Membangun Bogor Tidak Bisa Sembarangan!
Sunday, April 05, 2015
Membangun Bogor Tidak Bisa Sembarangan!

Penulis : Arimbi Ramadhiani | Kamis, 2 April 2015 | 19:00 WIB
BOGOR, KOMPAS.com - Pembangunan properti besar-besaran yang sudah masif terjadi di kota-kota pinggiran macam Depok, Bogor, Tangerang, menimbulkan kekhawatiran. Di Bogor khususnya, masalah pembangunan cukup dilematis karena dahulu kota ini didesain oleh Belanda untuk menjadi kota hutan atau taman.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Urbanisme dan Liveable City Ikatan Ahli Perencanaan Indoensia (IAP), Elkana Catur, pembangunan di Bogor tidak bisa dihindari, tetapi harus tetap menonjolkan integrasi hutan atau taman. 

"Topografi wilayah yang ada di Bogor, sudah begitu adanya, kemiringannya sulit untuk diubah," ujar Catur kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2015).

Selama ini, kata Catur, untuk membangun sejumlah gedung di Bogor terlihat adanya upaya untuk perubahan fungsi atau guna lahan. Cepatnya perkembangan pembangunan juga dinilai tidak memperhatikan bagaimana tata kota yang sesungguhnya, dan bagaimana fungsi lahan di daerah-daerah tertentu.

Ia melanjutkan, salah satu pembangunan yang perlu perhatian khusus adalah Hotel Amaroossa yang letaknya persis di samping Tugu Kujang. Hotel ini sempat ditolak oleh beberapa pihak khususnya warga asli Bogor karena mengganggu keindahan tugu, mulai dari desain hotel yang mencolok hingga tinggi bangunan yang melebihi Tugu Kujang.

"Kota ini didesain agar mempunyai identitas spesifik sebagai tengara. Jangan sampai atas nama investasi, karakter inti dan ciri khasnya justru menghilang," jelas Catur.

Selain memiliki identitas, tambah dia, Kota Bogor juga memiliki dataran atau topografi yang khas yaitu lereng curam dan pegunungan. Dengan demikian, pembangunan gedung apa pun harus memikirkan aspek topografi ini.

Menurut Catur, Bogor memiliki karakter geografis yang mau tidak mau membatasi pembangunan gedung. Berbeda bengan Jakarta yang cenderung datar.

"Bogor tidak bisa sembarangan dibangun gedung. Jangan sampai dipaksakan, karena ada kemiringan tertentu," kata Catur.

Ia menyarankan, jika memang pemerintah kota membutuhkan pemasukan dari investasi, jangan sampai malah merusak kawasan tersebut. Pengembang dan pemerintah harus berdiskusi, bangunan seperti apa yang sejalan dengan identitas Bogor sebagai penyangga Jakarta. 

"Pembangun juga harus mempertimbangkan batasan-batasan, misalnya koefisien dasar bangunan sebelum mendesain gedung-gedung tinggi," tandas Elkana

.
Comments:
    Copyright © 2007 Catur