuti dengan migrasi besar-besaran penduduk keluar dari kotapraja ataupun pembumi hangusan wilayah beserta seluruh artefaknya.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Tentunya hal yang separah itu tidak akan terjadi karena tentunya kemajuan informasi dan teknologi memungkinkan kita menyimpan data di cloud computing. Sehingga rekaman peristiwa hingga 20 tahun ke belakang dapat dengn mudah diakses. Problemnya dengan minimnya kapasitas budaya literer orang Indonesia media yang ada mungkin kurang dioptimalkan.

Kita perlu melakukan kajian lebih banyak lagi mengenai kota-kota di Indonesia. Budaya literer menjadi garada terdepan dari proses kajian dan dokumentasi Sejarah kota di Indonesia. Karena apabila mengacu pada pendapat sebelumnya. Pembangunan dan arah trend kota sangat ditentukan sekali dengan konteks dan ideologyi yang saat itu  berkembang. Maka memahami sejarah kota memberikan informasi mengenai keyakinan bersama yang saat itu dibentuk antara pimpinan dengan kawulannya. Akhirnya memberikan pemahaman mengenai budaya dan asal usul kita berada.

Studi mengenai perkembangan kota-kota di Indonesia sangat menarik disebabkan kota di Indonesia memiliki spektrum sejarah yang sangat bervariasi yang sangat ditentukan oleh karakter geografis wilayah, kondisi sosial politik yang terjadi dan sumber daya yang dimiliki. Keberadaan kota di Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban masyarakat dimana inovasi dan pembangunan bergerak Peta politik, perkembangan ideologi  dan kemajuan ilmu pengetahuan memiliki pengaruh dalam membentuk keberadaan ruang-ruang kota di Indonesia. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Frisby (2007)[1] sebagai “ city was not a spatial entity with sociological consequences, but a sociological entity that is formed spatially”. Karakter kota-kota di berbagai penjuru Nusantara terbentuk berdasar kepada pengalaman ruang yang dialami oleh masyarakat dan wilayah. Interaksi antara kepentingan ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan termanifestasi dalam ruang-ruang yang ada dalam kota

Saat ini saya sedang mengembangkan sebuah ide untuk meningkatkan sumber informasi dan dokumentasi mengenai kota-kota di Indonesia. Sehingga apa yang kemudian menjadi urban legend atau myth menjadi urban information yang valid dan bisa dipergunakan bersama. Medianya bagaimana? Saya sedang cari ide segar…

Saya berpendapat apa yang terjadi saat ini tidak mungkin lepas dari konteks apa yang dilalui di masa lalu. Tentunya ada hal-hal yang berubah terkait dengan teknologi, akan tetapi perilaku warga dan perilaku ruang tentunya memiliki pakem sendiri yang berasal dari Sejarah panjang sebuah kota

-catur-
(belajar jadi) Pemerhati Kota



[1]Frisby, D. 2007.City Scapes of Modernity. Cambridge; Polity.


Comments:
    Globalisasi dan Kemanusiaan.. Belajar dari “Internship”
    Friday, September 13, 2013


    Mudah2an yang baca tulisan ini sudah nonton film internship. Saya kebetulan nonton di pesawat saat kemarin menempuh perjalanan tugas ke seberang pulau jawa.
    Singkatnya bercerita bagaimana 2 orang sahabat yang pengangguran mendapatkan pekerjaan magang di Google. Dua orang yang cukup berumur dengan pengetahuan soal teknoogi rendah berkompetisi dengan ratusan tenaga kerja muda yang melek IT untuk bekerja di salah satu perusahaan IT terkemuka. Akhirnya tentu happy ending, dimana dua orang tersebut mendapatkan pekerjaan tetap di Google dengan mengedepankan nilai-nilai interaksi manusia dalam bekerja. Sesuatu yang dianggap berharga dan nyaris tidak ada di Perusahaan Google yang hubungannya dengan IT dan gadget2 canggih. 
    Walau saya tidak menonton film itu secara full karena film di Penerbangan sudah di edit sedemikian rupa supaya gak lama2 dan membuang hal-hal yang dianggap kurang penting bagi para penumpang. 
    Film itu dari segi alur cerita dan plot memang bisa dibilang biasa. tidak ada sesuatu yang istimewa secara teknik ataupun cerita yang bisa dibilang istimewa. Digawangi oleh Vince Vaughn dan Owen Wilson yang merupakan dua aktor kawakan, so akting bukan menjadi satu masalah. didukung oleh aktor2 muda yang juga tidak terlalu menampilkan karakter dalam aktingnya.. ini standar film drama  yang bisa dilupakan setelah 5 jam menonton
    Tapi ada beberapa hal yang menurut saya cukup menarik untuk disimak kalau2 para pembaca blog ini (yang saya yakin tidak seberapa) menonton film ini. dan juga apakah anda punya perasaan yang sama dengan saya atau saya yang terlalu serius saja menonton

