What Is Your Mahameru?
Monday, November 30, 2015
Mahameru berikan damainya, didalam beku ‘Arcapada”
Mahameru Sebuah Legenda Tersisa, Puncak Abadi Para dewa…
(Mahameru, Dewa 19)

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat perbincangan serius dengan seorang kawan yang ternyata penggemar lama Dewa 19. Kenapa saya sebut lama? Karena referensi yang dimilikinya kebanyakan adalah lagu-lagu Dewa sebelum album Bintang Lima saat formasinya masih formasi old school sekali.
Salah satu lagu yang kami diskusikan adalah lagu Mahameru yang berasal dari album kedua Dewa 19 bersama dengan hits lagu “Aku Milikmu”. Lagu tersebut menggunakan melodi yang cukup progresif di zamannya, diperkuat dengan kombinasi lirik yang menggabungkan kata-kata yang sederhana diselingi dengan kata-kata puitis ala Jalaludin Rumi. i. Mencermati lagu itu, kita seperti dibawa pada pengalaman yang dirasakan para anggota Band tersebut saat mendaki puncak Mahameru. Hal yang lumrah bagi band yang terbentuk di Surabaya, dimana anak muda disana pernah atau  punya cita-cita mendaki Puncak Mahameru.
Di bagian lain, saya menjadi teringat buku 5 Cm Karya Dhony Dirgantoro. Kisah perjalanan 5 orang sahabat dalam mencari jati diri dan identitas masing-masing. Utamanya bagaimana tiap individu mendefinisikan dan mencari mimpi masing-masing melalui pendakian puncak Mahameru. Terlepas dari kisah penuturan yang cukup menarik, baik film dan bukunya pada beberapa bagian terasa amat lebay. Bukunya terselamatkan dengan memainkan romantika era 90an dimana saya rasa sebagian besar pembacanya berasal.
Berdasarkan buku itu sebetulnya saya punya pertanyaan yang cukup menarik buat kita semua “ What is your Mahameru?”.
Menurut saya semua orang punya Mahameru nya masing-masing. Mimpi, obsesi, ataupun cita-cita yang menjadi dasar bagi tiap orang beraktivitas baik di kehidupan professional ataupun personal. Cita-cita dapat bersifat materiil ataupun imateriil yang menjadi amunisi bagi tiap orang mengejar impiannya.
Anak muda below 30 apalagi below 25 biasanya punya segudang cita-cita dan  obsesi yang akhirnya mendorog  segmen usia tersebut lebih dinamis, memiliki determinasi lebih serta cenderung memiliki inisiatif-inisiatif baru.
Generasi saya di sisi lain, saat ini sedang dalam proses transisi. Transisi  menuju lebiih pragmatis saat menyadari bahwasanya ada beberapa mimpi yang harus di skip, ada beberapa yang masih di kejar dalam kurun waktu tertentu karena di umur 40 nanti adalah masa dimana kita mematangkan hidup masa tua kita nanti.
Saya sebetulnya bukan tipe yang melankolis melakukan segmentasi usia dan lain sebagainya. Tapi mungkin tahun ini tahun yang penuh kontemplasi buat saya. Secara tidak sadar saya mulai mereview kembali checklist “mahameru” saya dan mulai melakukan prioritas mengingat sumber daya waktu yang semakin terbatas dan batasan-batasan yang cukup banyak.
Energi yang lahir dari “mahameru” bukan sesuatu yang sebetulnya bisa diremehkan. Karena pada beberapa momen, energy itu secara sadar ataupun tidak sadar menggerakkan seluruh indra dan kemampuan kita dalam mewujudkannya. Kali ya ???
Pernyataan yang diikuti dengan pertanyaan.. karena memang saya tidak memiliki kemampuan yang cukup sahih untuk bisa menjustifikasi pernyataan tersebut menjadi satu kesimpulan yang umum.  Akan tetapi memang begitu yang dikatakan pa Ustadz atau para motivator sekelas Mario Teguh (yang mana saya juga tidak pernah nonton acaranya).
Jadi melalui tulisan ini sebetulnya saya ingin mengajak semua yang kebetulan sial baca tulisan ini untuk mereview kembali “mahameru” dari masing-masing kalian. Lalu saya sih mengajak kita untuk sama-sama mengejar mimpi itu. Kalaupun anda menyerah karena ada keterbatasan yang harus ditemui. Saya mengajak anda untuk bersyukur. Karena anda sudah pernah punya “mahameru”.




Comments:
    Copyright © 2007 Catur