    1.  Film tersebut seperti mengingatkan kita terhadap visi Industri film amerika dari masa ke masa. It's not just about entertain.. tapi ada misi ekonomi pengukuhan Brand Google kepada Dunia.. INi google JEK… barang amerika… and they proud of it.. Sama seperti ketika dahulu amerika memperkenalkan Pepsi, Mc Donald, Nike dan Marlboro dalam bentuk film2 tahun 80-90an. Film bagi orang amerika adalah alat propaganda produk amerika kepada dunia untuk mengukuhkan brand mereka di pasar global. Dan jangan lupakan tentu bagaimana film amerika memperkenalkan Macbook melalui laptop yang dipegang oleh para aktornya. atau Window Mobile Phone di Film Hawai Five O3 dan NCIS Los Angeles. ya itu lah amerika.. Dan mereka melakukannya lagi dengan cukup baik di Film Internship.. Google yang hanya dikenal orang sebagai search engine dan Android Phone dibongkar dapurnya. diperkenalkan environment kerjanya. bentuk kantornya. dan tentu filosofinya bahwa Google adalah mengenai reaching people melalui tools yang dikembangkan.. dan tentunya biar orang tidak lupa walau Samsung Dari Korea, OS nya tetep buatan Industri Amerika (walau bukan orang amerika yang kerja disana)
    2.  Sebuah ironi ditunjukkan oleh film itu. Dimana globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi seringkali menyebabkan kita semua menyederhanakan masalah dan hubungan manusia melalui angka2 dan tabel diagram yang statik. Lihat bagaimana anak2 sekarang senang merekam acara ngebut2an dan diupload di Youtube. interaksi manusia disimplifikasi melalui youtube, twitter, facebook dan social media lainnya.  Banyak dari kita (mungkin juga saya salah satunya) melupakan bahwa social media itu hanya alat saja. yang digunakan untuk memenuhi tujuan. Seringkali social media menjadi tujuan dari berkehidupan. Status sosial ditentukan dari berapa banyak followe atau seberapa komentar kita di repath oleh orang lain..mungkin di Indonesia kondisinya tidak seburuk itu, karena budaya guyub yang menjadi karakter orang Indonesia. tapi 20-30 tahun lagi apakah masih menjadi hal yang pentng untuk berkumpul dan bertemu untuk bertukar pikiran…film Internship berusaha memngingatkan kita semua nilai-nilai kemanusiaan melalui instrumen paling tidak manusiawi yaitu  google. Ada joke dulu "Google adalah Tuhan bagi manusia masa kini, karena dia selalu menjawab pertanyaan dan permintaan Ummatnya secara real time"… dan ironi itu dijawab oleh Google melalui endorsenya terhadap film ini. bahwa google masih punya kepedulian terhadap interaksi yang lebih luas (tidak seperti pesaingnya Windows dan Apple yang eksklusif)..

    Dua hal itu yang muncul di kepala saya sepuluh menit setelah nonton film itu. Sebelum kemudian Suara kapten masuk ke earphone saya "Prepare for landing"….

    -Catur-

    Btw instrumen yang saya pakai ini pun punyanya Google

    Sumber foto 20th Century Fox




    Comments:
      Copyright © 2007 Catur